Mendengar jawaban Siska, Felix tanpa ragu menjewer kuping gadis itu.
"Nggak ada akhlak!" makinya.
"Anda yang nggak punya akhlak! Jewer kuping orang sembarangan," jawab Siska dengan kesal sambil memegangi kupingnya yang terasa panas.
Felix tak peduli dengan Siska yang meringis, ia pun segera menarik tangan gadis itu dan mengajaknya bergegas.
"Kamu boleh memilih gaun pengantin yang kamu mau nanti di sana. Butik itu adalah butik langganan Mamaku. Yang datang ke sana artis-artis dan juga istri-istri pejabat. Mamaku mau calon menantunya tampil cantik."
Siska tak menyahuti ucapan Felix, ia hanya menatap ke depan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hei, kamu dengar tidak perkataanku?" tanya Felix.
"Iya, saya dengar, Mas. Nggak usah teriak- teriak segala. Saya nggak budek. Tapi, Nyonya Resita juga memiliki butik, kenapa kita ke butik lain?" jawab Siska dengan kesal.
"Butik Mamaku itu khusus untuk anak dan remaja juga wanita berhijab. Di sini spesialis pakaian pengantin."
Felix pun hanya mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia merasa kesal bukan main dengan sikap Siska. Sampai akhirnya mereka pun tiba di sebuah butiik yang cukup besar. Siska mengenali butik itu adalah butik milik designer ternama. Harga pakaian di sana bisa jutaan bahkan ada yang puluhan juta karena Siska kebetulan salah satu followers i********: butik tersebut.
Gadis itu mencubit tangannya sendiri, mimpi apa aku bisa masuk ke butik impianku," batin Siska.
"Hallo, Mas Felix. Tante sudah menunggu, Mamamu semalam sudah menelepon tante."
Saat mereka masuk, seorang wanita cantik dengan penampilan modis menyambut mereka. Siska mengenalinya sebagai Cantika Natalia sang pemilik butik. Diam-diam ia mengagumi wajah Cantika yang begitu cantik meski usianya tak lagi muda.
"Jadi, ini calonmu, cantik juga, sayang agak sedikit kurus. Kamu harus lebih memperhatikan makannya, loh, Lix," kata Cantika sambil memeluk pinggang Siska dan membawa gadis itu.
"Tante nggak tau aja kalau dia makan mirip kuli yang udah nggak makan seminggu," jawab Felix. Cantika tentu saja tertawa geli menanggapi perkataan Felix. Wanita itu mengibaskan tangannya, "Kalau dia makan banyak, nggak akan sekurus ini, Felix. Udah, sekarang kita ke ruangan tante aja. Tante sudah memilihkan beberapa gaun pengantin yang cantik juga ada cemilan yang kamu pasti suka," kata Cantika lalu berjalan membawa mereka ke ruangan pribadinya yang berada di lantai dua.
Seperti yang Cantika katakan, di ruangan yang berfungsi sebagai ruangan pribadi merangkap ruang kerjanya yang cukup besar itu sudah ada beberapa manekin yang memakai gaun pengantin yang berbeda. Semua gaun itu sangat indah di mata Siska. Bahkan salah satu gaun yang dipakai manekin itu mirip dengan gaun cinderella yang pernah ia lihat di film.
"Wah, gaunnya cantik semua,Tante," kata Siska.
"Tentu, calon pengantinnya saja cantik begini," kata Cantika , "bagaimana kalau kita coba dulu yang ini?"
Cantika memperlihatkan gaun pengantin modern ball gown yang terlihat mewah dan modern dengan warna putih.
"Coba dulu gaun ini," kata Cantika . Siska pun langsung mencoba gaun yang diberikan oleh Cantika . Gaun yang indah itu tampak cantik sekali saat dikenakan oleh Siska, namun sayang sekali, pinggang Siska yang kecil membuat gaun itu terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.
"Tuh, kan kurus banget deh, padahal gaun ini lagi trend banget deh," keluh Cantika .
"Masih ada yang lain, kan, Tante," jawab Felix. Pemuda itu sebenarnya takjub saat melihat Siska tampil cantik dengan gaun yang ia kenakan.
