Mendengar pertanyaan Siska yang cukup berani, Felix langsung menatap gadis itu dengan tajam. Siska sampai menelan salivanya, bahkan bulu judulnya mulai berdiri.
"Dari cerita ayah kamu, katanya kamu itu selalu juara kelas sejak SD. Itu tandanya kamu adalah anak yang pintar. Jadi, apa saya harus mengajari kamu bagaimana membuat alasan yang baik? Kamu bisa saja menggugat saya dengan alasan tidak cocok, saya kurang perhatian dan tidak pernah ada waktu untuk kamu. Begitu saja masa harus diajari dan urusan anak saya yang urus," kata Felix dengan nada yang sedikit tinggi.
Siska terkesiap, ia tidak menyangka jika Felix ternyata bisa bicara panjang seperti itu.
"Sa-saya … Maaf, jika pertanyaan saya kurang penting untuk Bapak. Saya hanya-"
"Ada pertanyaan lain? Kalau ada cepat tanyakan. Kalau tidak, cepat kamu tanda tangan," kata Felix memotong ucapan Siska.
Siska kembali menghela napas. Ia pun kembali mempelajari surat perjanjian di hadapannya. Suasana hening, gadis itu melirik ke arah Brama. Tampak lelaki berusia 42 tahun itu duduk bersandar dengan santai sambil menatap layar ponsel miliknya. Sementara Felix masih mengawasinya dengan tatapan tajam.
Setelah membaca semua isi surat kontrak itu, Siska pun segera menandatanginya. Sebenarnya ada banyak yang ingin ia tanyakan. Tetapi, ia merasa kalau pun ada poin di mana dirinya merasa keberatan, itu tidak akan membuat Felix mau mengubah isinya.
"Saya sudah tanda tangani semua, Pak," ujar Siska. Gadis itu pun menyodorkan map berisi surat perjanjian itu kepada Felix.
"Surat ini akan disimpan oleh Pak Brama. Kamu pasti tau kenapa saya meminta Pak Brama yang menyimpannya. Dan sesuai dengan isi surat itu, kita akan menikah setelah ayah kamu pulih dan pulang ke rumah."
"Saya rasa kamu tidak akan dirugikan sama sekali, Mbak Siska. Karena setelah kontrak selesai, beliau akan memberikan sejumlah uang untuk Mbak Siska. Nantinya, Mbak Siska bisa menggunakan uang itu untuk melanjutkan pendidikan S2 atau modal usaha. Dan pastinya setiap bulan, Pak Felix juga akan memberikan uang bulanan sebagaimana seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya,” kata Brama menimpali ucapan Felix.
Siska menatap Brama, lelaki itu tampak begitu berwibawa dan tenang. Meski kelihatan tegas, tetapi Siska melihat sorot mata yang ramah. Jauh berbeda dengan Felix yang bermata tajam dan juga arogan.
"Dalam hal ini, bukankah Pak Felix juga mendapatkan keuntungan? Bapak bisa memenuhi harapan keluarga untuk menikah dan memiliki keturunan sehingga hak waris Anda tidak akan hilang, kan?" sahut Siska dengan berani.
Mendengar jawaban Siska yang begitu berani, Brama langsung menoleh kepada Felix. Jelas terlihat jika lelaki itu khawatir Felix akan merespon dengan keras. Tetapi, di luar dugaan lelaki itu malah tertawa.
"Ini yang dinamakan bisnis, dalam bisnis semua pihak harus mendapatkan keuntungan, Siska," ujarnya.
Siska hanya bisa menelan ludah. Saat ini dia benar-benar sudah terjebak dalam sandiwara yang diciptakan oleh Felix.
"Masih ada yang mau kamu sampaikan? Kalau tidak, sekarang kita ke rumah saya untuk bertemu dengan kedua orang tua saya," kata Felix melanjutkan ucapannya.
Garis tawa di wajahnya pun hilang, lelaki itu kembali dengan ekspresinya yang dingin dan datar.
"Kamu gak mau kasi arahan dulu biar Siska gak salah jawab di depan mamamu, Lix?" tanya Brama.
