Panggilan itu masuk lewat radio saat Ambulans Sangkala Satu baru merapat di bahu Simpang Arteri Wanaraja untuk mengganti tabung oksigen. Suara Bu Harni datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tertahan di baliknya.
"Sangkala Satu, ada laporan perempuan terluka di rumah kontrakan, Kelurahan Tambaksari. Penelepon perempuan, sambungan terputus di tengah. Tetangga bilang ada keributan. Polisi menyusul, tapi masih di seberang rel."
Ranu menoleh ke Cempaka. Perempuan itu sudah menegakkan punggung, menutup buku catatan ujian keperawatan yang selalu terselip di sakunya. Di kursi kemudi, Gilang menghidupkan mesin tanpa disuruh.
"Kita berangkat," kata Ranu ke radio. "Bu Harni, minta polisi jangan lama."
Jalan menuju Tambaksari sempit dan basah oleh sisa hujan sore. Gilang menekan klakson lebih sering daripada sirene, membelah barisan motor yang enggan minggir. Ranu memegang tas trauma di pangkuan, memutar-ulang di kepala hal-hal yang belum ia ketahui: seberapa parah luka, siapa yang melukai, apakah orang itu masih di sana. Terlalu banyak kosong. Ia benci kekosongan seperti ini.
Rumah kontrakan itu berderet seperti kotak korek api, dinding menempel dinding. Beberapa tetangga berdiri di mulut gang, tak ada yang berani mendekat. Seorang ibu menunjuk pintu paling ujung. "Yang itu, Mas. Sudah dari tadi Bu Ratmi teriak-teriak. Suaminya mabuk."
Ranu turun lebih dulu, tas trauma di bahu. Dari balik pintu triplek yang tertutup terdengar suara benda jatuh, lalu isak yang ditahan, lalu suara laki-laki—berat, pecah, marah pada dunia. Ia mengetuk, keras tapi tidak menggedor.
"Permisi. Ambulans. Kami dengar ada yang perlu ditolong."
Sunyi sekejap. Lalu pintu itu bergetar dari dalam, seperti ada tubuh yang dibanting ke arahnya. "Pergi! Nggak ada yang sakit di sini!"
"Pak, saya Ranu. Cuma mau memastikan semua baik-baik saja. Boleh saya lihat sebentar?"
"Nggak ada urusan sama kalian!"
Ranu menahan Cempaka dengan sebelah lengan, mengisyaratkannya mundur setengah langkah. Ia mengecilkan tubuhnya, merendahkan suara, bukan untuk menantang tapi untuk memberi orang di dalam ruang untuk turun. Dari celah bawah pintu, ia melihat bayangan kaki dan setitik gelap yang merembes—darah, tipis, membentuk garis ke ambang.
"Pak, saya tahu Bapak capek. Saya nggak bawa polisi, nggak bawa masalah. Cuma bawa perban." Ia menelan ludah. "Ada ibu di dalam yang berdarah, Pak. Kalau dibiarkan, bisa gawat. Bapak nggak mau itu terjadi, kan?"
Isak dari dalam pecah jadi tangis perempuan. "Buka, Mas! Tolong—" Suaranya tercekik, lalu terdengar tamparan, dan tangis itu berubah jadi rintihan.
Ranu tak menunggu lagi. Ia mendorong pintu; kaitnya lemah dan terbuka dengan sekali sentak. Ruangan itu kecil, cuma sepetak, dipenuhi bau alkohol dan keringat. Seorang perempuan meringkuk di sudut dekat dipan, tangan menutupi pelipis yang mengalirkan darah ke pipi. Di hadapannya berdiri laki-laki besar, mata merah, botol pecah tergenggam di tangan kanan.
"Keluar!" Laki-laki itu mengayun.
Ranu tidak mundur, tapi juga tidak maju ke arahnya. Ia menyisip ke samping, menempatkan tubuhnya di antara botol pecah itu dan perempuan di sudut. "Cempaka, ke belakang saya. Gilang, jaga pintu, biar terbuka." Kalimatnya pendek-pendek, tenang, seakan sedang membaca peta jalan biasa. Ia menatap laki-laki itu lurus, tidak menantang, tapi tidak juga menunduk. "Pak, taruh botolnya. Bukan buat saya. Buat Bapak sendiri. Kalau polisi datang dan lihat Bapak pegang itu, urusannya jadi panjang. Saya nggak mau Bapak yang rugi."
Laki-laki itu goyah, matanya berpindah antara Ranu dan pintu terbuka tempat tetangga mulai mengintip. Napasnya berat. Sesuatu di bahunya seperti melorot—keletihan, malu, entah apa. Botol itu turun beberapa senti.
"Dia istri saya," gumamnya, suara tiba-tiba serak. "Dia mau pergi."
"Saya ngerti," kata Ranu, dan ia betul-betul berusaha mengerti, meski tangannya siaga. "Kita omongin itu nanti. Sekarang biar saya rawat dulu lukanya. Bapak duduk di situ, ya. Di kursi itu. Biar saya kerja."
Ada jeda panjang, jeda yang terasa seperti satu menit emas tersendiri. Lalu botol itu jatuh dari genggaman, pecah lagi di lantai semen, dan laki-laki itu merosot ke kursi sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Ranu tak membuang waktu. Ia berlutut di depan perempuan itu—Bu Ratmi, katanya lirih. "Ibu, saya Ranu, paramedis. Saya bantu, ya." Ia menekan kasa steril ke pelipis yang robek, memberi tekanan mantap. Cempaka sudah di sisinya, membuka tas trauma, menyorotkan senter kecil ke mata Bu Ratmi. "Pupil sama besar, reaksi bagus," bisik Cempaka. "Tapi ada lebam lama di lengan, Ranu. Nggak cuma hari ini."
Ranu mengangguk pelan, menyimpan kalimat itu untuk laporan nanti. Sekarang yang penting cuma satu: mengeluarkan perempuan ini dari ruangan sempit itu. "Bu, kita jalan ke ambulans, ya. Pelan-pelan. Pegangan ke saya."
Dari luar terdengar deru motor dan langkah tergesa—dua petugas akhirnya tiba, napas memburu. Ranu memberi isyarat cepat: laki-laki di kursi, sudah tenang, jangan dikasari lebih dulu. Ia tak ingin ruangan itu meledak lagi tepat saat semua nyaris reda.
Mereka memapah Bu Ratmi keluar, melewati pecahan kaca, melewati suami yang kini menangis tanpa suara. Di ambang pintu, perempuan itu menoleh sekilas ke arah laki-laki itu—tatapan yang Ranu tak sanggup baca, campuran takut, iba, dan lelah yang jauh lebih tua dari lukanya.
Di kabin Ambulans Sangkala Satu, Cempaka memasang sungkup oksigen dan membersihkan darah yang mengering. Gilang menutup pintu belakang dan naik ke kemudi. Bu Ratmi menggenggam ujung lengan seragam Ranu, erat, seolah takut dilepas.
"Nanti dia dihukum?" tanyanya nyaris tak terdengar.
Ranu tidak menjanjikan apa-apa yang tak bisa ia tepati. "Yang saya tahu, Bu, malam ini Ibu selamat. Itu dulu."
Ia mengetuk sekat kabin. "Jalan, Gilang. RS Karyahusada." Setidaknya di sana, ia tahu, ada satu pintu yang tidak akan terkunci.
Sirene meraung membelah gang sempit Tambaksari, dan Ranu menahan tangan perempuan itu sepanjang jalan—bukan sebagai paramedis pada pasien, tapi sebagai orang yang menolak, sekali lagi, membiarkan satu nyawa terlepas dari genggamannya.