Cantika mengambil gaun yang kedua, gaun dengan kerah sabrina dan detail yang elegan dan halus, berwarna putih tulang, terlihat sangat feminin.
"Kalau pesta kalian konsepnya outdoor gaun ini sangat cocok dengan Siska. Apa lagi jika rambutnya di sanggul dan diberi mutiara dengan hiasan bunga yang cantik," kata Cantika .
Namun, saat Siska mencoba lagi-lagi gaun itu sedikit kebesaran di tubuhnya.
Felix menautkan alisnya, masih ada tiga gaun lagi yang belum Siska coba. Ada gaun pengantin berwarna biru muda persis seperti gaun yang dikenakan oleh Princess Elsa di film Frozen, ada juga gaun mermaid yang menjuntai panjang di bagian belakangnya.Terakhir, gaun pengantin modern internasional berbahan satin dengan berbentuk a-line yang pasti akan membuat penampilan Siska sangat classy dan elegan.
"Apa tidak bisa jika dikecilkan sedikit, gaunnya, Tante?" tanya Felix pada Cantika .
"Tentu saja bisa,tapi kalian pastikan dulu yang mana yang akan kalian pilih," kata Cantika dengan bijak.
Felix menatap Siska, "Kamu suka yang mana?" tanya Felix. Siska menghela napas, jujur saja ia menyukai semua gaun indah itu. Tapi, pada akhirnya Siska memilih gaun yang pertama yang ia coba.
"Kenapa pilih yang itu, Siska? Apa boleh Tante tau?" tanya Cantika . Di antara kelima gaun yang Cantika pilih sebenarnya gaun yang terakhir adalah gaun yang harganya paling mahal. Tapi, Siska justru memilih gaun yang pertama.
"Aku suka film Cinderella, Tante. Dan model gaun yang pertama itu persis seperti gaun Cinderella di film yang aku tonton, Tante," jawab Siska dengan polosnya. Jawaban polos Siska membuat Cantika menahan senyuman.
"Baiklah, bagaimana, Felix? Kamu setuju dengan pilihan Siska?" tanya Cantika .
"Jadi, hanya karena Cinderella?" tanya Felix sedikit berbisik di telinga Siska. Gadis itu mengangguk,"Kalau Mas nggak setuju, ya udah, aku juga nggak maksa."
Felix hanya menghela napas panjang lalu mengembuskan napasnya perlahan, "Ya sudahlah, Tante. Biar gaun yang itu saja, sesuai dengan pilihan Siska."
Cantika pun tersenyum, "Baik, kalau begitu kita ukur dulu lingkar pinggangnya, tadi tante lihat bagian pinggangnya yang keliatan kebesaran."
Cantika pun langsung mengambil meteran dan segera mengambil ukuran tubuh Siska. Sebenarnya tubuh Siska cukup tinggi, tetapi memang sedikit kurus seperti yang Cantika katakan.
Setelah selesai, Cantika pun membawa Siska dan Felix duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Untukmu nanti, Tante akan siapkan pakaian yang cocok. Kamu nggak mau pilih-pilih modelnya?" tanya Cantika .
"Sudahlah, kalau untuk aku, Tante saja yang atur," jawab Felix. Pria itu memang tidak terlalu peduli dengan pakaian pengantin yang akan ia kenakan. Yang paling penting ia menikah dengan Siska dan membuat mamanya tidak lagi memaksanya menikah.
"Kata Mamamu, kalian akan menikah minggu depan? Kalau bisa seminggu ini Siska jangan banyak keluar rumah atau bertemu denganmu, Felix. Kalau kata orang Jawa ora elok, pantang. Lebih baik kamu yang mengurus semua, Siska tunggu saja di rumah sambil duduk manis dan makan yang banyak," kata Cantika .
Felix hanya tersenyum mendengar perkataan Cantika . Tidak tau saja bagaimana gadis ini makan, melebihi kuli,batin Felix. Tiba-tiba saja perbincangan mereka terhenti karena ponsel Felix berdering dengan nyaring. pria itu bergegas mengangkatnya, saat itu Siska melihat ekspresi wajah Felix berubah dan segera menutup pembicaraan di telepon.
"Siapa yang telpon?"