Arif menatap Felix dengan sorot mata penuh kebingungan.
Siska langsung menunduk. Jantungnya berdegup semakin cepat. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan semuanya pada ayahnya.
Sementara Felix tetap berdiri tenang dengan satu tangan di saku celana. Wajahnya datar seperti biasa, seolah yang akan ia katakan hanyalah urusan bisnis biasa.
"Saya dan Siska akan menikah, Pak," kata Felix dengan santai.
Arif yang mendengar langsung membelalak kaget.
"Apa?!" Suara pria paruh baya itu terdengar serak sekaligus panik. "Menikah?"
Tatapan Arif langsung berpindah pada putrinya.
"Siska... I-ini benar?"
Siska menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Iya, Yah..."
"Ta-tapi bagaimana bisa?" Arif tampak kesulitan mencerna semuanya. "Kalian bahkan... bahkan—"
"Kami sudah membicarakannya baik-baik," potong Felix tenang. Padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu.
Arif menatap Felix lama. Wajah pria tua itu terlihat semakin pucat. Dia sangat mengenal majikannya ini, sifatnya yang arogan, dingin semua staf tau.
"Kapan kalian kenal, kok Siska gak pernah cerita." Arif masih bingung.
"Sebaiknya anda istirahat dulu. Nanti akan kami jelaskan pelan-pelan. Yang jelas Saya liat Siska di kantor saat bawakan makan siang untuk anda. Dan itu tidak sekali," katanya tenang. Felix tentunya sudah memperhitungkan semuanya. Ya, memang benar dirinya pernah liat Siska beberapa kali di parkiran.
Arif terdiam, dia masih kebingungan.
"Untuk biaya rumah sakit jangan dipikirkan, saya yang tanggung semuanya sampai anda pulih termasuk kebutuhan sehari-hari di rumah. Biaya kuliah Siska juga Saya yang akan bertanggungjawab."
Jika perasaan mereka asli, Siska akan merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi sayang semua ini hanyalah sandiwara saja.
"Pak Felix, tolong kasi Saya waktu bicara sama putri Siska. Masalah pernikahan bukan masalah sepele”
Felix menganggukkan kepalanya lalu berkata,”Baiklah. Kalau begitu, saya tinggal dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, lelaki tampan itu pun langsung keluar dari kamar itu. Sementara itu, setelah Felix pergi, Siska langsung menarik kursi dan duduk di samping ranjang Arif.
“Ayah… sebenarnya, selama ini Siska dan Mas Felix sudah… kami sudah dekat,” bohong Siska, suaranya sedikit gemetar. Selama ini dia hampir tidak pernah membohongi sang ayah. Tapi, kali ini, dia terpaksa melakukan semua.
“Siska, jangan bercanda. Kamu masih kuliah. Dan Pak Felix… beliau adalah atasan Ayah,” bisik Arif serak.
Hening sejenak sebelum Arif kembali berucap, “Siska Ayah ga pernah mengajarimu berbohong. Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu ga menjual dirimu demi biaya operasi Ayah, kan?”
Pertanyaan yang begitu blak-blakan itu membuat pertahanan Siska nyaris runtuh. Namun, ia teringat klausul dalam kontrak: Jangan sampai ada yang tahu soal perjanjian ini termasuk juga ayah kamu. Jika ia melanggar, Felix pasti akan menarik semua bantuan, dan nyawa ayahnya yang baru saja selamat akan kembali terancam.
“Ayah ngaco. Mas Felix itu emang keliatannya nyebelin. Tapi, sama Siska baik, kok,” jawab gadis itu dengan nada ceria.
“Sudah berapa lama kamu sama Pak Felix dekat?” tanya Pak Arif lagi.
‘Hmm … sekitar enam bulan, Yah.”
“Enam bulan, katamu?” selidik Arif. “Ayah ga pernah lihat kamu dijemput sama Pak Felix. Kamu selalu bilang kalau pulang telat itu karena tugas kelompok atau kerja part-time.”
