Senin pagi, laporan inspeksi ulang itu kembali dari meja Pak Rudi dengan satu kalimat di halaman depan, ditulis tangan dengan tinta biru. Ini laporan yang bisa saya percaya. Teguran tertulis Evan tetap tercatat, usulan kenaikan pangkatnya tetap dibekukan, tetapi kalimat pendek itu membuat dadanya terasa lebih lapang daripada berminggu-minggu sebelumnya.
Ia ingin menceritakannya pada seseorang. Anehnya, wajah yang pertama kali terlintas bukan wajah istrinya.
Pukul lima sore, Evan sudah memegang kunci mobil dan berjalan menuju parkiran. Di lobi, langkahnya melambat, lalu berhenti sama sekali. Tidak ada rapat yang menunggunya. Tidak ada berkas yang harus ia tanda tangani. Ia berbalik, berjalan ke gerbang samping kantor, gerbang kecil yang biasa dipakai para staf yang pulang berjalan kaki menuju gang-gang indekos di belakang gedung.
Almira muncul sepuluh menit kemudian, sendirian. Arlin sedang lembur menyelesaikan laporan bulanan. Gadis itu tampak terkejut melihat atasannya berdiri di dekat pos satpam.
"Pak Evan? Ada yang ketinggalan di laporan?"
"Bukan soal laporan." Evan menunjuk bangku panjang di samping pos, tempat yang terang dan masih terlihat oleh satpam yang berjaga. "Ada lima menit?"
Almira ragu sejenak, lalu duduk di ujung bangku. Ada jarak satu jengkal di antara mereka, dan ia menjaga jarak itu baik-baik.
"Laporan kita lolos. Pak Rudi bilang laporan itu bisa dipercaya." Evan tersenyum kecil. "Itu karena kamu."
"Itu karena Bapak mau turun sendiri ke lapangan," jawab Almira. "Saya ikut senang, Pak."
"Almira." Evan menatap jalanan di depan gerbang, tempat ojek daring berderet menunggu penumpang. "Dua minggu kemarin, aku merasa bisa bicara denganmu tanpa harus berpura-pura. Aku ingin mengenal kamu lebih jauh. Di luar berkas. Di luar kantor."
Hening sebentar. Klakson motor terdengar dari kejauhan. Almira menatap tangannya sendiri di pangkuan, lalu mengangkat wajah dan bertanya dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.
"Apakah Bapak sudah menikah?"
Pertanyaan itu menghantam Evan lebih keras dari yang ia duga. Ia bisa saja berkelit. Ia bisa saja bilang rumah tangganya tinggal nama, atau tertawa dan menyebut cincin di jarinya hanya kebiasaan. Akan tetapi, mata gadis itu menunggu jawaban yang jujur, dan entah mengapa ia tidak sanggup membohonginya.
"Saya punya istri," jawabnya akhirnya. "Namanya Karina. Kami sudah delapan tahun menikah."
Almira mengangguk pelan. Ia sudah tahu jawabannya sejak hari pertama melihat cincin itu. Tetap saja, mendengarnya langsung terasa seperti menelan sesuatu yang pahit.
"Kalau begitu, cukup sampai di sini, Pak," katanya sambil berdiri. "Besok saya tetap staf Bapak, dan saya akan bekerja sebaik-baiknya. Selebihnya, tolong jangan. Saya tidak mau menjadi alasan rumah orang retak."
Ia berjalan menjauh menuju gang indekos tanpa menoleh. Evan tetap duduk di bangku itu sampai satpam menyalakan lampu gerbang. Malam itu ia pulang terlambat, makan dalam diam di depan Karina, dan tidak sanggup menatap mata istrinya sekali pun. Karina tidak bertanya. Ia hanya menyendokkan sayur ke piring suaminya seperti biasa.
