Pertanyaan Resita Wijaya yang menohok tepat ke ulu hati membuat Siska terpaku di tempatnya berdiri. Ia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang disidang atas kejahatan yang tidak ia lakukan, meski secara teknis, hubungannya dengan Felix memang hanyalah sebuah bisnis belaka.
Felix, yang menyadari tubuh Siska sedikit menegang di sampingnya, segera mengambil langkah protektif. Ia kembali merangkul pinggang Siska, lalu membawa gadis itu untuk duduk di sofa.
"Mama ngomong apaan sih? Kemarin-kemarin Mama yang ngotot loh nyuruh aku cepet-cepet nikah lagi. Apa Mama lupa kalo hampir setiap minggu mama ngenalin aku sama anak-anak temen Mama?" ujar Felix sambil menatap sang ibu.
Resita menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Justru itu yang bikin Mama heran. Selama ini, kamu selalu nolak anak-anak temen Mama. Padahal, mereka itu cantik-cantik dan juga sudah dewasa. Lalu, mendadak kamu bilang kalo sebenarnya udah punya calon istri."
"Ya, selama ini kan aku masih belum yakin sama hubungan kami, Ma. Itu kenapa aku ga langsung kenalin Mama sama Siska," jawab Felix.
Melihat sikap Felix, Siska hanya bisa memaki dalam hati. Harus ia akui jika pria itu sangat pintar bersandiwara. Dia tidak terlihat gugup sama sekali. Bahkan terlihat begitu santai dalam menghadapi sang ibu yang terlihat seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
"Ya gak sama bocil juga dong, Lix!"
"Maaf, Tante kalau saya menyela. Tapi, usia saya sekarang sudah dua puluh satu tahun. Dan rasanya sudah bukan bocah cilik seperti yang Tante ucapkan tadi."
Siska yang merasa sedikit kesal rupanya tidak bisa menahan diri lagi. Namun, gadis itu masih menjaga nada bicaranya tetap lembut dan sopan. Tentu saja dengan seulas senyum manis di bibirnya.
Mendengar ucapan Siska, Resita langsung menoleh. Wajahnya tampak mengeras. Jelas jika wanita itu merasa kesal.
"Umur anak saya itu hampir empat puluh tahun dengan status duda. Umurnya dua kali lipat umur kamu. Apa di kampus ga ada cowok ganteng yang seumuran sampe kamu harus kecantol sama duda?" tanya Resita sinis.
"Ma, tega bener ngatain anak sendiri. Aku emang duda, tapi ga usah diperjelas juga. Kayaknya, kalo aku jalan sama Siska gak terlalu keliatan kok, kalo umur kami beda jauh."
Kali ini, Felix yang merasa sedikit kesal dengan ucapan sang ibu. Di usianya yang hampir 40 ini dia merasa belum tua sama sekali. Apalagi wajahnya memang awet muda sehingga banyak orang yang mengira jika dia baru berusia 30an.
"Jaman sekarang, kalau ada perempuan mau sama laki-laki mapan … duda pula, pasti ada apa-apanya. Siapa sih yang gak mau hidup enak?" kata Resita blak-blakan seakan tidak peduli sama yang mendengar.
"Kalau Siska hanya mengincar harta, dia pasti udah minta ini itu sama aku. Tapi, nyatanya dia gak pernah sekalipun meminta barang mewah atau hal lainnya," sahut Felix.
Resita mendengus, menyesap teh melati dari cangkir porselennya dengan elegan.
"Zaman sekarang, banyak perempuan yang jago akting, Lix. Mama hanya gak mau kamu tertipu untuk kedua kalinya. Kamu ingat kan apa yang dilakukan mantan istrimu dulu? Dia bilang kalo alasannya bercerai karena kamu kurang perhatian dan gak punya waktu buat dia. Tapi, ujung-ujungnya dia minta uang juga kan, sebagai harta gono gini."