“Karena kami ingin menjaganya tetap privasi, Yah,” Siska mulai merangkai dusta demi dusta, seolah ia adalah penulis skenario profesional. “Mas Felix ga mau ada gosip di kantor yang bisa mengganggu posisi Ayah. Temen Ayah di kantor itu kan banyak banget yang julid. Jadi, dia tu lagi jaga Ayah juga.’
Arif menghela napas panjang. Sebagai seorang ayah, dia masih merasa jika sang anak sedang menyembunyikan sesuatu. “Siska, pernikahan itu bukan sekadar urusan biaya rumah sakit. Pak Felix itu pria mapan, dia duda. Dunianya sangat berbeda dengan duniamu yang masih dipenuhi buku kuliah. Ayah hanya takut kamu akan terluka di sana. Keluarga Wijaya itu bukan keluarga sembarangan. Mereka orang kaya, kayaknya ga seimbang sama keluarga kita.”
“Siska tahu, Yah. Siska sudah ketemu juga sama Tante Resita tadi pagi,” ujar Siska sambil mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih ‘normal’.
Mata Arif kembali membelalak. “Kamu sudah bertemu Nyonya Besar? Bagaimana respon beliau?”
“Awalnya sulit,” jawab Siska jujur, mengingat tatapan tajam Resita yang seolah ingin mengulitinya. “Beliau mengira Siska hanya mengincar harta Mas Felix. Tapi setelah bicara panjang lebar, beliau akhirnya setuju. Beliau bahkan ingin mengadakan makan malam keluarga secara resmi lusa, saat suaminya pulang dari Jepang.”
Arif terdiam cukup lama.
“Ayah merasa sangat tidak berguna,” bisik Arif, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. “Ibumu pergi meninggalkan utang, dan sekarang kamu harus memikul beban sebesar ini di usiamu yang masih sangat muda. Padahal, ayah maunya kamu kuliah yang bener. Jadi orang, baru nikah.”
“Emang sekarang ini Siska bukan orang?”
“Maksud Ayah tu jadi sukses, maafin Ayah ya. Belum becus jadi ayah yang baik buat kamu.”
“Jangan bicara begitu, Yah. Yang penting sekarang Ayah sembuh. Nanti, kalau udah sembuh, Ayah juga harus bahagia. Ga usah inget-inget lagi-“
Siska tidak melanjutkan ucapannya. Tetapi, Arif sudah menduga apa yang ingin dikatakan oleh sang anak. Namun, ia enggan untuk membahasnya lebih jauh.
“Ayah mau minum, Sis. Ngobrol sama kamu bikin haus,” ujar Arif mengalihkan perhatian.
Siska membantu ayahnya minum air putih melalui sedotan, mencoba mengalihkan suasana yang terlalu emosional. Ia terus bercerita tentang hal-hal kecil di kampus, mencoba menciptakan ilusi bahwa hidupnya masih baik-baik saja. Namun, di balik setiap tawa yang ia paksakan, bayangan Felix Wijaya dan kontrak bermaterai itu terus membayanginya.
“Jadi, apa aku boleh nikah sama Mas Felix, Yah?” tanya Siska.
Mendengar pertanyaan sang anak, Arif hanya bisa menarik napas panjang.
“Kalau maunya Ayah ya nggak. Kamu itu harusnya masih bisa seneng-seneng nikmati masa muda dulu. Kalau sudah punya suami pasti ga akan sama. Apalagi kalau kamu kuliah juga. Gimana cara kamu bagi waktu?”
Arif meletakkan tangan di atas kepala sang putri lalu membelai rambut sang anak dengan penuh kasih.
“Mas Felix bilang, aku masih boleh kok, kuliah. Soal bagi waktu, aku kan punya suami kaya. Ga mungkin juga kan kalo di rumah kami ga ada asisten rumah tangga. Aku ga perlu ngelakuin semua itu,” jawab Siska.
“Ya tetep aja, namanya suami pasti pengen dilayanin sama istrinya. Masa semua sama asisten rumah tangga. Tapi, ayah mau tanya sekali lagi sama kamu. Nikah itu harus punya pondasi cinta yang kuat. Kamu itu beneran cinta sama Pak Felix? Kamu ga kepaksa nikah sama dia, kan?”
****