Sudah dua pekan Damar duduk di meja yang bukan miliknya. Papan kecil di depannya hanya bertuliskan staf administrasi. Tidak ada lagi ruangan berpendingin dengan jendela besar menghadap jalan protokol. Yang ada hanya meja sempit di samping rak arsip, sebuah komputer tua, dan tumpukan map yang tingginya hampir menyamai layar.
Pagi itu Pak Drajat meletakkan sebuah formulir di tengah mejanya. "Rapat koordinasi divisi pemasaran, Kamis depan, di aula kantor. Delapan puluh peserta, konsumsinya dari Karina Kitchen. Kamu yang mengisi permintaan konsumsinya dari baris pertama sampai arsip."
Damar menarik formulir itu dan mengenalinya sebelum sempat membaca judul. Kolomnya rapat, jarak antarbarisnya sempit. Di kaki halaman tercetak tebal catatan yang dulu ia minta sendiri ketika masih duduk di kursi pimpinan. Jam wajib ditulis empat angka tanpa kata pukul. Setiap lembar dibuat tiga salinan. Coretan sekecil apa pun membuat lembar itu batal.
"Formulir ini masih dipakai, Pak?"
"Kamu yang mengeluarkan instruksinya. Saya tidak mengubah satu kata pun," jawab Drajat datar. "Hari ini kamu yang mengisinya."
Damar menulis dengan hati-hati. Jumlah peserta, tempat, nama pemasok. Pada kolom jam serah terima, tangannya menulis pukul sebelas tanpa berpikir. Satu jam kemudian, formulir itu kembali ke mejanya dengan lingkaran pensil di kolom yang sama.
"Seribu seratus. Empat angka, tanpa kata pukul," kata Drajat. "Lembar yang salah tidak boleh ditimpa. Itu juga aturanmu. Tulis ulang dari baris pertama, tiga salinan."
Damar memandangi lingkaran pensil itu. Ia teringat Teddy, yang berkasnya pernah ia kembalikan hanya karena salah menaruh titik di antara angka jam. Waktu itu ia bilang orang yang tidak teliti tidak pantas bekerja di Batara. Sekarang kalimat itu kembali padanya tanpa perlu diucapkan siapa pun.
Teddy kebetulan lewat membawa kotak arsip. Ia melirik formulir di meja Damar, lalu tersenyum sopan. Senyum itu tidak mengejek, tetapi justru karena itu terasa lebih menusuk.
Damar menulis ulang dengan pelan. Satu, satu, nol, nol. Tidak ada kata pukul. Ketiga salinan ia periksa dua kali sebelum diserahkan. Drajat membacanya dari atas sampai paraf, lalu mengangguk sekali.
"Salinan pemasok kamu antar sendiri ke Karina Kitchen. Pastikan angkanya sama dengan kemampuan dapur mereka."
"Kenapa harus saya, Pak? Bukankah ada kurir?"
Drajat menatapnya dari balik kacamata. "Karena kamu yang dulu bilang restoran itu terlalu kecil untuk perusahaan ini."
Siang itu Damar berdiri di depan Karina Kitchen dengan map cokelat di tangan. Ia berhenti di trotoar yang sama, tepat di depan pintu masuk. Ingatan itu datang tiba-tiba. Pagi dua pekan lalu, ia berjalan tergesa sambil menelepon, menyenggol bahu seorang perempuan, lalu malah memarahinya. Lain kali, kalau jalan itu matanya dipakai. Begitu katanya waktu itu. Perempuan itu hanya mengembuskan napas dan masuk ke restoran tanpa membalas.
Perempuan itu, ia baru menyadarinya sekarang, adalah pemilik tempat ini.
"Pak, silakan tunggu di dekat kasir dulu. Bu Karina masih di dapur," kata Ica begitu melihat map di tangannya.
Jam makan siang sedang ramai. Dari kursi tunggu, Damar bisa melihat pintu dapur yang terbuka setiap kali pramusaji keluar masuk. Ilyas menghitung kotak makanan untuk pesanan lain, menemukan satu yang penyok, lalu menggantinya dengan kotak utuh tanpa diminta siapa pun. Seorang tamu bertanya tentang menu yang sudah habis. Dari balik pintu, terdengar suara Karina menjawab dengan sopan bahwa menu yang habis tidak akan diganti dengan masakan yang tidak ada di daftar, karena rasanya belum teruji.
