Rabu malam, Evan pulang pukul tujuh. Itu saja sudah aneh. Lebih aneh lagi, ia meminta Mbok Sarni menginap semalam di rumah saudaranya di kampung sebelah, ongkosnya ia tanggung sendiri. Pak Man yang sedang menyiram tanaman pun disuruh beristirahat. Mbok Sarni tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menata dua piring di meja makan, menutup lauk dengan tudung saji, lalu pamit dengan wajah cemas.
Karina turun dari lantai dua dengan rambut masih basah. Ia melihat meja yang hanya ditata untuk dua orang, lalu melihat suaminya yang duduk dengan kedua tangan di atas meja. Ponsel Evan tertelungkup di samping piring.
"Ada apa, Mas? Mbok ke mana?"
"Aku suruh pulang. Aku perlu bicara tanpa ada orang lain."
Karina menarik kursi dan duduk perlahan. "Kalau soal uang tambahan untuk Mama, jawabanku tetap."
"Bukan soal uang." Evan menarik napas panjang. "Bukan juga soal Mama. Ini soal aku."
Hening sejenak. Jam dinding berdetak. Di luar, suara motor tetangga lewat lalu menghilang. Karina menunggu. Ia sudah terlalu sering menunggu kalimat dari mulut suaminya, tetapi malam ini firasatnya mengatakan bahwa yang akan datang bukan kalimat biasa.
"Ada Almira Safitri. Staf di kantorku," Evan memulai. "Kamu sudah dengar namanya dari aku, waktu Mama datang. Yang belum kamu dengar, beberapa minggu ini aku mendekatinya. Di luar urusan kantor."
Karina tidak memotong. Jemarinya dingin di tepi meja.
"Aku berniat menikah lagi, Rin. Aku ingin punya keturunan." Evan akhirnya menatap mata istrinya. "Aku tidak mau kamu mendengar ini dari orang lain."
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti piring yang pecah, hanya saja tanpa bunyi. Yang tersisa sunyi yang terlalu panjang. Karina duduk diam dengan jemari yang masih menempel di tepi meja. Ia memandangi suaminya seolah sedang memastikan bahwa laki-laki di depannya benar-benar laki-laki yang dulu memberinya bunga di depan gerbang sekolah.
"Ulangi, Mas," katanya akhirnya. "Tanpa memperhalus. Aku tidak mau besok Mas bilang aku salah dengar."
"Aku berniat menikahi Almira. Aku ingin keturunan."
"Dan Mas mau aku menjawab apa?"
"Aku ingin kamu mengizinkan."
Karina mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru saja menerima tagihan yang sudah lama ia duga akan datang. "Kalau begitu dengar jawabanku, sama jelasnya. Aku tidak setuju."
"Kamu belum mendengar semuanya."
"Aku sudah mendengar cukup untuk menolak." Suaranya tetap rendah. "Mas boleh merindukan anak. Mas boleh lelah pada desakan Mama. Tapi Mas tidak boleh mengubah kerinduan itu menjadi rencana menghadirkan istri lain, lalu berharap aku mengangguk supaya rumah ini kelihatan lapang."
"Delapan tahun sudah kita lewati, Rin."
"Delapan tahun kita jalani berdua. Bukan delapan tahun aku berutang seorang diri." Karina meletakkan kedua tangannya di atas meja, telapak menghadap ke bawah, agar Evan bisa melihat tangannya tidak gemetar. "Aku tidak akan membiayai rumah tangga kedua. Tidak dengan uang restoran, tidak dengan alasan keluarga. Aku tidak akan tersenyum di depan Mama seolah aku merestui. Kalau Mas tetap meneruskannya, Mas meneruskannya tanpa aku. Dan jangan pernah bilang besok bahwa diamku berarti setuju."
Evan mengusap wajahnya. "Kamu bisa berpikir sampai besok."
"Aku sudah berpikir sejak Mas menyebut nama itu di depan Mama." Karina menatapnya lurus. "Malam ini hanya membuatnya tidak bisa lagi disebut prasangka."
