Kode 'oke' sudah terkirim, tetapi grup diskusi tim Almira justru semakin ramai. Pesan masuk silih berganti. Ada yang mengirim doa, ada yang menebak-nebak isi kepala Pak Rudi, dan ada pula yang terang-terangan bertanya siapa yang akan mentraktir kalau bonus benar-benar turun bulan depan.
"Mir, kalau Pak Rudi langsung setuju, berarti kita dapat bonus, dong?" bisik salah satu rekan satu timnya sambil menarik kursi mendekat.
Almira hampir mengangguk. Bukankah sejak siang tadi kata itu juga yang berputar di kepalanya? Ia lelah dirundung. Bonus, dalam bayangannya, adalah bukti sederhana bahwa ia bukan lagi sekadar anak baru yang dianggap sok pintar.
Lagi pula, bonus berarti ada sedikit uang lebih untuk dikirim ke Purworejo. Separuh gajinya setiap bulan sudah ia sisihkan untuk ibunya dan dua adiknya yang masih sekolah. Sejak sang ayah berpulang tiga tahun lalu, Almira-lah yang menjadi tumpuan keluarga kecil itu.
"Jangan janjikan apa pun, Mir." Arlin datang dari pantry dengan gelas kosong di tangan. "Laporan itu baru sampai di meja Pak Rudi. Belum dibaca, belum dinilai. Kalau sekarang sudah ramai soal uang, nanti yang malu kita sendiri."
"Aku cuma bilang laporannya sudah diserahkan, Mbak," jawab Almira pelan.
"Bagus. Tulis begitu saja di grup. Selebihnya biar Pak Rudi yang bicara," kata Arlin sebelum kembali ke mejanya.
Almira mengetik satu kalimat pendek di grup: tunggu penilaian pimpinan. Rekan di sebelahnya mendengus kecewa, tetapi akhirnya kembali menghadap layar komputernya sendiri.
Di seberang ruangan, ponsel Reno berdering nyaring. Laki-laki itu mengangkatnya dengan wajah malas, lalu mendadak berdiri sampai kursinya terdorong ke belakang.
"Ketubannya pecah? Sekarang? Oke, oke, aku ke sana!" Reno menyambar kunci mobil dan tasnya sekaligus.
Langkahnya tergesa melewati meja Almira. Sesaat mata mereka bertemu. Tatapan Reno masih sama seperti tadi siang, penuh ancaman, meski kali ini ia tidak sempat berkata apa-apa. Pintu ruangan staf HSE terbanting di belakangnya.
Almira menunduk, lalu meraba saku bagian dalam tas ransel kecilnya. Flash disk hitam itu masih di sana. Semalam ia sudah membuka isinya, dan sejak itu tidurnya tidak lagi nyenyak. Ada berkas laporan bulan lalu yang dipakai untuk menukar laporannya. Ada pula puluhan berkas laporan inspeksi dengan tanggal yang berbeda-beda, tetapi foto di dalamnya sama persis dari bulan ke bulan.
'Kalau aku kirim ke grup, semua orang pasti tahu siapa Reno sebenarnya.'
Pikiran itu datang begitu saja, lalu buru-buru ia tepis. Gosip tidak akan pernah menjadi pemeriksaan. Benda sepenting itu harus sampai ke tangan orang yang berwenang, bukan menjadi tontonan di kantin. Besok pagi, sebelum siapa pun datang, ia akan mengetuk pintu ruangan Pak Rudi.
Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, Karina Kitchen sedang bersiap menyambut jam makan siang. Karina datang pukul sepuluh, jauh lebih siang dari kebiasaannya. Wajahnya masih pucat. Mbok Sarni sudah memohon agar ia beristirahat di rumah, tetapi Karina tetap memesan taksi daring dan berangkat. Kepalanya memang masih berdenyut, tetapi berdiam diri di rumah yang sunyi justru terasa lebih melelahkan.
"Mbak ini keras kepala banget, sih. Semalam demam, sekarang sudah berdiri di depan kompor," omel Vania yang hari ini kembali bekerja setelah anaknya sembuh.
"Aku cuma mengecek bumbu, Van. Habis itu duduk, janji," jawab Karina sambil tersenyum tipis.
Belum sempat janji itu ditepati, Ica muncul dari pintu depan dengan wajah tegang. "Bu, ada Nyonya Anggi. Beliau datang sendiri, bawa map."
