Tepat pukul tujuh pagi, sebuah sedan hitam mewah sudah terparkir rapi di depan lobi rumah sakit. Siska, yang semalaman hanya tidur di kursi tunggu ICU, bangkit dengan tubuh yang terasa remuk. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu mendekatinya.
"Selamat pagi, Mbak Siska. Saya Yuda, sekretaris Pak Felix," sapanya sopan.
Siska yang masih belum sepenuhnya terjaga menyipitkan mata sambil mengangguk.
"Ini jam berapa, Mas?" tanya Siska dengan suara parau.
"Jam tujuh pagi."
"Hah? Sepagi ini Anda sudah menjemput saya? Apa tidak salah?” kata Siska sedikit kaget.
"Hmm, Pak Felix sudah ada janji jam sembilan pagi dengan pengacaranya. Dan, beliau paling tidak suka jika terlambat. Itu sebabnya saya harus menjemput Mba sekarang. Mbak kan perlu sarapan dan juga mandi. Memang Mbak mau bertemu keluarga Pak Felix dalam kondisi belum mandi dan masih memakai baju kemarin?”
Siska menarik napas panjang, sampai detik ini dia masih belum percaya jika sebentar lagi dia harus menikah. Padahal masih banyak list keinginan yang belum terpenuhi di masa mudanya.
"Mbak … Apa Mbak baik- baik saja? Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Yuda saat melihat Siska yang tidak juga bangkit berdiri dan malah melamun sendiri.
Perlahan Siska mengangkat wajah menatap Yuda lalu mengangguk pelan.
"Namanya juga bangun tidur, saya mesti kumpulin nyawa dulu. Oya, kalau kita pergi, bagaimana dengan ayah saya? Kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Pak Felix sudah membayar seorang perawat khusus untuk menjaga ayahnya Mbak. Kalau nanti beliau sudah sadar pasca operasi dan dipindahkan ke ruang rawat, pasti Pak Felix akan diberi kabar. Mbak ga usah takut," jawab Yuda.
"Ya sudah kalau begitu, kita pergi sekarang," jawab Siska sambil bangkit berdiri.
Tanpa banyak bicara, Siska mengikuti langkah Yuda. Di tempat parkir seorang pria tampak mengangguk hormat pada Yuda saat keduanya mendekat.
"Pak, baru saja Pak Felix telepon saya. Katanya, bapak diminta langsung datang ke kantornya Pak Brama. Biar nanti Mbak Siska mandi dan sarapan di sana sekalian," ujar pria itu.
Siska langsung mengerutkan dahi lalu berkata, "Mandi di kantor orang? Lalu pakaian saya gimana? Saya mau pulang saja dulu. Lagipula, jarak dari rumah sakit ini ke rumah saya kan ga jauh."
"Maaf, Mba. Kalau Pak Felix sudah memberi perintah jangan dibantah. Beliau pasti sudah memperhitungkan semua," sahut Yuda dengan tegas sambil membuka pintu mobil dan memberi isyarat supaya Siska segera naik.
Siska pun hanya bisa mengerucutkan bibir dan menggerutu dalam hati tanpa berani membantah lagi.
Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap kosong ke arah jalanan kota yang sibuk. Pikirannya melayang pada sang ayah yang baru saja melewati masa kritis pasca operasi semalam. Segalanya terjadi begitu saja seperti mimpi. Sayangnya yang ia alami sekarang adalah kenyataan yang harus ia jalani.
Sesampainya di kantor pengacara, Yuda langsung membukakan pintu dan kembali memberi isyarat supaya Siska mengikuti langkahnya. Dengan d**a berdegup kencang, Siska melangkah memasuki gedung perkantoran yang cukup besar itu.
"Kenapa sepi sekali kantornya, Mas?" tanya Siska.
"Karena masih pagi," jawab Yuda singkat tanpa menoleh sama sekali.
"Ih....memang dasar cowok kulkas, anak buah sama bosnya sama saja. Irit kalo ngomong, ga ada ekpresi," gerutu Siska dalam hati.
Yuda membawa Siska langsung ke lantai 3 di mana Brama dan Felix sudah menunggu mereka.
Ketika mereka sampai di ruangan yang terletak di ujung lorong lantai 3, Yuda langsung mengetuk pintu dan mempersilakan Siska untuk masuk.
"Silakan masuk, Mbak. Pak Felix sudah ada di dalam," kata Yuda singkat.
