Makan malam berjalan lancar dan setelah selesai, Felix pun mengantarkan Siska pulang ke rumah sakit karena gadis itu bersikeras ingin tidur di rumah sakit menemani sang ayah.
"Lain waktu kita akan makan malam bersama dengan ayahmu juga," kata Resita saat Siska pamit pulang.
"Ingat, besok siang aku akan menjemputmu. Kita akan fitting gaun pengantin," kata Felix kepada Siska.
"Baik, Pak," jawab Siska singkat. Ia masih merasa kesal kepada lelaki itu. Tapi, apa daya ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Felix mengantarkan gadis itu sampai ke depan kamar VVIP tempat pak Arif dirawat. Dan rupanya, saat mereka datang Pak Arif sudah lelap tertidur. Felix pun segera pamit, sementara Siska yang memang sudah merasa lelah langsung berbaring di tempat tidur lain yang ada di ruangan itu.
*****
Siska terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamar, ia bergegas membuka pintu.
"Selamat pagi, Mbak Siska."
Siska tersenyum melihat kedatangan Ceris, dia adalah perawat yang dibayar oleh Felix. Tetapi , yang membuat Siska terbelalak adalah seseorang yang berjalan di belakang Ceris. Sosok yang selama 24 jam terakhir ini amat sangat meresahkan.
Siska berusaha untuk menjauh dari Felix yang menatapnya dengan tajam seolah berkata, tunggu jika Ceris sudah keluar dari ruangan ini.
"Maaf saya membangunkan Mbak, karena Tuan Felix sudah datang, sekalian saya juga mau memeriksa ayah Anda," kata Ceris.
"Kamu ada janji sama Pak Felix, Nak?" tanya Arif pada Siska yang tampak masih sedikit mengantuk.
Gadis itu hanya menggaruk kepala, lalu bergegas menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Untung saja, gadis itu tidak pernah berlama-lama jika di kamar mandi sehingga dalam waktu 10 menit saja dia sudah siap.
"Saya bawa Siska dulu, Pak. Bapak tidak apa-apa kan kami tinggal?" ujar Felix dengan ramah pada Arif.
"Silakan Nak. Bapak baik-baik saja," jawab Arif.
Siska pun segera berpamitan tak lupa mencium tangan sang ayah sebelum akhirnya melangkah keluar kamar rawat itu.
"Apa yang aku bilang kemarin? Bukan hanya ceroboh, kamu ini benar-benar pelupa," ujar Felix saat keduanya sudah berada cukup jauh dari kamar perawatan pak Arif.
"Saya salah apa lagi, Tuan?" tanya Siska.
"Tuan ... Kamu pikir berapa usia saya?!" hardik Felix sambil mendorong dahi Siska dengan jari telunjuknya.
"Berapa kali saya bilang, Panggil saya Mas! Mana ponselmu?"
Sambil meringis, Siska mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas. Dan, ponsel itu dalam kondisi mati. Semalam dia memang lupa mengisi daya.
Felix menghela napas dengan kasar, "Pernikahan kita dipercepat. Jadi,kita akan memilih gaun pengantin yang cocok untukmu."
"Aku paling tidak suka jika ada yang tidak mematuhi keinginanku. Aku hanya menyuruhmu untuk tidak mematikan ponselmu. Apa itu susah?" tanya Felix.
"Saya ...."
Felix mengangkat tangannya, "Tidak usah kamu teruskan, aku tau apa yang akan kamu katakan. Pasti mau minta maaf, iya,kan?"
Siska lagi-lagi hanya bisa mengutuk Felix di dalam hati.
"Tadinya mau minta maaf, tapi sekarang saya mau ngomel. Mas ini nggak tau kalau pagi-pagi itu nggak boleh marah-marah. Saya tau saya mesti nurut, tapi ya kira-kira juga kalau mau ngomel. Pagi-pagi anak gadis orang bukannya dikasi makan, dikasi sarapan atau apa gitu, ini malah diomelin. Kenyang banget saya mas, sarapan pake omelan, berasa makan bakso pake sambal satu mangkuk!"
