Siska menatap sang ayah lalu sambil tersenyum malu ia mengangguk. Seandainya saja ada sutradara film, tentu Siska sudah diajak syuting karena ekspresi wajahnya yang natural.
"Iya Ayah, aku suka sama Pak Felix."
Arif melengkungkan senyum, lalu menganggukkan kepala, "Baiklah, kalau begitu dia boleh datang untuk melamarmu pada ayah."
Siska tersenyum, lalu mencium sang ayah dengan lembut. "Makasih, Ayah. Ya udah, sekarang Ayah istirahat lagi, ya."
Arif hanya mengangguk dan memejamkan mata. Lelaki itu memang merasa lelah. Sementara Siska sendiri langsung mengirimkan pesan kepada Felix. Mengatakan jika sang ayah sudah setuju dan tidak curiga.
~Aku sudah meyakinkan Ayah. Tolong pastikan ayah gak curiga.~
*****
Pagi itu, Felix sengaja menjemput Siska di rumah sakit karena dia tau gadis itu pasti menemani Arif di sana. Dia bermaksud untuk membawa Siska ke suatu tempat. Untungnya, ketika dia datang, Siska sudah selesai menyuapi Arif sarapan. Jadi, tidak terlalu banyak drama saat berpamitan pada Arif untuk membawanya.
"Buat apa kita ke sini, Pak?" tanya Siska saat mereka turun di sebuah butik ternama.
"Udah ga usah banyak tanya, tinggal ikut aja susah," jawab Felix.
Felix yang melihat betapa lambatnya Siska langsung menarik tangan Siska tak sabar. Saat memasuki butik, keduanya langsung disapa oleh seorang gadis.
"Pagi Pak … Bapak mencari pakaian untuk siapa?" tanya seorang pelayan butik dengan ramah.
"Aku mau gaun malam untuk calon istriku," jawab Felix datar.
Pelayan tadi melirik sekilas kepada Siska kemudian ia segera berlalu dan kembali dengan beberapa pakaian di tangannya.
"Kamu coba satu persatu lalu perlihatkan kepadaku," kata Felix.
"Sa-saya?"
"Iya, jangan banyak membantah," ujar Felix.
Siska pun hanya bisa menghela napas panjang dan mau tak mau ia mulai mencoba pakaian yang diberikan kepadanya. Jika Felix menyukainya, maka ia langsung menyuruh pelayan untuk memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
Hampir dua jam mereka berada di butik itu dan ketika mereka meninggalkan butik tangan Siska sudah menenteng banyak shopping bag berisi pakaian baru dan beberapa pasang sepatu juga tas baru.
Felix langsung membawa Siska pulang kembali ke rumahnya karena gadis itu berniat untuk membawa pakaian ganti juga untuk papanya.
Tadinya, Siska sempat menolak karena dia ingin menemani Papanya di rumah sakit. Tetapi, Felix memberitahu jika dia sudah menyewa perawat sehingga gadis itu pun tidak bisa menolak lagi.
"Kamu mandi dan bersiap. Tepat pukul enam sore aku akan menjemputmu. Ingat, berdandan yang rapi, pakai baju yang tadi aku suruh juga sepatunya. Apa kamu dengar?"
Siska hanya mengangguk, lalu turun dari mobil Felix. Melihat Siska yang kesulitan membawa belanjaan Felix hanya mengendikkan bahunya tanpa berniat untuk membantu gadis itu sedikit pun. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mobil Felix pun langsung meluncur pergi.
Sementara Siska bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia meletakkan semua belanjaannya di kamar dan mengempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan perasaan campur aduk.
Siska tersentak kaget saat ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Gadis itu panik dan segera melangkah ke kamar mandi. Siska tak sempat lagi memakai make up berlama-lama. Siska akhirnya hanya memakai make up tipis dan lipstik berwarna nude senada dengan gaun yang ia kenakan.
Tepat ketika Siska selesai mengenakan sepatu, terdengar bunyi klakson di depan rumahnya. Gadia itu pun bergegas menyambar tas tangannya dan berjalan keluar. Felix sudah menunggu dengan wajah dinginnya di atas mobil.