"Kalau Almira bukan orang yang kamu benci ...."
"Jangan geser ini menjadi soal dia, Mas. Aku sedang menjawab kamu, suamiku. Yang aku tolak bukan wajahnya. Yang aku tolak adalah rencana Mas memakai ketiadaan anak sebagai jalan menghadirkan istri lain." Karina berhenti sejenak. "Perempuan itu tahu Mas beristri?"
"Tahu."
"Dan dia tetap mau?"
Evan terdiam lebih lama dari yang seharusnya. "Dia ingin kamu rela."
"Kalau begitu sampaikan padanya, Mas. Aku tidak rela." Karina berdiri dan membawa piringnya yang masih bersih ke bak cuci. "Sampaikan persis seperti itu."
"Akan aku sampaikan," jawab Evan pelan.
Malam itu mereka tidur di kamar yang sama, punggung saling membelakangi. Karina menatap dinding sampai azan subuh berkumandang. Air matanya baru jatuh ketika suara napas suaminya sudah teratur. Pelan, tanpa suara, membasahi bantal yang dulu mereka beli bersama di awal pernikahan.
Kamis malam, setelah papan tutup dipasang di pintu Karina Kitchen, Sandra datang memenuhi panggilan sahabatnya. Kursi-kursi sudah dibalik di atas meja. Karina menuang dua cangkir teh di meja dekat kasir, lalu menceritakan semuanya tanpa menghias. Desakan Rita, nama Almira, dan pengakuan Evan semalam.
Sandra mendengarkan dengan wajah yang semakin lama semakin merah. "Sepupuku sendiri," gumamnya. "Ya Tuhan, Rin."
"Aku tidak memanggilmu untuk membujuk siapa pun, San." Karina memegang cangkirnya erat-erat. "Aku cuma mau kamu tahu dari aku. Kalau nanti ada versi lain yang beredar di keluarga, kamu tidak meneruskannya sebagai fakta."
"Aku mau bicara dengan Evan."
"Itu hakmu sebagai sepupunya. Tapi jangan bicara atas namaku. Jawabanku sudah aku ucapkan sendiri."
Sandra tidak menunggu besok. Pukul sepuluh lewat ia sudah berdiri di teras rumah Evan. Laki-laki itu membuka pintu dengan wajah lelah, dan Sandra tidak mau duduk meskipun dipersilakan.
"Karina sudah cerita padaku," katanya. "Aku tidak datang membawa damai, Van. Aku datang karena kamu memperlakukan sesuatu yang berharga seperti barang sisa."
"San, ini rumah tanggaku."
"Dan kepercayaan di dalamnya dijaga istrimu, yang juga sahabatku." Sandra melipat tangan di depan dada. "Dia tidak pernah membawa aibmu ke pelanggan. Dia tidak pernah menjual cerita soal Mama supaya dikasihani orang. Dia menutup kekurangan keluargamu bertahun-tahun tanpa pernah mengumumkannya. Dia menjaga namamu tetap terhormat di luar rumah, sementara kamu merencanakan rumah yang kedua."
"Mama setuju," jawab Evan.
"Mama bukan istrimu." Sandra menatap sepupunya tanpa berkedip. "Kalau kamu ingin keturunan dengan cara itu, tanggung sendiri kerusakan yang kamu buat. Jangan minta perempuan yang sudah menjagamu selama delapan tahun ikut tersenyum."
Ia turun dari teras tanpa menunggu jawaban. Evan berdiri di ambang pintu sampai mobil Sandra menghilang.
Pukul sebelas malam, Evan duduk di gazebo dengan ponsel di tangan. Ia membuka percakapan dengan Almira dan mengetik pelan, "Aku sudah bicara padanya." Ibu jarinya berhenti lama di atas layar. Kalimat berikutnya, dan dia menolak, sudah tersusun di kepala, tetapi tidak juga ia ketik.
Ia menekan tombol kirim untuk kalimat pertama saja.
Bukankah itu tidak bohong? Ia memang sudah bicara.