Felix melongo, untuk pertama kalinya ia mendengar Siska bicara dalam kalimat yang cukup panjang.
"Kamu marah sama saya?" tanya Felix.
"Ya Tuan pikirin aja sendiri kalau Tuan ada diposisi saya kira-kira gimana? Emang Tuan mau diomelin gitu pagi-pagi?" jawab Siska dengan kesal.
Perutnya yang lapar membuat gadis itu tiba-tiba memiliki keberanian untuk mengomeli Felix. Sementara yang diomeli hanya mendecih sebal. Namun, tiba-tiba mendengar bunyi perut Siska yang tanpa permisi membuat Felix mau tidak mau menahan tawa.
Sementara Siska sendiri langsung memalingkan wajahnya yang memerah karena ketauan bahwa ia lapar.
Meski menyebalkan, tapi Felix bukanlah orang yang kejam hingga membiarkan anak gadis orang kelaparan. Ia pun membelokkan mobilnya ke sebuah restoran 24 jam siap saji.
"Katanya mau ke butik?" tanya Siska.
"Dari pada nanti bunyi perutmu makin keras trus bikin malu di butik, jadi kamu makan dulu."
Siska pun mengikuti langkah Felix sambil menahan senyum.
"Saya kalau pagi banyak makan," kata Siska.
"Uang saya nggak akan habis meski restoran ini saya beli," jawab Felix dengan ketus, "Cepat sana pesan, ini uangnya, tolong pesankan saya coklat panas dan burger keju dobel," kata Felix sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Siska.
Lelaki itu harus membelalakkan mata saat melihat Siska kembali dengan baki yang penuh makanan. Ada burger, dua potong paha ayam, sup, spagetti dan ice cream. Bahkan untuk membawa semuanya ia sampai dibantu oleh seorang waiters.
"Kamu kuat menghabiskan ini semua?" tanya Felix.
"Ya kuat-lah. Saya kan udah bilang kalau saya sarapan paginya banyak. Nggak hanya sarapan, tapi memang saya kuat makan. Jadi, kalau Tu- Mas mau nikahin saya, Mas harus kasi saya makan yang banyak," jawab Siska sambil mendelik.
Felix kembali dibuat melongo saat melihat Siska makan dengan lahap. Ia memakan semua makanan yang ada di hadapannya dengan cepat dan sangat lahap.Padahal, Felix ingat dengan jelas, semalam saat mereka makan malam bersama Resita, Siska makan dengan anggun dan dalam porsi kecil. Bahkan Resita sampai harus menambahkan beberapa lauk ke atas piring Siska supaya gadis itu mau makan banyak.
Tetapi, apa yang Felix lihat pagi ini seratus delapan puluh derajat sangat jauh berbeda.
Sehingga , pada akhirnya Felix hanya memperhatikan Siska makan tanpa berkedip sampai gadis itu menghabiskan seluruh makanan di hadapannya tanpa sisa sama sekali.
"Loh, burger Mas kok masih utuh? Kenapa nggak dimakan?" tanya Siska.
"Kamu masih mau? Saya mendadak kenyang," kata Felix sambil meletakkan burger yang memang belum ia sentuh itu di atas piring Siska. Tanpa ia sangka, gadis bertubuh tinggi namun agak kurus itu meraih burger yang ia berikan dan hanya dalam waktu beberapa menit burger itu sudah habis dan Siska tampak puas sambil menyesap mocca floatnya.
"Kamu makan sebanyak itu setiap hari?" tanya Felix.
"Kenapa memangnya?"
"Semalam kamu makan sedikit sampai mami saya yang berkali- kali menyendokkan lauk untuk kamu," kata Felix.
"Oh, itu ... Ya saya harus jaga image dong, Mas. Nggak lucu kan kalau mami Anda nggak setuju sama saya hanya gara-gara saya makan kayak kuli. Kalau sampai batal saya harus ganti rugi."
Mendengar jawaban Siska, Felix tanpa ragu menjewer kuping gadis itu.
"Nggak ada akhlak!" makinya.
****