Pagi berikutnya aku bangun dengan perasaan yang lebih tenang daripada saat pertama kali membicarakan anak. Riyan masih berada di sisiku. Ketika pengingat berbunyi, ia mengulurkan tangan untuk mematikannya, lalu mengingat ponsel itu ada di sisiku dan tertawa kecil.
'Belum hafal letaknya.'
'Aku juga masih belajar tidak kaget melihat Om di sini.'
Ia tersenyum. Kami bangun, menunaikan salat, kemudian bersiap. Tidak ada yang mencoba membahas keputusan penting sambil mengancingkan pakaian atau terburu-buru turun.
Saat sarapan, Riyan menyampaikan bahwa ia memperkirakan bisa pulang sebelum makan malam. Aku mengangguk, mengingat percakapan yang sudah kami rencanakan.
Mama tidak mengetahui seluruh isinya, dan aku tidak merasa wajib menjelaskan. Ia tetap bagian keluarga yang kusayangi, tetapi ada keputusan yang perlu kami bicarakan sebagai pasangan terlebih dahulu.
Setelah Riyan berangkat, aku menjalani kegiatan bersama Mama. Kami membagi pekerjaan yang perlu, lalu beristirahat ketika cukup. Aku tidak memasak lebih banyak atau merapikan seluruh rumah untuk membuat jawabanku nanti tampak lebih pantas diterima.
Siang harinya, setelah makan dan salat, aku duduk sebentar di kamar. Aku mencoba memikirkan apa yang berubah sejak percakapan pekan lalu.
Aku lebih nyaman berada dekat Riyan. Aku sudah mengatakan cinta. Aku bisa tidur di sisinya tanpa merasa sedang menunggu sesuatu yang wajib kulakukan.
Tetapi aku masih belum ingin mempunyai anak sekarang.
Dua hal itu bisa benar pada saat yang sama.
Aku tidak menulis pidato. Aku hanya mengingat beberapa hal yang ingin kusampaikan agar nanti tidak menutup pembicaraan dengan jawaban asal menyenangkan.
Sore hari, Riyan memberi kabar hendak pulang. Aku membalas, lalu membantu Mama menyiapkan makan malam. Ponsel kusimpan agar aku tidak terus menghitung waktu sejak pesan masuk.
Riyan datang sesuai perkiraan. Ia menyapa kami, membersihkan diri, lalu turun untuk makan. Aku melihatnya menahan menguap sekali dan bertanya apakah ia terlalu lelah untuk bicara nanti.
'Masih bisa,' jawabnya. 'Kalau Om perlu berhenti sebentar, Om bilang.'
Aku mengangguk. Ia juga berhak tidak sanggup mendengar tanpa jeda, bukan hanya aku.
Kami makan dan membereskan meja bersama. Sebelum naik, Mama membicarakan sarapan besok. Aku menawarkan bagian sederhana yang sudah biasa kubuat, sedangkan Riyan mengatakan akan membantu menata meja dan membereskan setelahnya.
Mama tersenyum. 'Kalau begitu kita kerjakan bersama.'
Tidak ada acara khusus. Justru itu yang kusukai: besok pagi boleh menjadi pagi biasa yang tidak ditanggung oleh satu orang.
Di kamar, aku mengambil air minum untuk kami. Riyan duduk setelah menaruh barangnya. Aku memilih tempat yang membuat kami bisa saling melihat, bukan berbicara sambil membelakangi.
'Aku masih ingin menunggu punya anak,' kataku.
Riyan mengangguk.
'Om mendengarkan.'
'Aku sekarang lebih nyaman dekat dengan Om. Aku juga mencintai Om. Tapi dua hal itu tidak membuat aku langsung siap menjadi ibu.'
'Om tidak menganggapnya otomatis.'
Aku mengembuskan napas, lalu melanjutkan.
'Aku ingin punya lebih banyak waktu mengenal kehidupan kita. Bukan karena aku menunggu semuanya sempurna. Aku tahu tidak akan ada hari yang membuat aku tahu seluruh jawaban.'
Riyan menatapku tanpa menyela.
