Pos Sangkala masih berbau kopi tumpah dan disinfektan ketika Ranu masuk membawa run sheet yang belum sempat ia keringkan dari embun subuh. Ruang dispatch temaram; hanya lampu meja Bu Harni yang menyala, memantul di kacamatanya yang melorot. Perempuan itu tidak mengangkat wajah, hanya menggeser dagu ke arah pintu ruangan Pak Damar.
"Sudah dari tadi menunggumu," katanya pelan, nyaris berbisik. "Bawa sabar yang banyak."
Ranu tahu artinya. Ia mengetuk sekali, lalu membuka tanpa menunggu jawaban.
Pak Damar sedang berdiri di depan jendela, memunggunginya, tangan bersedekap. Di meja tergeletak map biru yang Ranu kenal betul—salinan laporan insiden RS Sentana yang ia masukkan tiga hari lalu, yang tepinya kini penuh coretan pena merah dari tangan yang bukan tangan Pak Damar.
"Tutup pintunya," kata Pak Damar. Suaranya datar, dan justru itu yang membuat Ranu waspada. Pak Damar yang marah masih bisa diajak bicara. Pak Damar yang tenang begini biasanya sudah kalah di suatu tempat yang tak terlihat.
"Kemarin sore aku dipanggil ke Dinas," lanjutnya, akhirnya berbalik. Wajahnya lebih tua dari usianya pagi itu. "Bukan cuma Sudibyo. Ada orang RS Sentana di ruangan yang sama. Mereka menyodorkan laporanmu, Ranu. Dengan namamu di sudut kanan bawah, jelas sekali."
Ranu berdiri diam. "Isinya benar, Pak. Pekerja bangunan itu ditahan empat puluh menit di depan IGD karena urusan deposit. Aku cuma menulis apa yang terjadi."
"Aku tidak bilang kau bohong." Pak Damar menepuk map itu, sekali, keras. "Aku bilang kau menaruh kepala kita semua di talenan. Mereka menyebut kata 'pola'. Mereka menyebut kata 'pencemaran nama baik'. Kau tahu apa yang bisa mereka lakukan pada pos kecil seperti kita kalau mereka mau? Cukup satu tanda tangan, anggaran solar kita dipotong. Dua bulan, ambulansmu jadi besi tua di halaman."
"Jadi kita diam saja?" Ranu merasa suaranya meninggi dan menahannya. "Pasien berikutnya kita antar ke pintu yang sama, lalu kita pura-pura tidak melihat jam?"
Pak Damar memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya, ada sesuatu yang Ranu belum pernah lihat di sana—bukan kemarahan, melainkan lelah yang sudah bertahun-tahun ditelan.
"Duduk," katanya. Ranu tidak duduk. Pak Damar tidak memaksa.
"Kau pikir aku tidak tahu kau benar?" Suara itu turun, hampir pribadi. "Aku sudah dua puluh tiga tahun di layanan ini. Aku sudah mengangkut lebih banyak mayat daripada yang bisa kau bayangkan, dan setengahnya mati bukan karena luka, tapi karena menunggu. Aku tahu, Ranu. Aku tahu lebih lama darimu."
"Kalau begitu—"
"Kalau begitu apa?" Pak Damar melangkah maju. "Kalau begitu aku harus ikut kau bakar diri? Aku punya empat puluh orang di pos ini. Gilang yang baru bisa membaca monitor. Bu Harni yang tinggal setahun lagi pensiun dan pensiunnya bisa mereka utak-atik kalau mereka mau menyakitiku lewat dia. Cempaka yang sedang belajar. Kau kira perjuanganmu cuma soal kau dan hati nuranimu yang bersih?"
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Ranu duga, karena ada benarnya. Ia teringat Bu Harni di luar sana, membungkuk di atas log-nya, menjaga catatan yang mungkin sedang dijadikan alasan untuk menekan Pak Damar.
"Aku tidak minta siapa pun ikut," kata Ranu akhirnya, lebih pelan. "Ini namaku sendiri. Aku yang tanda tangan."
"Di dunia yang mereka jalankan, tidak ada nama yang berdiri sendiri." Pak Damar mengambil map biru itu dan mengangkatnya. "Mereka minta aku menahan laporan-laporan seperti ini. Menyaringnya lebih dulu lewat mejaku sebelum naik. Katanya demi 'ketertiban prosedur'." Ia tertawa kecil, pahit. "Menyaring. Kau tahu apa arti sebenarnya dari menyaring."
"Mengubur."
"Ya." Pak Damar meletakkan map itu kembali, seolah beratnya melebihi kertas. "Dan aku belum bilang iya."
Ranu menatapnya. Untuk sesaat ada celah—setitik harapan bahwa lelaki di depannya ini akan berdiri di sisi yang sama dengannya. Tapi Pak Damar buru-buru menutupnya, seperti menutup pintu ambulans sebelum sirene menyala.
"Tapi aku juga belum bilang tidak," lanjutnya. "Dan untuk sekarang, aku mau kau berhenti. Berhenti menulis laporan yang menyebut RS Sentana. Berhenti mengunjungi IGD Karyahusada di luar tugas. Aku dengar soal dokter itu, Saraswati. Aku dengar juga ada wartawan yang berkeliaran—Wardah, kan, namanya?" Ia melihat kejut kecil di wajah Ranu dan mengangguk. "Ya. Aku dengar semuanya. Aku atasanmu, Ranu. Kalau aku bisa mendengarnya, mereka juga bisa."
Ranu merasa lantai bergeser sedikit di bawah kakinya. Ia belum pernah menyebut Wardah di dokumen mana pun.
"Berapa lama aku harus diam, Pak?"
"Sampai badainya lewat."
"Badai itu tidak akan lewat," kata Ranu, dan kali ini ia tidak menahan diri. "Kalau kita menunggu badainya lewat, kita cuma menunggu sambil menghitung mayat. Bapak sendiri yang bilang tadi. Setengahnya mati karena menunggu."
Sesuatu retak di wajah Pak Damar—Ranu melihatnya jelas, seperti retak halus di kaca yang belum pecah tapi tak bisa lagi utuh. Untuk sekejap ia yakin lelaki itu akan menyerah, akan menggebrak meja dan berkata *kau benar, ayo kita lawan bersama*. Tapi yang keluar hanya helaan napas panjang.
"Keluar," kata Pak Damar, berbalik lagi ke jendela. "Shift-mu mulai setengah jam lagi. Jangan terlambat."
Ranu berdiri satu detik lebih lama, mencari sisa lelaki yang dulu mengajarinya memasang collar dengan benar, yang pernah menangis diam-diam di pojok pos setelah kehilangan seorang anak. Ia tidak menemukannya di punggung yang membeku itu.
Ia keluar. Di ruang dispatch, Bu Harni menatapnya lewat kacamata yang kembali melorot. Tidak ada yang bicara. Radio berderak, sebuah panggilan masuk dari arah Simpang Arteri Wanaraja, dan Ranu meraih tas trauma tanpa menoleh ke belakang—membawa serta retak yang baru saja ia tinggalkan di ruangan itu, yang kini juga menjalar ke dalam dirinya sendiri.