"Tanpa deposit, operasi tidak akan bisa dilakukan, Mbak. Ini sudah prosedur dari rumah sakit kami."
Siska menatap perawat di hadapannya dengan ekspresi kesal sekaligus juga panik. Rumah sakit macam apa ini? Bukannya bergegas menolong pasien malah mempersulit biaya adminstasi.
"Tolong saya, Sus. Sekarang ini saya ga bisa bayar semua. Tapi, saya janji akan melunasi semua setelah ayah saya selesai dioperasi," kata Siska dengan penuh harap.
Tetapi, perawat di hadapannya menggelengkan kepala. "Maaf, Mbak … tidak bisa. Kami tidak minta Mbak melunasi, minimal deposit tiga puluh persen saja. Atau barangkali Mbak punya jaminan kesehatan, BPJS misalnya?"
"Lakukan operasinya sekarang, Dok. Pindahkan pasien bernama Arif ke paviliun VVIP. Semua biaya, dari administrasi sampai pemulihan nanti, masukkan ke tagihan pribadi saya. Saya tanggung semuanya."
Siska tersentak, ia menoleh ke arah suara yang terdengar berat dan tegas itu. Di depannya, Felix Wijaya. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas yang rapi. Siska mengenali pria itu sebagai CEO di perusahaan tempat sang ayah bekerja.
"Pak Felix?" Suara Siska serak, hampir hilang karena terlalu banyak menangis. "Bapak... kenapa Bapak di sini?"
Felix tidak langsung menjawab. Ia melirik kertas tagihan operasi yang lecek di genggaman Siska, lalu menatap wanita muda itu dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Saya sudah bilang, kan? Saya akan biayai semuanya. Ayahmu akan dapat perawatan terbaik di kota ini," ucap Felix tenang, seolah uang ratusan juta yang baru saja ia janjikan hanyalah angka yang tidak berarti.
"Tapi kenapa, Pak?" Anggun berdiri dengan kaki gemetar. "Ayah memang karyawan Bapak, tapi ini terlalu banyak. Saya gak tahu gimana cara bayarnya. Tabungan saya gak cukup, dan Ibu..." Suaranya tercekat saat mengingat ibunya yang lari membawa kabur semua aset mereka.
Felix melangkah maju, memperpendek jarak. Aroma parfum maskulin yang mahal seketika meredam bau karbol di sekitar mereka.
"Saya tidak butuh uangmu, Siska. Saya butuh sesuatu yang lain." Felix menatap tepat ke manik mata Anggun. Lalu, pria itu kembali menatap perawat di hadapannya sambil memberikan kartu debit miliknya.
"Segera diproses, saya tidak mau pasien sampai terlambat ditangani," ujarnya datar.
Perawat itu mengangguk. Setelah menerima kartu milik Felix, ia pun segera berlalu meninggalkan Siska dan Felix berdua saja.
"Bapak belum menjawab pertanyaan saya," kata Siska saat melihat Felix yang hendak melangkah pergi sambil menahan tangan pria itu.
"Saya rasa kamu bisa fokus dulu pada kesehatan Arif, setelah itu baru kita bicara soal bayaran," jawab Felix.
Siska menggeleng lalu berkata, "Mana bisa begitu, Pak. Kalau saya tidak bisa bayar gimana? Saya gak mau waktu ayah sadar malah jadi kepikiran bayar utang. Jadi, lebih baik, bapak bilang sekarang.x
"Menikahlah dengan saya. Itu bayarannya."
"Hah?"
Seketika Siska tertegun. Ia sempat mengira dirinya sedang berhalusinasi karena kurang tidur dan stres berat. "Menikah? Bapak bercanda, kan?"
"Saya gak pernah bercanda soal bisnis," potong Felix cepat. "Ibu saya terus-menerus mengancam akan menarik seluruh saham dan warisan saya kalau saya tidak segera membawa istri ke rumah. Saya tidak punya waktu untuk kencan, dan jujur saja, saya tidak percaya lagi pada hubungan yang didasari cinta. Bagi saya, cinta itu cuma pengkhianatan yang tertunda."
Felix bersedekap, punggungnya bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. "Kita buat kesepakatan. Kamu butuh nyawa ayahmu, saya butuh status pernikahan untuk mengamankan posisi saya di perusahaan. Kita menikah kontrak selama dua tahun. Saya akan jadi penjamin hidupmu dan ayahmu, dan kamu hanya perlu berakting jadi istri yang patuh di depan ibu saya."
Siska merasa dunianya berputar. "Tapi usia saya baru dua puluh tahun, Pak! Saya masih kuliah, saya bahkan belum paham soal..."
"Justru karena kamu masih muda, kamu belum terkontaminasi oleh ambisi seperti wanita-wanita sosialita di luar sana," sela Felix lagi, nadanya tetap dingin namun penuh penekanan. "Kamu butuh perlindungan, dan saya butuh ketenangan dari gangguan ibu saya. Ini win-win solution."
Siska menunduk, meremas ujung kemejanya yang kusut. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada nyawa ayahnya yang sedang dipertaruhkan di dalam ruang ICU. Di sisi lain, ada masa depannya yang akan dibeli oleh pria yang usianya dua kali lipat darinya.
"Waktu kamu gak banyak, Siska." Felix melirik jam tangan Rolex-nya. "Dokter bilang kalau ayahmu gak dioperasi malam ini, kemungkinannya sangat tipis. Keputusan ada di tangan kamu. Menjadi istri saya, atau saya akan mengambil sisa asset yang kalian.”
"Ma-maksud Bapak rumah kami?"
"Memang kalian punya asset lain? Saat ini, kamu ga punya pilihan. Menikah, atau jadi gelandangan."
Kalimat terakhir Felix seperti hantaman keras di d**a Siska. Ia melihat ke arah pintu kaca ICU. Ayahnya, satu-satunya orang tua yang tersisa, sedang berjuang di ambang maut.
Siska tidak punya pilihan. Ia tidak sanggup kehilangan ayahnya. Dan ia juga tidak bisa membiarkan asset mereka satu-satunya hilang. Ayahnya pasti akan sangat terpukul jika hal ini sampai terjadi.
"Ternyata, Bapak tidak punya hati," ujar Anggun lirih.
Felix hanya menjawab singkat, "Ini bisnis, Siska."
"Baiklah, saya mau dengan satu syarat," bisik Siska lirih sambil memberanikan diri menatap mata Felix yang tajam.
Felix menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Bapak jangan... jangan pernah menyentuh saya tanpa izin saya. Kontrak ini hanya untuk status, kan?"
Felix terkekeh rendah, suara yang lebih mirip dengan dengusan sinis. "Ga bisa. Karena saya butuh penerus, ibu saya juga menginginkan cucu di usia senjanya. Tapi, kamu jangan khawatir saya bukan predator, kita akan melakukan itu sampai kamu siap."
"Tapi_"
"Kamu tidak dalam posisi tidak bisa bernegosiasi, Siska.”
Felix menyodorkan tangan kanannya, bukan untuk membelai, tapi seperti mengajak rekan bisnis bersalaman. "Jadi? Setuju?"
Siska menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyambut uluran tangan Felix. Kulit pria itu terasa hangat, tetapi genggamannya sangat kuat dan mendominasi.
"Baik. Saya setuju," ucap Siska mantap, meski hatinya terasa hancur.
"Pilihan yang cerdas," ujar Felix tanpa senyum sedikit pun. Ia segera mengeluarkan ponselnya kembali. "Halo, Dr. Gunawan? Mulai operasinya sekarang. Pasien atas nama Arif. Semuanya sudah beres."
Setelah menutup telepon, Felix menatap Siska sekali lagi dengan tatapan yang membuat gadis itu merasa telanjang.
"Besok pagi jam sembilan, sekretaris saya akan menjemputmu. Kita ke notaris untuk tanda tangan kontrak, setelah itu saya akan mengatur pertemuan dengan kedua orang tuaku. Pernikahan kita harus terlihat natural. Kedua orang tuaku tidak boleh tau soal perjanjian kita. Siapkan dirimu, mulai sekarang kamu adalah calon istri Felix Wijaya."
****