'Aku cuma belum ingin sekarang. Dan aku tidak mau membuat janji beberapa bulan atau tanggal tertentu hanya supaya percakapan ini terdengar menghasilkan sesuatu.'
Ia mengangguk pelan.
'Menunggu itu hasil keputusan juga, Kay. Bukan berarti kita gagal membicarakannya.'
Aku tersenyum sedikit. Kalimat itu membantu, tetapi aku masih ingin mendengar suaranya sendiri, bukan hanya penerimaannya terhadap suaraku.
'Om bagaimana?'
'Om tetap ingin suatu hari menjadi ayah. Tapi Om juga ingin menjalani keputusan itu bersamamu, bukan mendahuluimu lalu menyuruhmu menyusul.'
Aku menatapnya cukup lama.
'Om tidak menyesal karena sekarang jawabanku masih sama?'
'Tidak. Om justru senang kamu tidak mengganti jawaban hanya karena kita sudah lebih dekat.'
Aku mengangguk. Tidak ada sorak lega atau air mata besar. Percakapan itu terasa tenang, dan ternyata ketenangan bisa menjadi sesuatu yang penting tanpa harus dipertontonkan.
Kami sepakat tidak menentukan tenggat baru untuk mempunyai anak. Jika salah satu ingin membicarakan keinginan atau kekhawatiran, ia akan mengatakan, bukan menyindir lewat keluhan atau meminta orang tua membantu membujuk.
'Kalau nanti ada pertanyaan dari orang lain, kita tidak perlu membuat alasan yang menyalahkanmu,' kata Riyan.
Aku mengangkat wajah.
'Keputusan menunggu ini keputusan kita,' lanjutnya.
Aku mengangguk, merasakan bahuku turun.
'Aku juga tidak ingin menjawab seolah Om tidak pernah ingin punya anak.'
'Iya. Kita bisa menjaga keputusan bersama tanpa menyangkal keinginan masing-masing.'
Aku mengambil gelas dan minum. Tidak ada orang lain yang sedang menunggu di luar pintu untuk mengetahui hasil percakapan ini. Kami tidak perlu keluar membawa pengumuman.
Sesudahnya, aku mengirim pesan kepada Ayah, menanyakan apakah besok pagi sebelum kesibukan masing-masing kami bisa menelepon sebentar. Bukan untuk menceritakan keputusan pribadi tadi. Aku hanya ingin mendengar suaranya dan memberi kabar tentang hidupku dengan kata-kataku sendiri.
Balasannya datang ketika aku sedang menaruh ponsel. Ia bersedia, meminta aku mengabari sebelum menelepon.
Aku menunjukkan bagian tentang waktu kepada Riyan.
'Besok setelah sarapan sebentar, ya. Ayah bilang bisa.'
Riyan mengangguk. 'Kamu mau bicara sendiri dahulu?'
'Iya. Nanti kalau ingin mengajak Om dan Mama, aku bilang.'
'Baik.'
Aku tersenyum. Aku tidak harus memilih antara hubungan dengan Ayah dan kedekatan dengan suami. Ruang pribadi tidak membuat salah satunya menjadi ancaman.
Kami membawa gelas ke dapur dan membersihkannya, lalu kembali untuk bersiap tidur. Malam itu aku mendekati Riyan lebih dulu. Aku memeluknya setelah ia menyambutku, lalu menatap wajahnya dari dekat.
'Aku senang menjadi istrimu,' kataku. 'Bukan karena semuanya mudah.'
Riyan menyentuh tanganku pelan. 'Om senang menjalaninya denganmu.'
Aku mencium bibirnya singkat ketika kami sama-sama mendekat. Tidak ada ketergesaan untuk mengubah ciuman itu menjadi janji lain. Setelah aku mundur, ia tersenyum, dan aku bisa tertawa tanpa rasa gugup yang harus disembunyikan.
Kami berbaring di tempat tidur yang sama. Aku memilih posisi yang nyaman, lalu mengucapkan selamat malam. Di sisiku, Riyan menjawab dengan menyebut namaku.
Besok kami akan sarapan bersama Mama dan menelepon Ayah. Malam ini, aku tidur tanpa merasa perlu bangun sebagai perempuan lain agar tetap dicintai.