Sepekan penuh Evan menepati permintaan Almira. Ia hanya bicara soal pekerjaan, memanggil gadis itu dengan nada atasan, dan tidak lagi menunggu di gerbang samping. Akan tetapi, siapa pun yang memperhatikan bisa melihat ada yang berubah. Evan lebih sering melamun di ruangannya. Kopinya dingin tak tersentuh. Setiap kali Almira masuk menyerahkan berkas, mata laki-laki itu mengikutinya sampai pintu tertutup.
Sementara itu, pesan dari Rita datang hampir setiap hari ke ponsel Almira. Foto kue lapis buatan sendiri, doa pagi, pertanyaan sederhana tentang kabar. Almira membalas dengan sopan dan singkat. Wanita itu ibu atasannya. Bersikap dingin rasanya tidak pantas.
Minggu malam, ponsel Almira berdering. Adiknya menelepon dari Purworejo dengan suara panik. Ibu Halimah jatuh di dapur sore tadi dan kini dirawat di rumah sakit daerah karena tekanan darahnya terlalu tinggi. Dokter meminta beliau dirawat beberapa hari, dan pihak rumah sakit meminta uang jaminan yang jumlahnya jauh di atas sisa tabungan Almira. Gaji bulan ini sudah ia kirim ke kampung seminggu lalu.
Almira menangis di kamar indekosnya yang sempit. Arlin datang dari kamar sebelah, memeluknya, dan menawarkan pinjaman. Jumlahnya tetap belum cukup.
Pukul sembilan malam, nama Rita muncul di layar ponsel. Almira hampir tidak mengangkatnya.
"Kok suaramu serak, Nak? Kamu sakit?"
Entah karena lelah, entah karena suara itu terdengar begitu keibuan, Almira menceritakan semuanya. Rita mendengarkan tanpa memotong, lalu menutup telepon dengan kalimat singkat. "Kirim nama rumah sakitnya ke Mama. Kamu tidur saja, besok pagi berangkat kerja seperti biasa."
Keesokan paginya, adik Almira menelepon lagi. Uang jaminan sudah dibayar lunas atas nama Ibu Rita Wijaya.
"Bu, saya akan mengganti semuanya," kata Almira di telepon dengan suara bergetar. "Saya cicil dari gaji saya."
"Jangan bicara soal ganti. Anggap Mama ini ibumu juga," jawab Rita lembut. "Yang penting ibumu sembuh."
Sabtu sore, Rita datang ke indekos Almira membawa kotak-kotak makanan. Ia duduk di kursi plastik di teras kecil, menolak masuk ke kamar dengan alasan tidak ingin merepotkan. Ibu kos sampai keluar untuk menyalami tamu yang tampak terhormat itu.
"Mama mau cerita sesuatu, Nak. Tapi kamu jangan salah paham, ya." Rita menggenggam tangan Almira. "Rumah tangga Evan itu sudah lama dingin. Bertahun-tahun. Istrinya tidak bisa punya anak. Kasihan, sebenarnya. Mama juga sayang sama dia."
Almira diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Karina sendiri yang bilang ke Mama, dia capek ditanya soal anak terus. Dia ikhlas kalau Evan menikah lagi, asal perempuannya baik dan salehah." Rita menatap Almira lekat-lekat. "Evan itu sudah lama suka sama kamu. Dia cuma malu, karena kamu bawahannya."
"Bu," Almira menarik tangannya perlahan, "saya tidak mau menjadi perempuan yang merebut suami orang."
"Siapa yang merebut? Agama kita membolehkan, asal adil. Yang pertama juga sudah rela. Kamu tidak mengambil apa pun dari siapa pun, Nak. Kamu justru menolong rumah tangga yang hampir mati." Rita tersenyum. "Pikirkan saja dulu. Mama tidak memaksa."
Sebelum pamit, Rita mengeluarkan selembar foto lama dari dompetnya. Evan kecil berseragam putih merah, tersenyum lebar dengan gigi depan yang ompong. "Dulu dia anak yang hangat sekali. Mama cuma ingin lihat dia bahagia lagi, Nak. Dan Mama ingin menggendong cucu dari dia sebelum Mama mati."
