Senin pagi, Reno datang pukul delapan lewat lima dengan wajah kusut dan kemeja yang belum disetrika. Tiga malam terakhir ia lebih banyak tidur di kursi lorong rumah sakit, karena bayinya masih harus dirawat beberapa hari. Putrinya lahir Jumat menjelang subuh, mungil dan merah, dan ia masih sempat memamerkan fotonya pada satpam di lobi. Senyum itu lenyap begitu sekretaris Pak Rudi menyuruhnya langsung masuk.
Di ruangan itu sudah ada Evan, duduk kaku di kursi samping. Ada pula seorang perempuan dari bagian HRD dengan map biru di pangkuannya. Rudi tidak mempersilakan siapa pun berbasa-basi.
"Duduk, Reno." Rudi menyodorkan beberapa lembar hasil cetak ke tengah meja. "Laporan inspeksi alat pemadam api di gudang tiga, enam bulan terakhir. Nama pemeriksanya kamu. Fotonya sama persis setiap bulan, sampai noda karat di tabungnya pun tidak bergeser."
Reno menatap kertas itu, lalu tertawa kecil yang terdengar dipaksakan. "Itu cuma format, Pak. Semua orang juga pakai contoh foto biar laporannya rapi."
"Saya sudah menelepon pengawas gudang tiga Jumat sore. Tidak seorang pun pernah melihatmu datang memeriksa sejak awal tahun." Rudi lalu memutar layar laptopnya. Rekaman singkat itu diputar tanpa suara. Reno terlihat duduk di kursi Almira, mencoba membuka komputer gadis itu berkali-kali.
Wajah Reno memerah. "Anak itu sengaja menjebak saya, Pak! Dari hari pertama dia memang sudah cari gara-gara."
"Yang menjebakmu adalah kebiasaanmu sendiri," jawab Rudi tenang. "Kamu sudah memegang SP 2. Memalsukan laporan keselamatan adalah pelanggaran berat. Kalau suatu hari alat pemadam di gudang itu tidak berfungsi saat dibutuhkan, yang terancam adalah nyawa orang. Hari ini kamu menerima SP 3. Bagian HRD akan mengurus pemutusan hubungan kerjamu sesuai aturan perusahaan."
Perempuan dari HRD membuka map biru dan meletakkan selembar surat di depan Reno. Amplop kuning yang dulu pernah ia terima kini berganti dengan amplop yang jauh lebih menakutkan.
"Pak, anak saya baru lahir tiga hari lalu." Suara Reno bergetar untuk pertama kalinya. "Kasih saya kesempatan sekali lagi. Saya janji."
Rudi diam sesaat. "Saya ikut bersyukur untuk anakmu. Tapi para pekerja di gudang tiga juga punya anak di rumah. Mereka berhak pulang dengan selamat."
Reno menoleh pada Evan. Matanya meminta pertolongan, seperti dulu ketika ia selalu bisa mengandalkan sahabatnya itu. Evan hanya menatap lantai. Mulutnya terkunci rapat. Apa yang bisa ia bela, sementara parafnya sendiri tercetak di setiap lembar kertas itu?
Reno akhirnya keluar diantar petugas HRD. Pintu tertutup, dan kini hanya tersisa Evan di hadapan sang atasan.
"Paraf ini milikmu?" tanya Rudi.
"Iya, Pak." Evan menelan ludah. "Saya percaya pada Reno. Dia sudah lama di bagian ini."
"Kamu menyetujui pemeriksaan yang tidak pernah kamu lihat. Berbulan-bulan." Rudi mengetuk meja dengan ujung pena. "Jumat lalu kamu meminta laporan tim Almira dihitung untuk kenaikan pangkatmu. Hari ini saya tanyakan tanggung jawab yang kamu sebut itu. Kamu menerima teguran tertulis. Usulan kenaikan pangkatmu saya bekukan. Mulai Senin depan, selama dua minggu, semua area yang pernah diperiksa Reno harus kamu periksa ulang sendiri, turun langsung ke lapangan."
"Baik, Pak," jawab Evan dengan suara serak.
"Kamu akan didampingi Almira."