Brama memang memanggil Felix tanpa embel-embel Bapak. Hubungan keduanya memang bukan hanya sekadar pengacara dan kliennya. Tetapi, Brama adalah sahabat sekaligus juga kakak sepupu Felix. Jadi, dia sangat mengenal bagaimana Felix Wijaya dan keluarganya.
"Mas bener. Aku hampir lupa," jawab Felix. Ia pun mengalihkan pandangannya kepada Siska, "Kalau mamaku tanya, kamu harus bilang kalau kita sudah enam bulan berhubungan. Bilang saja kita pertama kali bertemu di kantor waktu kamu mengantarkan makanan untuk ayahmu."
"Apa bapak yakin kalau kedua orang tua bapak mau menerima saya sebagai menantu?"
"Itu urusan saya. Kamu hanya perlu berakting sebagai pacar yang manja dan bucin sama saya. Satu lagi, gak ada orang pacaran yang manggil pasangannya Bapak. Panggil saya Mas Felix."
Siska menghela nafasnya, memang sangat sulit tetapi tidak ada pilihan lain, demi bapaknya.
"Kita jalan sekarang."
**
Siska menarik napas panjang saat mereka tiba di rumah megah milik keluarga Wijaya. Seumur hidup baru kali ini dia melihat rumah yang begitu besar dengan halaman yang sangat luas.
Tanpa sadar, gadis itu meremas ujung pakaian yang ia kenakan. Rasanya ia ingin menghilang dari tempat itu saking gugupnya. Melihat ekspresi wajah Siska yang gugup, Felix pun berkata perlahan, "Akting yang bagus. Di depan mama saya nanti kamu harus bisa mesra dan keliatan bucin. Jangan pasang muka sedih dan lemes kayak orang belum makan sebulan."
Siska mendelik sebal, "Emang belum makan, Pak. Kalo perlu saya ingetin, waktu asisten Bapak jemput di rumah sakit, saya baru bangun. Gak sempet mandi apalagi sarapan. Kalo saya lemes ya wajar," jawab Siska ketus.
Kali ini, Felix tidak bisa menjawab dengan ketus karena ia sadar jika ia yang salah. Ia benar-benar lupa mengajak Siska untuk sarapan.
"Yang saya urus itu bukan cuma masalah receh kayak gini. Wajar kalo saya lupa. Nanti saya suruh pembantu di rumah saya buatin kamu makanan," ujar Felix. Kali ini nada suaranya terdengar lebih ramah di telinga Siska.
"Maaf ngerepotin."
"Sudahlah. Ayo kita masuk ke dalam, gandeng tangan saya yang mesra kayak orang pacaran. Dan jangan lupa panggil saya, Mas," ujar Felix menginginkan.
Keduanya pun turun dari mobil dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Seperti perintah Felix, Siska pun berjalan sambil menggandeng tangan lelaki itu dengan mesra.
Hingga akhirnya gandengan di tangan Felix terlepas secara spontan saat lelaki itu membawanya langsung ke ruang keluarga di mana seorang wanita cantik langsung menyambut keduanya.
Matanya yang tajam langsung memindai Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hal itu tentu saja membuat Siska merasa tidak nyaman.
"Jadi, ini perempuan yang semalam kamu ceritakan sama Mama, Lix? Ga salah, kamu?" kata mamanya Felix blak-blakan.
Felix menarik napas, lalu segera menghampiri wanita itu dengan senyuman. "Iya, Ma. Ini Siska yang semalam aku ceritakan sama Mama. Cantik, kan? Sayang, sini dong, salaman dulu sama mamaku."
Siska pun tersenyum sambil mendekat. Gadis itu pun langsung meraih dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Selamat pagi, Tante. Saya Siska."
Resita Wijaya, wanita berusia 68 tahun yang masih terlihat muda dan segar itu tidak langsung menjawab salam yang diberikan oleh Siska. Tetapi, ia kembali duduk di sofa lalu berkata, "Kalau saya liat, umur kamu pasti masih muda. Sementara anak saya ini duda dan juga mapan. Yakin kamu mau menikah dengan anak saya bukan karena mengincar harta tapi karena cinta?"
Deg
*****