Malam itu Almira duduk di atas sajadah lebih lama dari biasanya. Ia marah pada dirinya sendiri. Dua minggu terakhir, diam-diam ia mulai menunggu suara Evan setiap pagi. Ia senang ketika laki-laki itu tertawa, senang ketika pertanyaannya dijawab dengan serius, senang ketika untuk pertama kalinya ada atasan yang mengucapkan terima kasih padanya. Apakah perasaan semacam itu dosa? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, perasaan itu harus berhenti di sini.
'Ya Allah, jagalah hatiku dari apa yang bukan milikku.'
Kamis siang, sesuatu yang tidak biasa terjadi di lobi kantor. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi datang membawa rantang susun tiga. Ia memperkenalkan diri pada resepsionis sebagai ibu Pak Evan Wijaya dari bagian HSE.
"Sekalian, Mbak, tolong panggilkan yang namanya Almira. Staf HSE juga," kata Rita dengan senyum paling ramah yang ia miliki. "Saya mau berterima kasih. Katanya dia yang banyak membantu anak saya."
Almira turun dengan wajah bingung. Ia tidak mengenal wanita itu. Begitu Rita menyebut nama Evan, wajahnya langsung memucat.
"Jadi ini yang namanya Almira. Cantik, ya. Masih muda sekali." Rita menggenggam tangannya erat-erat, seolah mereka sudah lama saling mengenal. "Ayo, makan dulu. Ibu bawa rendang."
"Terima kasih banyak, Bu. Tapi saya sedang puasa."
"Masyaallah. Puasa Kamis?" Mata Rita berbinar. "Jarang sekali ada gadis zaman sekarang yang begini. Orang tuamu pasti bangga. Asli mana, Nak?"
Almira menjawab dengan sopan, karena memang begitulah ia dibesarkan. Ia berasal dari Purworejo. Ayahnya sudah berpulang tiga tahun lalu. Ibunya, Ibu Halimah, berjualan kue basah di depan rumah, sementara dua adiknya masih sekolah. Setiap bulan Almira mengirim separuh gajinya ke kampung.
Rita mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk prihatin. Pertanyaannya terus mengalir, ringan dan hangat, seperti obrolan seorang ibu dengan anak gadis tetangga. Sudah punya calon? Tinggal di mana? Pulang kampung berapa bulan sekali?
"Kamu anak baik. Ibu bisa lihat itu." Rita akhirnya mengeluarkan ponsel. "Boleh Ibu minta nomormu? Nanti kalau Ibu bikin kue, Ibu kirimkan ke indekosmu."
Almira tidak tahu bagaimana cara menolak tanpa terdengar kurang ajar. Ia menyebutkan nomornya.
"Ma? Mama ngapain di sini?"
Evan berdiri di dekat lift dengan wajah merah padam. Beberapa staf yang lewat melirik ke arah mereka sambil berbisik.
"Antar makan siang buat anak sendiri, masa nggak boleh?" Rita menyerahkan rantang itu pada putranya dengan santai. "Sekalian kenalan sama stafmu yang rajin ini."
Almira pamit dengan alasan pekerjaan dan buru-buru kembali ke lantai atas. Evan menatap ibunya dengan pandangan memohon agar wanita itu segera pulang. Rita hanya tersenyum, menepuk pipi putranya, lalu melangkah keluar dari lobi dengan langkah ringan.
Evan menyusul ibunya sampai ke parkiran. "Ma, buat apa Mama cari Almira? Ini kantor, Ma. Semua orang lihat."
"Mama cuma mau kenal orang yang bikin anak Mama bisa tersenyum lagi. Salah?" Rita membuka pintu mobilnya. "Sudah lama Mama nggak lihat kamu senyum, Van. Di rumahmu sendiri pun nggak."
Evan tidak sanggup menjawab. Ia berdiri di parkiran yang panas sampai mobil ibunya keluar dari gerbang. Kalimat itu menempel di kepalanya seperti noda yang tidak mau hilang.
Tadi, sebelum melewati pintu kaca lobi, Rita sempat menoleh ke arah lift yang baru saja menutup. Senyumnya masih terpasang dengan sempurna. Akan tetapi, siapa pun yang memperhatikan dengan saksama pasti tahu, senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya.