Mendengar pertanyaan dari Resita, suasana di ruang keluarga kediaman Wijaya yang tadinya terasa tegang mulai menghangat. Tatapan Resita pada Siska pun terasa lebih bersahabat.
"Kalau Mama sama Papa gak keberatan, aku mau pernikahanku dilaksanakan secepatnya. Tapi, menunggu sampai ayahnya Siska pulih," kata Felix.
"Kalau begitu, kamu segera hubungi WO yang terbaik. Ini memang bukan pernikahan yang pertama buat kamu. Tapi, buat Siska ini yang pertama, kan," kata Resita.
Siska menelan ludah, tadinya dia sempat berpikir jika mereka hanya akan menikah di kantor urusan agama. Tetapi, ternyata calon ibu mertuanya itu malah merencanakan pesta.
"Maaf, Tante, Mas … apa gak sebaiknya kalau pernikahan kami diadakan secara-"
"Gak bisa, Felix punya banyak relasi bisnis. Nantinya, kamu pasti harus menemani suami dan bergaul dengan istri-istri pengusaha yang lain. Jadi, resepsi harus diadakan," ujar Resita memotong perkataan Anggun.
"Buat apa pesta kalau pada akhirnya cerai juga," gumam Anggun dalam hati.
"Ya udah, Ma. Soal resepsi dan yang lain biar Yuda yang urus. Aku sama Siska gak bisa lama, dua jam lagi aku ada meeting," pungkas Felix.
Walau sekilas, ia memerhatikan jika Siska mulai merasa tidak nyaman. Untuk permulaan rasanya sudah cukup. Lagipula, Felix sama sekali tidak berniat untuk membuat hubungan keduanya menjadi dekat.
"Kamu kalo mau meeting ya pergi aja. Tapi, Siska kan bisa di sini dulu," kata Resita sambil mengerutkan dahi.
"Mama lupa kalau ayah Siska masih di rumah sakit?"
Resita mendesah, di usia senjanya dia memang sering kali melupakan sesuatu.
"Mama lupa," jawab Resita. Lalu wanita itu menoleh pada Anggun dan berkata, "Maaf kalau pertemuan kita kurang menyenangkan. Tapi, sebagai seorang ibu, saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya."
Siska mengangguk sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, Tante. Saya mengerti. Saya pamit dulu, maaf jika ada ucapan saya tadi yang menyinggung Tante," ujarnya.
Melihat ketenangan Siska, Resita tampak semakin terkesan. Wanita berusia 68 tahun itu bangkit dari duduknya, mendekati Siska, dan secara mengejutkan menepuk bahu gadis itu dengan gerakan yang hampir menyerupai kasih sayang.
"Lusa, setelah Papanya Felix pulang dari Jepang, kita akan mengadakan makan malam keluarga secara resmi. Kamu harus datang. Siapkan dirimu baik-baik, ya."
"Iya Tante. Terima kasih banyak."
Resita mengangguk, kali ini dengan senyuman yang jauh lebih tulus. "Pergilah. Siska, jaga kesehatanmu. Jangan sampai kamu sakit sebelum hari pertemuan keluarga itu tiba."
Begitu mereka keluar dari pintu jati besar kediaman Wijaya dan masuk ke dalam mobil, suasana hangat yang tadi mereka bangun di depan Resita menguap begitu saja tanpa bekas. Felix kembali menjadi pria yang dingin, kaku, dan irit bicara. Ia langsung fokus menyetir tanpa berniat mengajak Siska bicara, seolah-olah kehadiran Siska di sampingnya hanya sekadar pelengkap interior mobil.
Siska menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang dingin. Perutnya mulai keroncongan karena sejak pagi belum sempat mencicipi makanan apa pun. Namun, rasa lapar itu kalah oleh rasa kantuk dan lelah yang luar biasa. Matanya menatap keluar jendela, memerhatikan deretan pepohonan yang berlalu cepat.
"Aktingmu cukup meyakinkan," gumam Felix tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan.
Siska menoleh sedikit, menatap profil samping wajah Felix yang terlihat seperti pahatan batu.
"Saya hanya melakukan apa yang tertulis di kontrak, Mas. Bukankah Bapak maksud saya, anda yang meminta saya menjadi bucin' di depan Ibu Anda."