Setelah Rita pulang, Arlin keluar dari kamarnya. Ternyata ia mendengar sebagian percakapan dari balik jendela.
"Mir, itu suami orang," katanya tanpa basa-basi. "Kenapa ibunya yang repot-repot datang ke sini?"
"Beliau cuma baik, Mbak. Beliau yang membayar rumah sakit Ibu."
"Justru itu." Arlin duduk di kursi yang tadi ditempati Rita. "Orang yang benar-benar baik nggak biasanya bayar rumah sakit orang lain, lalu seminggu kemudian datang membawa cerita soal menantunya. Mbak nggak mau kamu terluka, Mir."
Almira tidak menjawab. Ia hanya memandangi kotak-kotak makanan yang ditinggalkan Rita di atas meja teras.
Malam itu juga, Ibu Halimah menelepon dari rumah. Beliau sudah diperbolehkan pulang dua hari lalu. Suaranya masih lemah, tetapi terdengar jauh lebih tenang.
"Nak, Bu Rita juga menelepon Ibu tadi sore. Beliau baik sekali," kata ibunya. "Katanya anaknya, atasanmu itu, ingin melamarmu secara baik-baik. Istrinya sudah rela, katanya. Beliau bilang mereka keluarga terpandang di Jakarta."
Almira terduduk di tepi kasur. Bu Rita sudah bicara dengan ibunya? Sejak kapan? Lewat siapa? Ia ingin bertanya banyak hal, tetapi suara ibunya terdengar begitu lega, seolah beban di dadanya terangkat untuk pertama kali sejak sang ayah berpulang.
"Ibu tidak memaksa, Nak," lanjut Ibu Halimah. "Kamu yang menjalani. Pikirkan baik-baik, istikharah dulu."
Lama setelah telepon itu ditutup, Almira masih menatap langit-langit kamar indekosnya sampai lewat tengah malam. Benarkah istri Evan sudah rela? Kalau benar, mengapa hatinya tetap terasa tidak tenang?
Senin sore, Evan memintanya bicara sebentar di warung kecil dekat kantor. Bukan di gerbang samping, bukan di parkiran. Almira setuju, sebagian karena ia merasa berutang budi pada keluarga laki-laki itu, sebagian lagi karena ia ingin mendengar sendiri dari mulut Evan.
"Mama sudah cerita soal ibumu. Aku ikut prihatin," kata Evan membuka percakapan. "Beliau sudah membaik?"
"Alhamdulilah, sudah di rumah, Pak. Tinggal kontrol rutin. Terima kasih atas bantuan keluarga Bapak."
Evan memutar gelas teh di depannya. Ia sudah menyusun kalimat ini berhari-hari, tetapi tetap saja lidahnya terasa kaku.
"Almira, aku tidak mau bicara berputar-putar. Aku ingin menikahimu." Ia menatap gadis itu. "Aku ingin punya keturunan, dan aku ingin kamu yang menjadi ibunya. Aku tahu ini terdengar gila. Tapi aku serius."
Almira menunduk lama. Suara wajan dari dapur warung terdengar nyaring. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, matanya basah, tetapi suaranya tegas.
"Saya tidak akan pernah mau kalau istri Bapak tidak rela. Ibu Bapak bilang beliau sudah ikhlas. Saya tidak mau hanya mendengar dari orang lain. Saya ingin mendengarnya dari mulut Mbak Karina sendiri."
"Aku akan bicara padanya."
"Dan saya ingin bertemu beliau."
"Nanti, setelah aku bicara," jawab Evan cepat. Terlalu cepat.
Almira mengangguk pelan. Ia pamit dan berjalan pulang ke indekos sendirian. Evan masih duduk di warung itu, memandangi teh yang sudah dingin. Ia baru saja mengucapkan janji yang paling sulit sepanjang hidupnya. Janji untuk bicara jujur pada istrinya sendiri.
Pertanyaannya, apakah ia sanggup menepatinya?