"Saya sudah bilang dandan yang cantik, kenapa hanya seperti ini?" tanya Felix.
"Bapak hanya menyuruh saya berdandan cantik tapi tidak menyebutkan jika saya harus berdandan seperti habis dari salon."
Felix hanya mendengus kesal, untung saja Siska memiliki wajah yang cantik sehingga hanya memakai make up tipis pun ia sudah terlihat cantik.
"Kamu pasti terburu-buru tadi, jawab!" hardik Felix, "Tadi itu ada dari siang sampai sore untukmu bersiap-siap, apa saja yang kamu lakukan?"
Siska menghela napas panjang, dengan takut-takut ia mengangkat wajahnya sambil menatap Felix. "Sa-saya tadi ketiduran, Bapak."
"Ya Tuhan! Kamu ini,ya! Bisa ga sih jangan bikin emosi?!" seru Felix dengan wajah memerah.
"Namanya orang ngantuk ya tidur, Pak. Bapak ga tau aja saya kurang tidur selama di rumah sakit. Belum lagi tugas kuliah juga lumayan banyak, jadi_"
"Stop!Ga usah curhat! Sekarang kita pergi ke restoran, Mama dan Papa saya udah ke sana duluan," kata Felix memotong ucapan Siska.
"Bukannya Papanya Bapak ada di_"
"Ya! Jepang! Tadi mama yang jemput ke bandara, dari sana mereka langsung ke restoran. Udah jangan banyak omong, cepet naik ke mobil. Trus ya, berapa kali saya bilang jangan panggil Bapak! Emang saya Bapak kamu!" gerutu Felix kesal.
"Ya abis gimana, kebiasaan soalnya," jawab Siska dengan santai membuat Felix bertambah sewot. Tetapi, mau tidak mau dia harus menahan emosinya.
“Terserah kamu aja, yang penting di depan papa saya kamu ga boleh begini. Kamu udah bisa kan sandiwara di depan mama saya," kata Felix tegas.
"Iya … saya paham."
Setiba di restoran, ternyata kedua orang tua Felix sudah menunggu. Resita yang sudah mengenal Siska tampak jauh lebih ramah dibandingkan ketika pertama kali mereka bertemu.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Siska ramah.
"Hmm ... panggil Mama saja, kamu kan akan menjadi menantuku, jadi nggak usah panggil tante-lah. Panggil Mama saja," ujar Resita.
"Dan ini papa Handi, Papanya Felix," kata Resita lagi sambil memperkenalkan Siska kepada lelaki di sampingnya.
"Cantik, kan calon mantu kita, Pa?" ujar Resita pada sang suami.
"Cantik itu relatif, Ma. Tapi, buat Papa paling cantik tetep mama," jawab Handi sambil tersenyum.
"Ya sudah, ayo Siska mau pesan makanan apa? Mama sudah pesan sih, tapi, kalau kamu mau menu yang lain, boleh pesan," kata Resita dengan ramah.
"Siska ikut aja, Mi."
Siska tidak berani memilih menu apapun, dia memilih untuk ikut saja apa yang sudah dipilih oleh Resita. Dari pada salah lagi, Felix bisa mengamuk padanya. Meski kedua orang tua Felix bersikap hangat padanya, tetap saja Siska merasa sangat deg-deg-an.
"Kamu sudah siap menikah dengan Felix?" tanya Handi dengan hangat kepada Siska.
"Siaplah, Pa," sahut Felix.
Resita langsung menoleh ke arah putranya itu, "Papamu nggak tanya kamu, Papa tanya Siska. Bagaimana, Siska, kamu siap menikah dengan Felix?"
Siska terdiam sejenak, ia melirik ke arah Felix yang sudah menatapnya dengan begitu tajam. "Sa-saya siap, Ma."
Akhirnya lolos juga kalimat itu dari mulut Siska.
"Bagus kalau begitu,karena Mama nggak mau kalian menunda lebih lama lagi. Bagaimana kalau bulan depan saja, Felix?"
****