Damar mendengar jawaban itu dan mengenali sesuatu di dalamnya. Ketelitian yang punya alasan. Bukankah itu yang selalu ia tuntut dari pegawainya?
Sebelum itu, ia sempat melihat Karina keluar sebentar dari dapur. Perempuan itu menyuruh Ica makan lebih dulu karena gadis itu belum sempat sarapan, lalu menggantikannya di meja kasir selama beberapa menit. Pemilik restoran berdiri di belakang kasir? Di kepala Damar, pemimpin selalu duduk di ruangan dan menunggu laporan datang. Di tempat ini, pemimpinnya justru yang paling banyak berkeringat.
Karina keluar setelah pesanan meja depan selesai. Celemeknya masih terpasang, ada sisa uap di pelipisnya. Ia duduk di seberang Damar dan membuka buku catatannya.
"Selamat siang, Pak Damar. Ada yang perlu dicocokkan?"
"Delapan puluh porsi makan siang, delapan puluh selingan sore, serah terima pukul sebelas," jawab Damar sambil membuka map. Ia hampir tersenyum mendengar kata pukul keluar dari mulutnya sendiri. "Di formulir tertulis seribu seratus."
Karina mencocokkan angka itu dengan buku catatannya, lalu memanggil Vania dan Ilyas sebentar. Keduanya mengangguk. Dapur sanggup, asalkan tidak ada perubahan mendadak pada pagi hari acara.
"Tidak akan ada perubahan dari saya," kata Damar. "Kalau ada yang berubah, saya kembali ke kantor dan menulis lembar baru."
Karina menandatangani tanda terima di sudut lembar. Seharusnya urusan itu selesai di situ. Damar sudah memegang salinannya, tetapi tubuhnya belum juga beranjak dari kursi.
"Bu Karina," katanya akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. "Dua pekan lalu, saya menabrak bahu Ibu di depan restoran ini, lalu malah menyalahkan Ibu. Saya juga pernah bilang tempat ini terlalu kecil dan tidak layak untuk rapat kantor. Saya menilai tanpa masuk, tanpa melihat siapa yang bekerja di dalamnya. Saya minta maaf untuk keduanya."
Karina menatapnya beberapa detik. Pensil di tangannya berhenti di atas angka delapan puluh. Apakah ini laki-laki yang sama, yang dulu menatap restorannya seperti menatap warung pinggir jalan?
"Maaf Bapak saya terima," jawab Karina akhirnya, tenang. "Sekarang yang paling penting, delapan puluh kotak ini sampai di kantor Bapak tepat seribu seratus."
Damar mengangguk. Ia pamit dengan sopan dan singkat, lalu keluar.
Vania menghampiri begitu pintu tertutup. "Dia kelihatan masih mau bilang sesuatu, Mbak."
"Maaf itu bukan undangan, Van." Karina menutup buku catatannya. "Dia minta maaf, aku terima. Pesanannya kita kerjakan. Sudah, itu saja."
Di trotoar, Damar berhenti sebentar dan memandangi papan nama restoran itu. Karina Kitchen. Sederhana, tanpa hiasan berlebihan. Untuk pertama kalinya sejak pulang dari Inggris, ia merasa kecil. Anehnya, perasaan itu sama sekali tidak membuatnya marah.
Sesampainya di kantor, Drajat menanyakan hasilnya tanpa mengangkat wajah dari berkas. "Bagaimana?"
"Dapurnya sanggup, Pak. Angkanya sama dengan lembar kita." Damar terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Dan saya keliru soal tempat itu. Restorannya memang tidak besar, tapi kerjanya rapi."
Drajat akhirnya mendongak. Untuk pertama kalinya sejak Damar duduk di meja administrasi, laki-laki tua itu tersenyum tipis. "Nah, itu baru namanya laporan."
Damar kembali ke mejanya yang sempit dan menyelipkan salinan arsip ke dalam ordner sesuai tanggal. Entah mengapa, siang itu kursi plastik di samping rak arsip tidak lagi terasa sepanas kemarin.