Minggu siang, Rita datang membawa dua hal: sebungkus obat herbal yang baru dan ponsel penuh foto ulang tahun cucu bungsunya. Ia meletakkan bungkus obat itu di meja makan, tepat di depan kursi yang biasa diduduki Karina, lalu duduk di sofa ruang tengah sambil menggulir layar.
"Lihat ini, Van. Ulang tahun si bungsu kemarin. Rumah adikmu sampai nggak muat, anak-anak lari ke sana kemari," katanya pada Evan yang sedang membaca koran. "Mama sampai pusing, tapi pusingnya enak."
Evan melirik layar ponsel ibunya sekilas. Dalam foto itu, Vania tertawa di antara tiga anaknya yang belepotan krim kue. Ia kembali menatap koran yang sejak tadi sebenarnya tidak ia baca.
Dari dapur, Karina mendengar semuanya. Tangannya terus memotong kacang panjang untuk tumis makan siang. Ia sudah hafal ke mana arah pembicaraan seperti ini akan berujung. Lucu, sebenarnya. Dulu, ketika usaha papa mertuanya nyaris bangkrut, mendiang mama Karina yang diam-diam meminjamkan modal agar keluarga Wijaya bisa bertahan. Pinjaman itu tidak pernah ditagih sampai beliau berpulang. Kini, di rumah yang dibangun dari kebaikan semacam itu, Karina justru selalu menjadi orang yang paling banyak ditagih. Benar saja, beberapa detik kemudian suara Rita terdengar lebih keras, cukup keras untuk sampai ke dapur.
"Kapan rumah ini ada suara anak, Van? Delapan tahun, lho. Mama sudah cari obat ke mana-mana. Itu yang di meja, dari tabib di Bogor. Katanya sudah banyak yang berhasil."
"Ma, aku baru selesai inspeksi ulang dua minggu. Jangan bahas itu dulu, deh," keluh Evan sambil melipat koran.
"Inspeksi apa? Kamu sibuk terus, makanya istrimu nggak hamil-hamil."
Evan mengembuskan napas kasar. Ia lelah. Dua minggu terakhir tubuhnya dipanggang di atap seng gudang, dan kini ibunya datang dengan pertanyaan yang sama seperti delapan tahun terakhir. Ia mencari kalimat apa saja yang bisa membelokkan arah obrolan, dan yang keluar justru kalimat yang paling ringan di kepalanya.
"Kantor lagi kacau, Ma. Untung ada staf baru yang cekatan. Kalau nggak ada dia, inspeksi itu belum tentu selesai tepat waktu. Namanya Almira."
Pisau di tangan Karina berhenti bergerak.
"Almira?" Rita mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencicipi rasanya di lidah. "Perempuan?"
"Iya, Ma. Staf HSE."
"Umurnya berapa?"
"Dua puluh dua, kalau nggak salah."
"Sudah menikah?"
Evan mengerutkan dahi. "Belum. Kenapa Mama tanya begitu?"
Rita meletakkan ponselnya di pangkuan. Senyumnya tipis, tetapi matanya tajam. "Laki-laki yang rumahnya dingin tidak akan menyebut nama perempuan tanpa sebab, Van. Mama ini sudah tua. Mama tahu."
"Ma, itu cuma soal kerjaan."
"Mama nggak bilang kamu salah." Suara Rita menurun, nyaris lembut. "Salahnya bukan di kamu. Kamu kerja keras, kamu laki-laki normal. Salahnya di rumah ini. Delapan tahun nggak ada anak, wajar kalau kamu cari cerita di luar."
Di dapur, Karina meletakkan pisau. Ia menunggu. Satu kalimat saja dari suaminya. Bahwa rumah ini tidak salah. Bahwa istrinya tidak salah. Bahwa pertanyaan semacam itu tidak pantas diucapkan di ruang tengah rumah mereka.
