Senin pagi, Evan menunggu di lobi dengan dua helm proyek di tangan dan wajah yang lebih masam dari kopi kantin. Almira datang tepat pukul tujuh, membawa map berisi daftar periksa dan sebuah botol minum. Tanpa sepatah kata, Evan menyerahkan satu helm, lalu berjalan lebih dulu ke parkiran.
Perjalanan ke kompleks gudang di pinggir kota memakan waktu empat puluh menit. Selama itu, hanya suara penyiar radio yang terdengar di dalam mobil.
"Gara-gara laporanmu, aku harus kerja rodi dua minggu," kata Evan akhirnya, tanpa menoleh.
Almira menatap jalanan di depannya. "Maaf, Pak. Tapi bukan saya yang memaraf laporan itu."
Evan mencengkeram setir lebih erat. Kalimat itu sederhana, diucapkan tanpa nada menantang sama sekali. Justru karena itu ia tidak punya bantahan. Sisa perjalanan kembali diisi suara radio.
Gudang tiga lebih buruk dari yang Evan bayangkan. Beberapa tabung alat pemadam api tergantung dengan karat di bagian bawahnya. Label pemeriksaan di badan tabung sudah pudar, tanggalnya lewat berbulan-bulan. Satu jalur evakuasi terhalang tumpukan palet kayu. Evan berdiri di tengah gudang yang pengap itu dan merasakan sesuatu yang dingin menjalar di perutnya. Semua ini sudah ia setujui di atas kertas. Berkali-kali.
Almira bekerja tanpa banyak bicara. Ia memeriksa tabung satu per satu, membaca label, mencatat nomor, lalu memotret dari dua sisi. Evan mencoba mengikuti, tetapi baru tiga tabung ia sudah menulis di kolom yang salah.
"Alat dicek dulu, baru angka dicatat, Pak," kata Almira sopan sambil menunjuk lembar di tangan Evan. "Kalau urutannya dibalik, angkanya tidak bisa dicocokkan dengan lembar sebelumnya."
Evan hampir membentak. Siapa gadis ini, berani mengajarinya di depan pengawas gudang? Akan tetapi, ketika ia melihat lembarnya sendiri yang penuh coretan, kalimat itu tertelan lagi. Ia mengambil lembar baru dan mulai dari awal.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Berangkat pagi, pulang menjelang magrib dengan baju basah oleh keringat. Pada hari ketiga, Evan sudah tidak perlu diingatkan lagi soal urutan. Pada hari kelima, ia mulai bertanya. Mengapa tabung yang ini harus diganti, bukan sekadar diisi ulang? Mengapa jalur evakuasi harus diberi tanda di lantai, bukan hanya di dinding? Almira menjawab dengan sabar, seperti seorang guru yang tidak sedang menghakimi muridnya.
"Baru kali ini Pak Evan turun sendiri ke sini," celetuk pengawas gudang lima sambil membukakan pintu panel listrik. Nadanya tidak bermaksud menyindir, tetapi wajah Evan langsung memanas. Selama ini, nama gudang lima hanya ia kenal dari kolom laporan yang tinggal ia paraf di ruangan berpendingin. Almira pura-pura sibuk mencatat nomor tabung, seolah tidak mendengar apa pun.
Siang hari Kamis, matahari menyengat atap seng gudang lima. Evan membeli dua gelas es teh dari warung di depan gerbang dan menyodorkan satu pada Almira.
"Terima kasih, Pak, tapi saya puasa."
"Puasa apa? Ini bukan bulan puasa."
"Senin dan Kamis, Pak. Kebiasaan sejak kecil."
Evan menatap gelas es teh di tangannya. Ia teringat mendiang neneknya, yang dulu juga selalu berpuasa pada hari-hari itu dan tetap pergi ke pasar tanpa mengeluh. Sudah berapa lama ia tidak memikirkan neneknya? Ia meletakkan gelas kedua di dasbor mobil dan tidak menyentuh gelasnya sendiri sampai jam istirahat usai.
