Panggilan itu masuk pukul empat lewat sepuluh, saat langit Kota Sangkala masih sewarna abu basah. Bu Harni menyebutkan alamatnya dengan suara yang sudah hafal jalan-jalan kota di luar kepala: seorang lelaki tua, nyeri dada hebat, keringat dingin, di rumah petak dekat pasar lama. Ranu menekan tombol sirene sebelum Cempaka sempat menutup pintu kabin.
"Umur berapa katanya?" tanya Cempaka, menahan tas trauma di pangkuannya saat Ambulans Sangkala Satu membelok tajam.
"Tujuh puluh tiga," jawab Ranu. Ia tidak menambahkan apa yang mereka berdua sudah tahu: bahwa di umur itu, di jam itu, menit emas terasa lebih pendek daripada biasanya.
Rumah petak itu sempit, berdinding tripleks yang melengkung dimakan lembap. Lelaki tua itu—Pak Marsudi, kata istrinya yang menggigil di ambang pintu—terduduk memeluk dadanya sendiri, wajahnya kelabu, bibirnya membiru tipis. Ranu berlutut, menempelkan jari di pergelangan tangan yang basah dingin itu. Denyutnya cepat dan tak beraturan, seperti pintu yang dibanting angin.
"Pak, saya Ranu. Bapak tarik napas pelan-pelan, ikuti saya." Ia memasang sungkup oksigen sementara Cempaka merekatkan sadapan monitor jantung ke dada yang kurus itu. Layar kecil menyala, garisnya melonjak-lonjak tak keruan. Cempaka menoleh, dan dalam tatapan itu Ranu membaca kata yang tak diucapkan: elevasi. Ini serangan, dan ini sungguhan.
"Tekanan delapan puluh per lima puluh," lapor Cempaka. Rendah. Terlalu rendah.
Ranu memasang jalur infus di lengan yang venanya nyaris kolaps, tangannya bekerja tenang meski jantungnya sendiri berdetak keras. Ia tahu di kabin ini ia bisa menahan Pak Marsudi tetap hidup untuk beberapa menit. Tapi menit-menit itu tidak akan berarti apa-apa jika tak ada pintu yang mau terbuka di ujung jalan.
"Kita bawa ke mana?" Cempaka sudah menuntun brankar keluar, roda-rodanya berderak di lantai semen.
RS Sentana yang paling dekat. Tujuh menit, mungkin enam kalau jalan arteri belum ramai. Ranu menahan napas sekejap, membayangkan pintu itu—membayangkan formulir, deposit, dan suara petugas yang memintanya menunggu. Ia sudah terlalu sering berdiri di depan pintu itu, memeluk pasien yang perlahan pergi.
"Karyahusada," katanya. "Kita ke Karyahusada."
Cempaka menatapnya sepersekian detik. Lebih jauh. Sepuluh menit, barangkali lebih. Tapi ia tidak membantah. Ia hanya menaikkan brankar dan menutup pintu kabin.
Ranu meraih radio. "Pos Sangkala, ini Sangkala Satu. Bu Harni, tolong sambungkan saya ke IGD Karyahusada. Cari dr. Saraswati. Sekarang."
Sesaat hanya ada deru mesin dan sirene. Lalu suara Bu Harni, datar dan cekatan seperti biasa, "Ditunggu, Ranu."
Ambulans melaju membelah subuh. Di belakang, Cempaka menyebutkan angka-angka dengan suara yang dijaga tetap tenang untuk telinga Pak Marsudi—nadi, saturasi, tekanan yang masih membangkang di bawah normal. Ranu memegang kemudi dengan satu tangan dan gagang radio dengan tangan lain, matanya melompat dari jalan ke spion.
Radio berdesau. Lalu suara itu—lelah, serak karena giliran jaga yang belum juga usai, tapi tegas. "Ranu, ini Saraswati. Apa yang kaubawa?"
"Laki-laki, tujuh puluh tiga, nyeri dada dengan elevasi di sadapan, tekanan delapan puluh per lima puluh, sudah dapat oksigen dan cairan. Sepuluh menit lagi sampai." Ranu menelan ludah. "Dok, saya tidak mau berhenti di pintu. Saya tidak mau menunggu formulir."