Evan mengangkat wajah. "Dia anak baru, Pak."
"Anak baru yang menemukan apa yang tidak kamu temukan selama berbulan-bulan. Dia teliti, dan dia tidak punya kepentingan untuk menutupi siapa pun." Rudi menutup map di depannya. "Itu saja. Silakan."
Di ruang staf, kabar menyebar lebih cepat dari angin. Reno membereskan mejanya dengan gerakan kasar, diawasi seorang satpam. Bingkai foto, mug kopi, dan tumpukan map ia masukkan ke dalam kardus. Semua orang pura-pura sibuk dengan layar masing-masing, padahal mata mereka mengikuti setiap gerak laki-laki itu.
Ketika lewat di depan meja Almira, Reno berhenti. Kardus di tangannya ia dekap erat-erat.
"Ingat baik-baik namaku," katanya pelan, tetapi cukup jelas. "Anakku baru tiga hari, dan bapaknya pulang tanpa pekerjaan gara-gara kamu."
Almira diam saja. Tangannya gemetar di atas papan ketik. Arlin berdiri dan meletakkan telapak tangan di bahunya sampai langkah Reno menghilang di ujung lorong.
"Kamu nggak salah, Mir," bisik Arlin. "Ingat itu."
Almira mengangguk. Akan tetapi, mengapa dadanya justru terasa berat? Di kepalanya terbayang bayi mungil dalam foto yang tadi pagi dipamerkan Reno pada satpam. Benarkah keadilan selalu terasa semenyakitkan ini?
Sore itu Evan tidak langsung pulang. Ia duduk di dalam mobil di sudut parkiran kantor dengan mesin menyala dan pendingin udara yang tidak terasa dingin sama sekali. Teguran tertulis. Kenaikan pangkat dibekukan. Dua minggu turun ke lapangan bersama gadis yang Jumat lalu ia hardik di depan mejanya.
Gara-gara gadis itu. Kalimat itu berputar di kepalanya, meski sebagian kecil dirinya tahu itu tidak adil. Bukan Almira yang memaraf laporan palsu. Bukan Almira yang malas turun memeriksa. Lantas mengapa justru wajah gadis itu yang terus terbayang?
Ia teringat Reno yang memohon atas nama anak yang baru lahir. Sahabatnya itu setidaknya punya alasan untuk pulang. Evan sendiri? Di rumahnya hanya ada lampu yang menyala, makanan yang selalu siap, dan istri yang terlalu sering membawa kabar dari Mama.
Malam itu Evan pulang pukul sepuluh. Karina sudah menunggu di ruang makan. Seharian ia menyusun kalimat untuk menceritakan kerja sama dengan Batara. Ia bahkan memasak sayur asem kesukaan sang suami sejak zaman SMA. Kabar sebaik ini tidak pantas terus disimpan sendiri, bukan?
"Mas sudah makan? Aku hangatkan sayur asem, ya," sambut Karina sambil berdiri.
Evan melempar tasnya ke sofa. "Bisa nggak sekali saja kamu nggak tanya-tanya? Aku capek!"
"Aku cuma mau bilang, Mas, ada kabar dari restoran ...."
"Besok saja! Kamu pikir cuma kamu yang punya urusan?" bentak Evan, lalu naik ke lantai dua tanpa menoleh.
Karina berdiri mematung di samping meja makan. Panci sayur asem di atas kompor perlahan berhenti mengepul. Mbok Sarni muncul dari dapur dengan wajah serba salah.
"Bu, makan dulu. Dari siang Ibu belum makan," bujuknya pelan.
"Mbok saja yang makan. Saya sudah kenyang," jawab Karina, berbohong untuk kesekian kalinya demi menjaga muka rumah ini.
Ia mematikan api, menutup panci, lalu duduk sendirian di bawah lampu yang terlalu terang. Ponselnya ia buka. Pemberitahuan transfer dari Batara masih ada di sana, sebaris angka yang Kamis lalu membuat tangannya gemetar bahagia. Malam ini angka itu terasa tidak berarti apa-apa.
Kabar baik itu tetap tersimpan di laci meja kerjanya di restoran, terkunci rapat. Sama seperti hatinya malam ini.