Pada hari kedelapan, pulpen Almira kehabisan tinta di tengah pencatatan. Evan menyodorkan pulpennya sendiri. Jari mereka bersentuhan sekilas di ujung pulpen. Almira menarik tangannya lebih dulu, lalu menunduk menatap lembar daftar periksa. Saat itulah matanya menangkap kilau cincin di jari manis Evan. Cincin yang sama dengan yang ia lihat pada hari pertama bekerja.
'Dia suami orang, Almira. Ingat itu.'
Pada hari kesepuluh, laporan inspeksi ulang selesai. Empat belas tabung alat pemadam api diganti, dua jalur evakuasi dibersihkan, dan seluruh label pemeriksaan diperbarui dengan tanggal yang benar. Setiap lembar ditandatangani Evan setelah ia sendiri melihat alatnya. Laporan itu jauh lebih tebal dari laporan mana pun yang pernah ia paraf selama ini.
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Evan mematikan radio.
"Terima kasih," katanya pelan.
Almira menoleh, tidak yakin ia mendengar dengan benar. Selama hampir dua minggu, kata itu tidak pernah keluar dari mulut atasannya.
"Kalau bukan kamu, laporan ini mungkin baru selesai sebulan lagi. Itu pun belum tentu benar." Evan menatap lurus ke depan. Jalanan mulai macet. Lampu-lampu rem menyala merah di depan mereka. "Dua minggu ini aku capek sekali. Tapi anehnya, ini pertama kali dalam waktu lama aku pulang kerja dan merasa sudah mengerjakan sesuatu."
"Bapak memang mengerjakannya sendiri. Saya cuma menunjukkan urutannya."
Evan tertawa kecil. Almira belum pernah mendengar tawa itu. "Di rumah, tidak ada yang bertanya bagaimana hariku," katanya kemudian, lebih pada dirinya sendiri.
Almira terdiam. Kalimat itu terasa terlalu pribadi untuk diucapkan pada seorang bawahan. Ia mencari jawaban yang aman, lalu mengatakan satu-satunya yang terlintas di kepalanya.
"Mungkin karena Bapak juga jarang bertanya duluan, Pak."
Evan menoleh. Untuk sesaat ia tampak tersinggung, lalu tawanya pecah lagi, kali ini lebih lepas. "Kamu ini memang tidak bisa disuruh diam, ya?"
Almira ikut tersenyum, lalu buru-buru membuang pandangan ke jendela. Jantungnya berdebar dengan cara yang tidak ia sukai. 'Astagfirullah,' batinnya. 'Jangan bodoh, Almira.'
Mereka kembali ke kantor tepat ketika jam pulang tiba. Arlin yang sedang merapikan meja melihat keduanya masuk bersama, Evan masih tersenyum, sementara Almira menunduk sambil memeluk map. Arlin mengangkat sebelah alis, tetapi tidak berkata apa-apa sampai mereka berjalan berdua menuju indekos.
"Dua minggu di lapangan bareng Pak Evan, kamu kelihatan baik-baik saja," kata Arlin di pertigaan jalan.
"Kerjanya sudah selesai, Mbak. Laporannya barusan kami taruh di meja Pak Rudi."
"Syukurlah." Arlin menatap Almira lebih lama dari biasanya. "Hati-hati, ya, Mir. Pak Evan itu kalau sedang baik, bisa baik sekali. Justru itu yang bahaya."
Almira tertawa kecil, seolah Arlin sedang bercanda. Akan tetapi, malam itu ia lama sekali tidak bisa tidur.
Di garasi rumahnya, Evan duduk di dalam mobil tanpa mematikan mesin. Lampu ruang makan menyala di balik jendela. Karina pasti sudah menunggu dengan makanan yang masih hangat dan pertanyaan yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Mengapa membayangkan pertanyaan itu terasa jauh lebih melelahkan daripada dua minggu berdiri di gudang yang pengap?
Sejak kapan suara seorang staf baru lebih mudah ia dengar daripada suara istrinya sendiri?