Sepekan berlalu sejak surat perjanjian itu ditandatangani. Pagi itu akun resmi Batara Corporation mengunggah sebuah foto. Anggi dan Karina berjabat tangan di lantai dua Karina Kitchen, di bawahnya tertulis bahwa Batara resmi menggandeng restoran tersebut untuk seluruh kebutuhan konsumsi kantor. Teddy yang mengusulkan unggahan itu. Katanya, kerja sama yang baik layak diketahui banyak orang.
Siapa sangka, foto itu justru sampai lebih dulu ke grup arisan Rita?
"Bu Rita, menantunya hebat sekali, ya. Kerja sama dengan Batara. Pasti sekarang uangnya nggak berseri," tulis salah satu teman arisannya, lengkap dengan deretan emotikon kagum.
Rita membaca pesan itu berkali-kali. Dadanya panas, tetapi otaknya bekerja cepat. Arisan yang ia ikuti bukan arisan biasa. Setorannya jutaan rupiah setiap putaran, dan tiga putaran terakhir ia tutup dengan meminjam ke sana kemari. Kartu kreditnya masih ditahan sang suami. Semalam pun suaminya kembali mengomel. Sekali lagi Rita meminjam uang orang, katanya, ia tidak mau ikut menanggung malu.
Kabar ini jelas bukan sekadar kabar. Ini jalan keluar.
Sabtu pagi, Rita sudah duduk di ruang tamu rumah Evan sebelum anaknya bangun. Mbok Sarni sedang menyusun daftar belanja mingguan di meja makan. Beras, sayur, minyak goreng, sabun cuci. Rita meminta kertas itu, lalu menambahkan sebuah angka besar di bagian bawah dengan pensilnya sendiri.
"Ini apa, Ma?" tanya Karina yang baru turun dari lantai dua.
"Tambahan buat arisan Mama. Kamu sekarang pegang proyek perusahaan besar, kan? Masa keluarga sendiri nggak kebagian?" Rita tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia berikan pada sang menantu. "Mama lihat fotonya. Kamu salaman sama Nyonya Batara. Kok Mama malah tahu dari orang lain?"
Karina mengambil daftar itu dari tangan Mbok Sarni. Ia membaca baris demi baris kebutuhan rumah, lalu meletakkan pensil melintang di atas angka tambahan tersebut.
"Belanja rumah aku bantu, Ma. Sesuai daftar Mbok, hari ini juga aku transfer," katanya pelan, tetapi tegas. "Arisan tidak. Uang muka dari Batara itu untuk bahan masakan, bukan untuk menutup utang siapa pun."
Senyum Rita langsung lenyap. "Sejak kapan menantu berani mengatur ibu mertuanya soal uang?"
"Sejak permintaan Mama tidak pernah ada ujungnya," jawab Karina. Suaranya tidak naik sedikit pun. "Kalau ada kebutuhan rumah, tulis di daftar ini. Jangan dititipkan lewat telepon ketika aku sedang di dapur."
Selama delapan tahun, berapa kali Karina diam-diam menutup kekurangan keluarga suaminya? Biaya renovasi dapur rumah mertua, uang pangkal sekolah keponakan, ongkos pengajian keluarga. Semua ia bayar tanpa pernah diumumkan. Pagi ini, untuk pertama kalinya, ia menarik garis.
"Proyek apa, Ma?"
Suara Evan membuat keduanya menoleh. Laki-laki itu berdiri di ujung tangga dengan rambut berantakan. Rita langsung mendekati putranya dan menyodorkan ponsel.
"Ini! Istrimu kerja sama dengan Batara Corporation. Satu grup arisan Mama sudah tahu, cuma kita yang nggak dikasih tahu!"
Evan menatap foto di layar itu cukup lama. Wajahnya berubah dari bingung menjadi tersinggung. Rita pergi tidak lama kemudian dengan wajah masam. Pintu depan ia tutup lebih keras daripada perlu. Di meja makan hanya tersisa daftar belanja dengan coretan pensil di bagian bawahnya.
