Hujan gerimis menempel di kaca IGD RS Karyahusada ketika Ranu masuk lewat pintu samping, pintu yang biasa dipakai petugas kebersihan. dr. Saraswati sudah menunggunya di ujung koridor, di dekat gudang linen yang lampunya separuh mati. Ia mengenakan jas putih yang kusut di bagian siku, dan lingkar hitam di bawah matanya lebih tebal dari terakhir kali Ranu melihatnya. Tangannya memegang map cokelat, ditekan ke dada seperti orang menyembunyikan bara.
"Sepuluh menit," kata dr. Saraswati tanpa basa-basi. "Aku baru turun jaga. Kalau ada yang tanya, kau antar berkas rujukan pasien tadi pagi."
Ranu mengangguk. Ia mengikuti dokter itu masuk ke ruang jaga kecil di balik gudang, ruang tanpa jendela yang berbau kopi basi dan disinfektan. dr. Saraswati menutup pintu, lalu meletakkan map itu di atas meja. Ia tidak langsung membukanya. Untuk sesaat, jarinya hanya diam di atas sampul, seolah menimbang apakah ia benar-benar akan melakukan ini.
"Aku bukan orang IT," katanya akhirnya. "Aku cuma dokter yang belajar bikin tabel. Tapi aku bisa baca angka. Dan angka ini tidak bohong."
Ia membalik sampul. Di dalamnya, lembaran-lembaran cetakan dengan kolom rapat: tanggal, jam panggilan, jam penerimaan, kode wilayah, keterangan. Sebagian baris ditandai stabilo kuning, sebagian lagi merah muda. Ranu mencondongkan badan. Ia sudah biasa membaca run sheet, tapi ini berbeda. Ini bukan satu kejadian. Ini ratusan.
"Aku tarik data enam bulan terakhir," ujar dr. Saraswati. "Bukan cuma dari sini. Aku minta bantuan kawan lama yang jaga administrasi rujukan antar-rumah-sakit. Dia kira aku mau bikin makalah." Ia tersenyum tipis, tanpa geli. "Yang kuning ini penerimaan yang lancar. Yang merah muda, yang ditolak atau ditahan lebih dari empat puluh menit sebelum akhirnya dioper ke tempat lain."
Ranu menyapu deretan baris merah muda dengan matanya. Lambat-lambat, pola itu mulai terbentuk, seperti wajah yang muncul dari kabut. Ia menahan napas.
"Lihat kolom kode wilayah," kata dr. Saraswati, seakan membaca pikirannya. Ujung penanya menunjuk satu angka yang berulang-ulang di baris merah muda. "Tambaksari. RW empat. Baris merah muda ini—hampir semuanya dari sana. Dari kelurahan yang sama. Dari gang-gang yang sama."
Ranu tidak bicara. Sesuatu di dadanya mengeras.
"Aku hitung persentasenya." dr. Saraswati menarik satu lembar dari bawah, lembar yang ditulis tangan, angka-angka dilingkari dengan pena biru. "Pasien dari perumahan Wanaraja, dari kompleks pegawai, tingkat penolakan di RS Sentana di bawah sepuluh persen. Wajar, ada saja yang penuh betulan. Tapi pasien dengan alamat Tambaksari, terutama sekitar Gang Kenanga—" ia berhenti sebentak, seakan nama itu pun menahannya, "—hampir empat dari sepuluh ditolak atau ditahan sampai lewat menit emasnya. Empat dari sepuluh, Ranu. Untuk alamat yang sama persis."
Ranu menegakkan punggung. Selama ini ia menyimpan salinan run sheet-nya sendiri, malam demi malam, menuliskan jam penolakan dengan tangan yang kadang gemetar oleh marah. Ia tahu ada yang salah. Ia merasakannya di setiap perjalanan panjang mencari ranjang, di setiap wajah keluarga yang menunggu di pintu yang tak kunjung terbuka. Tapi selama ini itu cuma perasaan. Cuma kesan seorang paramedis yang terlalu sering pulang dengan tangan kosong. Kesan bisa dibantah. Perasaan bisa disebut lebay, disebut cari sensasi, disebut tak becus mencari fasilitas.
Angka tidak bisa dibantah begitu saja.
"Ini bukan kebetulan," kata Ranu pelan. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
"Kebetulan tidak berpola," jawab dr. Saraswati. "Kebetulan tidak memilih kelurahan. Yang berpola itu keputusan. Entah tertulis entah tidak, seseorang di sana memutuskan bahwa alamat tertentu tidak sepadan dengan satu ranjang."
Ranu memandangi baris-baris merah muda itu. Di antara ratusan angka tanpa nama, ia tahu ada satu yang tak tercetak di sini—dua tahun terlalu jauh untuk masuk rentang enam bulan. Tapi ia bisa merasakannya, hantu di sela kolom-kolom itu. Seorang remaja dari Gang Kenanga Tiga. Alamat yang sama. Pola yang sama. Ia menelan sesuatu yang pahit.
"Kau tahu apa artinya kalau ini keluar," kata Ranu.
"Aku tahu persis apa artinya buat aku." dr. Saraswati bersandar ke dinding, memijat pangkal hidungnya. "Karena itu aku bimbang tiga minggu sebelum mencetaknya. Aku punya cicilan rumah. Aku punya nama yang belum tercoreng. Semua yang kupelajari sejak koas bilang: jangan cari ribut, urus pasienmu, pulang." Ia menurunkan tangan, menatap Ranu lurus. "Tapi tadi malam ada anak kejang dari Tambaksari yang mestinya sudah di ruang anak sejam sebelumnya. Aku terima dia di sini, di IGD yang penuh, karena tak ada yang mau. Dan aku sadar, kalau aku diam, aku cuma jadi tempat penampungan orang-orang yang sudah ditolak di tempat lain. Aku tidak mau jadi cuma itu."
Ranu mengumpulkan lembaran-lembaran itu dengan hati-hati, seolah takut angka-angka itu berhamburan dan hilang. "Aku punya salinanku sendiri. Run sheet. Jam penolakan. Tulisan tangan, berantakan, tapi cocok." Ia menepuk map cokelat itu. "Kalau punyaku ditumpuk dengan punyamu, ini bukan lagi cerita satu paramedis yang sakit hati. Ini catatan yang saling menguatkan."
"Itu yang kupikirkan." dr. Saraswati menyodorkan map itu sepenuhnya ke arah Ranu. "Bawa. Jangan simpan di pos. Jangan simpan di tempat yang bisa disita. Dan jangan sebut namaku sampai kau benar-benar harus."
Ranu menerima map itu. Terasa ringan di tangan, hanya kertas, tapi ia tahu beratnya. Ia menatap dokter di depannya—perempuan lelah yang bisa saja memilih pulang dan tidur, tapi memilih mencetak kebenaran di kertas yang bisa menamatkan kariernya sendiri.
"Kenapa kau percaya padaku?" tanya Ranu.
dr. Saraswati membuka pintu, membiarkan hawa dingin koridor masuk. "Karena kau satu-satunya orang yang masih marah dengan cara yang benar," katanya. "Sisanya sudah terlalu capek untuk marah. Sekarang pergi, sebelum ada yang lihat."
Ranu keluar lewat pintu samping yang sama, map cokelat itu ia selipkan di balik jaket. Gerimis masih turun. Ia berjalan menembusnya menuju Ambulans Sangkala Satu yang menunggu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa dugaan yang selama ini menghantuinya telah berubah wujud—menjadi sesuatu yang bisa dipegang, dihitung, dan suatu hari, disodorkan ke wajah orang-orang yang berpura-pura tak melihatnya.