Siska melangkah memasuki ruangan, Pria itu pun segera berlalu tanpa berkata apa pun lagi. Sementara Siska melangkah dengan perasaan cemas. Ternyata di dalam ruangan bernuansa putih itu, Felix sudah menunggu bersama seorang Pria.
Saat melihat Siska memasuki ruangan itu, Felix langsung bangkit dan menyerahkan sebuah paper bag kepadanya.
"Di sebelah sana ada kamar mandi. Kamu bisa pakai untuk mandi dan ganti baju. Di dalam sini ada baju ganti dan juga perlengkapan lain yang bisa kamu pakai. Jangan lama-lama,saya masih banyak pekerjaan," kata Felix.
Seperti hari sebelumnya, Siska hanya bisa menganggukkan kepala lalu mengikuti perintah Felix. Gadis itu melangkah ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan itu. Sampai di dalam, ia pun bergegas membuka paper bag yang diberikan oleh Felix. Ternyata isinya adalah pakaian ganti lengkap dengan baju dalaman.
Siska harus mengakui jika laki-laki itu memiliki selera yang tinggi saat melihat model pakaian yang diberikan kepadanya.
"Kok dia bisa tau ukuranku, ya," gumam Siska. Tetapi, ia tidak memiliki waktu untuk berpikir. Sehingga, gadis itu pun bergegas mandi dan merapikan diri.
Ternyata, di dalam paper bag itu, Felix juga memberikan alat make up dan sepatu untuk dipakai Siska. Gadis itu pun langsung mengenakan make-up tipis sebelum ia melangkah keluar.
"Duduk," perintah Felix tanpa basa-basi saat ia melihat Siska berjalan mendekat.
Anggun pun duduk tepat di samping Felix. Sementara Brama duduk di seberang mereka.
"Mbak Siska, saya Brama pengacara keluarga Wijaya. Dan di sini saya sudah menyiapkan surat perjanjian yang harus Mbak tanda tangani. Silakan Mbak membacanya dulu. Jika ada yang tidak mengerti bisa ditanyakan pada saya," kata Brama sambil menyerahkan map berisi surat perjanjian pada Anggun.
"Baca dengan teliti. Saya tidak mau ada komplain di tengah jalan," ujar Felix.
Siska menerimanya dan membaca poin demi poin. Isinya sangat teknis kewajiban menjaga nama baik, larangan memiliki hubungan asmara dengan pihak ketiga, hingga durasi kontrak selama dua tahun. Namun, matanya tertahan pada satu poin. Pihak kedua bersedia memberikan keturunan jika diminta oleh pihak pertama demi memenuhi syarat warisan keluarga Wijaya.
Tangan Siska gemetar. Ia teringat ucapan Felix semalam bahwa ia tidak akan memaksa sampai Siska siap, tapi tetap saja, melihatnya tertulis secara hukum membuat perutnya mual.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Felix dingin.
"Soal... anak." Suara Siska bergetar. "Bapak benar-benar akan menuntut itu?"
Felix menyandarkan punggungnya, menatap Siska dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Memangnya, ada pasangan suami istri normal yang tidak menginginkan keturunan? Tapi seperti yang saya katakan, saya bukan predator. Saya akan menunggu sampai kamu terbiasa dengan status ini. Tapi jangan berharap saya akan melepaskan poin itu. Saya mau semua berjalan dengan natural. Jangan sampai ada yang tau soal perjanjian ini termasuk juga ayah kamu."
"Jadi, maksud Bapak hanya kita saja yang tau soal kontrak ini?" tanya Siska.
"Ya, hanya kamu, saya, asisten saya Yuda dan Pak Brama tentu. Jika kamu sampai berani membocorkan hal ini pada orang lain, sudah pasti ada konsekuensinya," kata Felix.
"Apa saya masih boleh kuliah setelah menikah dengan Bapak?" tanya Siska.
"Kamu boleh melanjutkan kuliah. Saya yang akan membiayai kuliahmu. Sudah saya katakan jika saya mau semua berjalan normal. Teman-temanmu di kampus akan mengetahui jika kamu menikah dengan saya. Kita akan menjalani kehidupan normal seperti pasangan suami istri lainnya. Dan setelah dua tahun, kamu bisa pergi dan saya akan menceraikan kamu," kata Felix.
"Lalu, apa alasan saya menggugat ceraidan anak yang saya lahirkan gimana?"
*****