"Kenapa aku harus tahu dari Mama?" tanya Evan begitu mereka tinggal berdua.
"Aku mau cerita, Mas. Malam itu aku menunggumu sampai jam sepuluh." Karina menatap suaminya. "Mas bilang besok saja. Lalu Mas bilang, aku pikir cuma aku yang punya urusan."
Evan terdiam sebentar. Ia memang ingat malam itu, tetapi ingatan itu justru membuatnya semakin kesal. "Tetap saja, aku suamimu. Restoran itu juga ada modalku."
"Aku tahu. Bagian Mas tercatat di notaris, tidak pernah aku hapus." Karina menarik kursi dan duduk. "Mumpung kita sedang bicara, aku juga mau Mas menjawab satu hal. Sudah bertahun-tahun Mama menyebutku benalu. Mama bilang aku tidak bekerja, hanya menumpang hidup pada Mas. Mama mengatakannya di depan pegawaiku. Selama ini Mas tidak pernah sekali pun bilang bahwa itu salah."
Evan meraih gelas air di meja, tetapi tidak meminumnya.
"Aku tidak minta Mas memarahi Mama di depan orang. Aku cuma minta Mas mengatakannya, di rumah ini, bahwa ucapan itu tidak benar." Karina menahan suaranya agar tetap rendah. "Itu saja, Mas. Cukup satu kalimat."
Hening. Jam dinding berdetak terlalu keras. Evan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia melihat ponsel, melihat jendela, melihat apa saja selain wajah istrinya.
"Aku keluar dulu," katanya akhirnya sambil meraih kunci mobil dari atas meja. "Kepalaku penuh. Kalau dipaksa sekarang, omonganku nanti salah."
"Mas mau ke mana?"
"Keliling. Jangan ditunggu."
Karina mengikutinya sampai ambang pintu garasi. Langkahnya pelan, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Satu kalimat itu tidak akan menjadi lebih mudah kalau Mas bawa keliling kota."
Evan tidak menjawab. Mesin mobil menyala, lampunya sempat menyorot wajah Karina sebentar, lalu kendaraan itu mundur dan menghilang di ujung jalan.
Ia menyetir tanpa tujuan. Mobilnya sempat melewati jalan menuju Karina Kitchen, dan papan nama restoran itu tampak dari kejauhan. Evan tidak berbelok. Ia akhirnya berhenti di minimarket berlogo lebah kuning, tempat yang sama ketika ia mencoba kopi gratis produk Batara sekitar dua pekan lalu. Batara lagi. Mengapa nama itu sekarang terasa seperti ejekan?
Sambil menyesap kopi kaleng di bangku depan minimarket, pikirannya melantur ke hari Senin. Dua minggu inspeksi ulang bersama Almira. Ia masih ingat wajah gadis itu ketika ia mendesis puas kamu. Gadis itu hanya menatapnya dengan mata yang tenang. Entah mengapa, ketenangan itu lebih mengganggu daripada bantahan mana pun.
Di rumah, Mbok Sarni berdiri di belakang Karina dengan daftar belanja di tangannya. "Bu, ini jadi saya belanjakan?"
"Jadi, Mbok. Sesuai daftar, tanpa tambahan di bawahnya." Karina mengembalikan kertas itu. "Kalau ada yang menitip lagi, bilang saja belum ditulis."
Mbok Sarni mengangguk, lalu ragu-ragu menambahkan, "Bu, kalau Ibu Rita marah sama saya, bagaimana?"
"Bilang saja itu perintah saya, Mbok. Mbok tidak salah apa-apa."
Ia kembali ke ruang makan dan duduk di kursi yang sama. Gelas air di depan kursi Evan masih penuh. Apakah satu kalimat pembelaan memang semahal itu bagi seorang suami? Entahlah. Yang Karina tahu, pagi ini ia sudah menunggu terlalu lama untuk sesuatu yang tidak pernah datang.