Karina segera melepas celemek. Ia mengajak tamunya naik ke ruangannya di lantai dua. Di dinding ruangan itu masih tergantung foto-foto bersama Evan, termasuk pigura foto kelulusan SMA sang suami. Mata Anggi sempat singgah pada pigura itu, tetapi wanita paruh baya itu tidak bertanya apa pun.
"Maaf, saya datang tanpa kabar. Kemarin saya lupa meminta nomor ponsel Anda," kata Anggi sambil tersenyum. "Ini surat perjanjian yang saya janjikan. Silakan dibaca dulu. Jangan tanda tangan sebelum Anda yakin."
Karina membaca halaman demi halaman bersama Vania. Isinya sesuai dengan obrolan di lantai satu kemarin. Setiap rapat dan acara Batara Grup akan memakai jasa Karina Kitchen, baik tempat maupun ketering. Hanya satu hal yang membuat Karina berhenti cukup lama.
"Bu Anggi, boleh saya minta satu tambahan?" tanya Karina hati-hati. "Kalau suatu saat pesanan kantor melebihi kemampuan dapur kami, saya ingin diberi hak untuk menolak atau menggeser jadwal, dengan pemberitahuan lebih dulu. Saya tidak mau pegawai saya lembur terus hanya supaya kontrak ini terlihat sanggup."
Vania turun sebentar dan kembali bersama Ilyas. Juru masak itu menyebut berapa porsi yang sanggup mereka kerjakan dalam sehari tanpa mengorbankan rasa. Anggi mendengarkan dengan saksama, lalu mengeluarkan pena dari tasnya.
"Justru ini yang saya cari," katanya. Ia menuliskan tambahan itu dengan tangan di halaman terakhir dan membubuhkan paraf. "Dapur yang tahu batasnya jauh lebih bisa dipercaya daripada dapur yang selalu bilang bisa. Oh, ya, mulai hari ini anak saya, Damar, belajar menjadi staf administrasi. Jangan kaget kalau suatu hari dia sendiri yang mengantar berkas ke sini."
Karina hanya mengangguk sopan. Ia masih ingat pemuda bertampang dingin yang kemarin turun dari lantai dua dan menatapnya tanpa berkedip. Anak pemilik perusahaan sebesar itu mengantar berkas? Entahlah. Orang kaya kadang punya cara mendidik yang sulit dipahami.
Dua rangkap surat itu akhirnya ditandatangani. Anggi lalu menelepon Bu Amalia dan meminta Karina menyebutkan nominal uang muka. Karina hanya menyebut biaya bahan untuk satu bulan pertama, tidak lebih. Belum habis teh yang dihidangkan Ica, ponsel Karina bergetar. Pemberitahuan transfer masuk ke rekening pribadinya.
Karina menatap layar itu lama. Tangannya sedikit gemetar. Apakah ini nyata? Lima tahun ia membangun restoran ini dari nol, dan baru kali ini ada perusahaan sebesar Batara yang mengulurkan tangan.
"Kamu masih pucat," kata Anggi sambil menggenggam tangan Karina sebelum pamit. Panggilan Anda mendadak berganti menjadi kamu, dan Karina tidak keberatan sama sekali. "Simpan nomor saya, ya. Kalau ada apa-apa, termasuk kalau anak saya membuat ulah lagi, hubungi saya langsung. Dan jaga dirimu baik-baik."
Genggaman itu hangat. Lagi-lagi Karina teringat mendiang sang bunda. Ia buru-buru mengerjapkan mata sebelum air mata yang lancang itu jatuh untuk kedua kalinya di depan wanita yang sama.
Sepeninggal Anggi, Karina memasukkan salinan surat perjanjian ke laci meja kerjanya, lalu menguncinya. Vania memperhatikan gerak itu dengan dahi berkerut.
"Mas Evan perlu tahu, Mbak?"
"Nanti, Van. Kalau Mama tahu lebih dulu, pasti ada saja alasan untuk minta bagian." Karina mengembuskan napas panjang. "Biar aku yang bilang sendiri ke Mas Evan, kalau waktunya pas."
Kapan waktu yang pas itu? Karina sendiri tidak tahu. Sudah lama rumahnya tidak lagi menjadi tempat untuk berbagi kabar baik. Setiap kali ia membuka mulut, yang datang justru salah paham dan bentakan.
Sore harinya, sebuah pesan masuk ke ponsel Karina. Dari Evan. "Malam ini aku pulang telat. Nggak usah ditunggu," tulisnya singkat. Sebaris kalimat itu sama sekali tak menyinggung demam yang semalam membuat Karina menggigil.
Karina membaca pesan itu sekali, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Kabar sebesar ini, mengapa justru terasa begitu sepi?