Pukul tujuh kurang seperempat, ruang staf HSE masih kosong. Hanya ada petugas kebersihan yang sedang mengelap kaca jendela. Meja Reno pun kosong. Pagi tadi kabar beredar di grup kantor bahwa istrinya melahirkan menjelang subuh. Almira duduk di mejanya dengan tas ransel di pangkuan. Semalaman ia nyaris tidak tidur, memikirkan kalimat yang paling tepat untuk disampaikan pada Pak Rudi.
Benarkah keputusannya ini? Ia hanya pegawai baru. Reno sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun di perusahaan minyak ini dan bersahabat dekat dengan atasannya sendiri. Kalau semuanya berbalik, bukankah ia yang akan kehilangan pekerjaan?
Almira teringat malam ketika ia nekat mendatangi ruang rekaman CCTV. Dua satpam bertubuh kekar itu menolaknya dengan sopan. Rekaman hanya boleh dibuka pimpinan, begitu kata mereka. Waktu itu ia merasa dipermalukan. Sekarang ia justru bersyukur. Penolakan itu menunjukkan jalan yang benar. Bukti ini memang harus sampai ke tangan pimpinan.
'Ya Allah, kalau ini benar, mudahkanlah. Kalau ini salah, tunjukkanlah.'
Rudi datang pukul delapan kurang sepuluh. Belum sempat Almira berdiri, laki-laki itu justru memanggil namanya lebih dulu dari ambang pintu.
"Almira, ke ruangan saya. Bawa catatan."
Laporan hasil diskusi tim tergeletak di atas meja Rudi. Beberapa bagian ditandai dengan pensil. Almira menahan napas ketika sang atasan membalik halaman demi halaman di depannya.
"Saya sudah baca semalam. Usulan kalian masuk akal dan angkanya cocok dengan kondisi lapangan," kata Rudi tanpa basa-basi. "Hanya satu yang kurang. Jadwal pemeriksaan mingguan ini belum menyebut siapa pelaksananya, dan tanggalnya masih kosong. Perbaiki bagian itu saja. Ini koreksi, bukan penolakan. Jangan sampai di luar sana jadi kabar bahwa laporan kalian gagal."
"Baik, Pak. Hari ini juga akan kami perbaiki," jawab Almira lega.
Rudi mengangguk, lalu kembali menatap layar komputernya. Itu tanda percakapan sudah selesai. Akan tetapi, Almira belum juga beranjak dari kursinya. Tangannya meraba saku bagian dalam tas.
"Ada lagi?" tanya Rudi sambil mengerutkan dahi.
"Ada, Pak. Urusan lain." Almira meletakkan flash disk hitam itu di atas meja. "Benda ini saya temukan di bawah meja kerja saya, sore hari ketika laporan saya tertukar. Ini bukan milik saya. Saya sudah membukanya di rumah, dan saya mohon maaf kalau itu lancang. Di dalamnya ada berkas laporan bulan lalu yang dipakai untuk mengganti laporan saya. Ada juga berkas-berkas lain yang menurut saya harus Bapak lihat sendiri."
Rudi tidak langsung menyentuh benda itu. Matanya menatap Almira lekat-lekat, seolah sedang menimbang apakah gadis di depannya sedang mencari muka atau benar-benar membawa masalah.
"Milik siapa?"
"Pak Reno Galandi." Almira menelan ludah. "Saya juga punya rekaman video. Kemarin siang Pak Reno mencoba membuka komputer saya. Rekaman itu masih ada di ponsel saya, dan belum saya kirim ke siapa pun."
"Kenapa baru sekarang kamu bawa ke saya?"
"Saya ingin yakin dulu, Pak. Saya tidak mau menuduh orang hanya karena saya sakit hati."
Jawaban itu membuat Rudi terdiam sejenak. Ia lalu mengangkat gagang telepon. Lima menit kemudian, seorang staf bagian IT masuk membawa laptop. Rekaman di ponsel Almira disalin di depan mereka bertiga, lalu ponsel itu dikembalikan pada pemiliknya. Setelah itu, flash disk Reno dibuka di laptop khusus yang tidak tersambung ke jaringan kantor.
Wajah Rudi mengeras dari menit ke menit. Puluhan berkas laporan inspeksi bulanan tersimpan rapi di sana. Pemeriksaan alat pemadam api, jalur evakuasi, dan peralatan keselamatan di beberapa area kerja. Tanggalnya berbeda-beda, tetapi foto-fotonya sama persis dari bulan ke bulan. Di setiap kolom pemeriksa tertera nama Reno Galandi. Di kolom yang menyetujui, ada paraf Evan Wijaya.