"Itu masa lalu, Ma. Dan Siska sangat berbeda dengan dia," sahut Felix cepat, kilatan luka melintas sejenak di matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng dinginnya. "Siska adalah alasan kenapa Felix akhirnya mau membuka diri lagi. Dia tulus. Dia satu-satunya wanita yang tidak melihat Felix sebagai CEO Wijaya Group, tapi sebagai pria biasa."
Siska menelan ludah, mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat terlalu gugup. Ia teringat instruksi Felix untuk menjadi pacar yang manja dan bucin. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya, Siska meraih tangan Felix dan menggenggamnya dengan erat.
"Maaf, kalau kedatangan saya mengejutkan Tante." Suara Anggun terdengar begitu lembut. "Saya tahu perbedaan usia kami jauh, dan status kami juga berbeda. Tapi bagi saya, Mas Felix adalah sosok yang luar biasa. Dia membimbing saya, dan... Dia selalu ada saat saya membutuhkan support. Selama ini, saya memang mencari pendamping yang dewasa dan juga bisa menerima semua sifat manja saya. Dan saya mendapatkan semua itu di diri Mas Felix."
Tentu saja, selalu ada yang dimaksud Siska adalah saat Felix muncul bak malaikat maut sekaligus penyelamat di rumah sakit semalam.
Resita meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang cukup keras. Mata tajamnya kembali memindai Siska.
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Felix bilang kamu masih kuliah. Apa kamu siap membagi waktu antara menjadi istri seorang CEO dan menjadi mahasiswi? Dan asal kamu tau, jika kalian memang mau menikah saya gak mau kalian menunda untuk punya anak. Apa kamu siap?"
"Saya tidak masalah, Tante. Saya siap untuk menjalani semuanya. Mas Felix sendiri bilang jika saya boleh tetap melanjutkan kuliah," jawab Siska dengan penuh keyakinan.
Tepatnya, terpaksa untuk siap karena perjanjian di antara mereka berdua.
“Tapi, mama maunya punya menantu yang bisa mendampingi kamu. Kamu itu pengusaha yang memerlukan seorang pendamping yang pintar dan sepadan. Bukan menantu yang cuma tau shoping atau arisan," bantah Resita lagi.
“Selama ini, Siska selalu mengimbangi aku, Ma. Dia juga pintar dan memiliki wawasan luas. Asal Mama tau, sejak SD dia selalu juara di sekolahnya," jawab Felix.
Resita terdiam sebentar, tampaknya mulai mempertimbangkan argumen putranya. Felix tahu benar titik lemah ibunya, harga diri keluarga yang selalu ia junjung tinggi.
"Jujur saja, Mama gak mau kamu salah pilih lagi. Mama malu kalau sampai pernikahanmu gagal lagi. Mau ditaruh di mana muka mama sama papa? Kami sudah tua, Lix. Seharusnya, kami sudah punya dua atau tiga cucu kalau saja …."
Resita tidak melanjutkan ucapannya. Wanita paruh baya itu tampak menghela napas panjang. Nada bicaranya sudah sedikit lembut. Bahkan, matanya mulai berkaca-kaca. Siska yang melihat hal itu hanya bisa menundukkan kepala. Gadis itu paling tidak bisa jika melihat ada yang menangis di hadapannya. Dia bisa ikut-ikutan menangis juga nantinya.
"Aku janji kalau kami menikah akan segera memberikan cucu buat Mama," ujar Felix sambil memeluk Resita dari samping.
Sejak baru pertama kali Siska masuk ke rumah mewah ini ia baru melihat Resita akhirnya tersenyum. Gadis itu merasa ketegangan di ruangan itu sedikit berkurang. Rasa sesak di dadanya pun sedikit demi sedikit mulai berkurang.
"Baiklah kalo memang kamu yakin bisa bahagia dengan Siska, Mama akan bicara dengan papamu. Lusa papamu pulang dari Jepang. Kapan rencananya kamu mau melamar Siska?"
****