Felix hanya mengendikkan bahu. Tiba- tiba saja, perut Siska berbunyi dengan cukup keras sehingga membuat priab itu menoleh.
"Kita mampir dulu ke rumah makan," ujar Felix datar.
"Ga usah, Pak. Saya udah biasa puasa senin kamis," jawabnya.
Tetapi, Felix tidak menanggapi ucapan gadis itu dan tetap berhenti di sebuah rumah makan yang kebetulan mereka lewati lalu turun membeli makanan untuk Siska.
"Makan di mobil aja, ga papa. Nanti kamu malah pingsan, saya gak mau kalo sampe harus gendong," ujarnya singkat sambil memberikan kotak makanan kepada Siska.
Siska hanya mengucapkan terima kasih dan langsung memakan makanan yang diberikan oleh Felix tanpa banyak protes.
Mobi kembali melaju membelah jalan, kecepatannya cukup stabil, tidak percakapan lagi sampai sedan hitam mewah itu meluncur masuk ke area rumah sakit.
Begitu mereka melangkah masuk ke lobi yang berbau karbol, seorang pria paruh baya dengan jas putih berlogo rumah sakit Dr. Gunawan tampak berjalan terburu-buru ke arah mereka.
"Mbak Siska! Pak Felix!" panggil dokter itu dengan wajah yang terlihat jauh lebih rileks dibandingkan semalam.
"Dokter, bagaimana kondisi ayah saya?" Siska bertanya dengan suara yang bergetar. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki kembali merayap di dadanya.
Dr. Gunawan tersenyum lebar. "Kabar yang sangat baik, Mbak. Pak Arif sudah melewati masa kritisnya dengan sangat stabil. Respons tubuhnya terhadap operasi semalam sangat luar biasa. Barusan beliau sudah sadar sepenuhnya dan sudah kami pindahkan ke ruang perawatan paviliun VVIP sesuai instruksi Pak Felix."
Mendengar kabar itu, Siska merasa seluruh tulangnya seperti melunak. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya, menahan isak tangis bahagia yang menyeruak keluar. Beban berat yang seolah-olah menghancurkan pundaknya selama 24 jam terakhir kini meluruh seketika.
"Terima kasih, Tuhan... Terima kasih banyak, Dok," bisik Siska dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Felix hanya berdiri tegak dengan tangan di saku celana, wajahnya tetap datar namun ada binar kepuasan di matanya melihat investasi nyawa yang ia bayar telah membuahkan hasil.
"Bisa kami menemuinya sekarang, Dok?"
"Silakan, Pak. Beliau ada di lantai lima, kamar 501," jawab dokter itu sebelum berpamitan.
Siska hampir berlari menuju lift, mengabaikan Felix yang berjalan dengan langkah tenang namun lebar di belakangnya. Begitu pintu kamar VVIP terbuka, Siska melihat ayahnya, Arif, sedang bersandar lemah di tempat tidur yang dikelilingi berbagai alat medis canggih. Meski wajahnya masih sangat pucat dan tubuhnya tampak lemah, matanya sudah terbuka dan menatap ke arah pintu dengan sayu.
"Ayah..." Siska menghambur ke sisi tempat tidur, meraih tangan ayahnya yang terasa dingin dan kasar, lalu menciumnya berulang kali.
"Siska, kamu dari mana?" tanya ayahnya, suara Arif sangat parau, hampir seperti bisikan.
Pandangannya kemudian beralih pada sosok pria tinggi dengan jas rapi yang berdiri di ujung tempat tidur.
"Pak... Pak Felix? Kenapa anda bisa ada di sini? Saya... saya merepotkan bapak lagi?"
"Tidak juga, Pak Arif. Saya di sini karena bapak di rawat di sini."
Mendengar jawaban Felix yang ambigu membuat Arif mengerutkan dahi.
"Maksudnya bagaimana, Pak? Apa anak saya datang menemui Bapak dan meminta bantuan? Maafkan Siska kalau dia sudah lancang, Pak."
"Siska sudah melakukan hal yang benar. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, jadi sudah seharusnya saya menolong Bapak."
"Keluarga? Ma_maksud anda apa?"
*****