Ada jeda sepersekian detik di ujung sana. Ranu sudah menyiapkan diri untuk mendengar keraguan—untuk mendengar aturan. Tapi yang datang justru sebaliknya.
"Kau tidak akan menunggu apa-apa," kata dr. Saraswati. "Bawa langsung masuk lewat pintu belakang IGD. Aku siapkan ruang dan tim sekarang. Beri tahu aku begitu kalian belok ke Wanaraja."
Ranu menutup mata sekejap—hanya sekejap, karena jalan tak memberinya kemewahan lebih. Sesuatu di dadanya melonggar, seperti simpul yang selama ini ia kira tak bisa lagi dibuka.
"Belok Wanaraja," lapornya beberapa menit kemudian, memutar kemudi. Di kabin belakang, monitor jantung mengeluarkan bunyi peringatan—garis itu meliuk buruk. "Cempaka?"
"Masih ada nadi. Cepat, Ranu."
Ia menekan pedal. Simpang Arteri Wanaraja masih lengang, lampu-lampunya berpendar di aspal basah, dan untuk sekali ini kota seolah memberi jalan. Gerbang RS Karyahusada muncul di ujung tikungan, dan di bawah lampu IGD yang menyala terang, seseorang sudah berdiri menunggu dengan brankar dan dua perawat.
dr. Saraswati tak menyia-nyiakan satu detik pun. Begitu pintu kabin terbuka, ia sudah mencondongkan badan ke dalam, matanya membaca monitor sebelum tangannya menyentuh pasien. "Bagus. Langsung ke ruang tindakan. Panggil kardiologi jaga." Tak ada meja penerimaan, tak ada pertanyaan tentang siapa yang menanggung biaya. Hanya tangan-tangan yang bergerak, dan seorang lelaki tua yang didorong melewati pintu yang terbuka lebar.
Ranu berdiri di trotoar IGD, napasnya baru mulai teratur. Cempaka bersandar di sisi ambulans, mengusap wajah dengan lengan bajunya yang basah oleh keringat.
"Dia akan bertahan," kata Cempaka pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Ranu.
"Entahlah." Ranu memandangi pintu itu, yang kini menutup perlahan di belakang brankar. "Tapi dia dapat kesempatan. Dia sampai ke meja yang tepat, masih dalam waktunya."
Setengah jam kemudian dr. Saraswati keluar, melepas sarung tangan, garis-garis lelah menajam di sekitar matanya. Ia berhenti di depan Ranu, dan untuk beberapa saat keduanya hanya diam, dua orang yang terlalu letih untuk basa-basi.
"Kardiologi sudah menanganinya," katanya akhirnya. "Kalau tak ada yang aneh, dia pulang ke istrinya minggu depan."
Ranu mengangguk. Ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi kata itu terasa terlalu kecil untuk apa yang baru saja terjadi.
"Kau lihat tadi?" dr. Saraswati bicara lebih dulu, suaranya rendah. "Tidak ada yang ajaib. Aku cuma memutuskan untuk tidak berhenti di pintu. Semua yang lain—ruangan, tim, alat—sudah ada di sana sepanjang waktu."
"Itu yang membuatnya menyakitkan," kata Ranu. "Sesederhana itu. Dan tetap saja, tidak semua orang mau."
Dokter itu menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih menyerupai luka daripada kegembiraan. "Kalau begitu kita catat yang satu ini. Satu yang berhasil." Ia berbalik hendak masuk, lalu berhenti. "Bawa yang berikutnya ke sini juga, Ranu. Selama aku masih berjaga, pintu ini tidak akan kaujumpai tertutup."
Ranu memandangnya melangkah kembali ke dalam cahaya IGD. Di sampingnya, Cempaka sudah menutup pintu kabin, dan langit di atas Kota Sangkala mulai memutih. Ia tahu ini hanya satu nyawa, satu pagi, satu pintu di antara ratusan yang masih terkunci di seluruh kota. Tapi untuk pertama kalinya sejak waktu yang panjang, ia menyalakan mesin ambulans dengan sesuatu yang menyerupai harapan.