Kalimat itu tidak pernah datang. Yang terdengar hanya suara koran dilipat, lalu Evan bertanya apakah Mama mau sekalian makan siang di sini.
Rita pulang setelah makan, dengan perut kenyang dan wajah puas. Di ambang pintu ia masih sempat menepuk lengan Karina. "Obatnya diminum dua kali sehari. Jangan lupa, ya. Mama nggak mau usaha Mama sia-sia."
Karina hanya mengangguk. Begitu mobil Rita menghilang di ujung jalan, ia kembali ke ruang tengah. Evan sudah menyalakan televisi. Karina mengambil remot dan mematikannya.
"Mas biarkan Mama menaruh semua salah di pundakku," katanya. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk perempuan yang baru saja dihina di rumahnya sendiri.
"Kamu dengar dari dapur?" Evan menghela napas. "Mama memang begitu, Rin. Sudah, nggak usah dibesar-besarkan."
"Aku tidak membesar-besarkan. Aku cuma minta Mas berhenti diam." Karina tetap berdiri di depan televisi yang sudah padam. "Urusan tubuhku bukan bahan obrolan ruang tamu, Mas. Bukan juga tameng supaya Mas tidak perlu menjawab Mama."
"Aku cuma cerita soal kerjaan."
"Kalau cuma soal kerjaan, kenapa nama perempuan itu yang Mas sebut di depan Mama yang sedang menagih cucu?"
Evan terdiam. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Pertanyaan itu sederhana, tetapi ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mengapa nama Almira yang keluar? Mengapa bukan nama Arlin, atau tim lain yang juga ikut bekerja?
"Kamu terlalu sensitif," katanya akhirnya.
"Mungkin." Karina mengangguk pelan. "Tapi delapan tahun pernikahan ini kita jalani berdua, Mas. Kalau Tuhan belum memberi kita anak, itu bukan utang yang harus aku bayar sendirian. Mas juga duduk di meja yang sama selama delapan tahun itu."
Evan tidak menjawab. Ia meraih ponselnya dan berjalan ke gazebo di samping rumah. Tidak lama kemudian, bau asap rokok tercium sampai ke ruang tengah.
Di gazebo, Evan menatap asap yang mengepul dari ujung rokoknya. Pertanyaan Karina masih berputar di kepalanya. Mengapa nama Almira? Ia teringat tawa gadis itu di dalam mobil, teringat caranya berkata mungkin Bapak juga jarang bertanya duluan. Kalimat sesederhana itu, entah mengapa, lebih lama tinggal di kepalanya daripada seluruh pertengkaran di rumah ini.
Karina berjalan ke meja makan dan memandangi bungkus obat herbal yang ditinggalkan Rita. Di sampulnya tertempel kertas kecil bertuliskan tangan mertuanya, diminum dua kali sehari. Berapa bungkus obat seperti ini yang sudah ia telan selama bertahun-tahun? Ia tidak pernah tahu apa isinya. Ia hanya meminumnya, karena menolak berarti dituduh tidak berusaha.
Ia memasukkan bungkus itu ke lemari dapur, di samping bungkus-bungkus lama yang belum habis.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Vania masuk. "Mbak, tadi Mama ke rumah, ya? Maaf kalau Mama ngomong yang aneh-aneh lagi. Besok aku yang buka restoran, Mbak datang siang saja," tulis adik iparnya itu.
Karina tersenyum tipis. Di keluarga ini, hanya Vania yang selalu meminta maaf untuk kesalahan yang bukan miliknya.
'Almira.'
Nama itu terus terngiang di kepalanya sepanjang sore. Nama seorang gadis yang belum pernah ia temui, yang usianya delapan tahun lebih muda darinya. Nama yang diucapkan suaminya dengan nada yang sudah lama tidak pernah ia dengar untuk dirinya sendiri.
Apakah ia sedang cemburu pada bayangan? Ataukah hatinya sedang memperingatkan sesuatu yang belum berani ia akui?