"Sudah berapa lama ini terjadi?" gumam Rudi, lebih pada dirinya sendiri.
Almira tidak berani menjawab. Ia memang tidak tahu.
Rudi memasukkan flash disk itu ke dalam laci, lalu menguncinya. "Mulai detik ini, urusan ini ada di tangan saya. Jangan ceritakan pada siapa pun, termasuk timmu, termasuk Pak Evan. Kalau ada yang bertanya kenapa kamu lama di sini, bilang saja soal revisi laporan."
"Baik, Pak."
"Satu lagi." Rudi menatapnya tajam. "Kamu tidak salah karena membawanya ke sini. Kamu baru salah kalau membawanya ke kantin."
Almira keluar dengan langkah ringan sekaligus gemetar. Siang itu ia dan timnya memperbaiki bagian jadwal pemeriksaan. Nama petugas ditulis lengkap, tanggal diisi sesuai giliran yang sudah berjalan. Pukul dua, laporan yang sudah dikoreksi kembali ke meja Rudi.
Sementara itu, Evan juga sedang menuju ruangan yang sama. Di tangannya ada salinan laporan tim yang ia minta dari surel Arlin pagi tadi. Semalaman ia sudah berhitung. Laporan sebagus ini bisa menjadi tambahan nilai untuk pengajuan kenaikan pangkatnya bulan depan. Untuk apa bekerja keras kalau ada bawahan yang bisa diandalkan?
"Pak, laporan tim HSE ini dari bagian saya," kata Evan setelah dipersilakan duduk. "Saya mohon hasilnya ikut menjadi pertimbangan dalam pengajuan kenaikan pangkat saya."
Rudi melirik salinan itu tanpa menyentuhnya. "Siapa yang menyusun?"
"Tim saya, Pak."
"Tim Almira," koreksi Rudi datar. "Kamu tidak ikut berdiskusi. Kamu juga tidak membawanya ke meja saya. Kontribusi saya catat berdasarkan siapa yang bekerja, bukan siapa yang duduk di kursi atasan."
"Tapi, Pak, saya yang bertanggung jawab atas bagian itu."
"Kalau begitu, tanggung jawabmu akan saya tanyakan hari Senin," jawab Rudi dengan nada yang membuat tengkuk Evan meremang tanpa tahu sebabnya. "Silakan kembali bekerja."
Evan keluar dengan rahang mengeras. Ketika melewati meja Almira, langkahnya berhenti sejenak. Gadis itu sedang merapikan berkas dan sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
"Puas kamu?" desis Evan pelan, lalu berlalu ke ruangannya tanpa menunggu jawaban.
Almira terpaku. Puas karena apa? Ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja terjadi di ruangan pimpinan. Arlin, yang duduk dua meja dari situ, hanya menggeleng pelan dan memberi isyarat agar Almira kembali bekerja.
Di ruangannya, Evan membanting salinan laporan itu ke meja. Ponselnya bergetar. Nama Mama muncul di layar untuk ketiga kalinya hari ini. Dengan malas ia mengangkat.
"Van, Mama butuh pinjaman sedikit. Arisan putaran ini Mama belum setor, malu sama ibu-ibu," kata Rita tanpa salam pembuka.
"Ma, aku lagi pusing di kantor. Minta Papa saja," jawab Evan ketus.
"Papamu itu pelit! Kartu kredit Mama saja masih dia tahan. Masa sama anak sendiri Mama harus memohon-mohon?"
Evan memutus sambungan tanpa menjawab. Ia memandangi formulir pengajuan kenaikan pangkat yang sudah ia isi sejak minggu lalu. Kolom prestasi kerjanya masih kosong. Kalimat Rudi tadi terus terngiang. Tanggung jawabmu akan saya tanyakan hari Senin. Apa maksudnya?
Hari itu terasa sangat panjang. Evan tidak keluar dari ruangannya sampai jam pulang. Pintu kacanya tertutup rapat, dan beberapa kali terdengar suara benda dibanting ke meja. Para staf saling pandang, tetapi tidak ada yang berani mengetuk.
Di balik pintu ruangannya sendiri, Rudi menekan nomor sekretarisnya. "Senin pagi pukul delapan, panggil Reno Galandi dan Evan Wijaya ke ruangan saya. Jangan beri tahu alasannya."