Aku terbangun sebelum pengingat berbunyi. Untuk beberapa saat aku tetap berbaring, mendengarkan suara pagi dari luar kamar. Riyan berada di sisiku, masih tidur dengan wajah yang lebih tenang daripada ketika sedang memikirkan pekerjaan.
Aku tidak membangunkannya hanya untuk memastikan bahwa malam kemarin benar-benar terjadi. Keputusan kami masih ada, meskipun tidak sedang diucapkan.
Ketika pengingat akhirnya berbunyi, ia membuka mata dan menoleh.
'Pagi, Kay.'
'Pagi, Om.'
Ia tersenyum, lalu duduk. Kami bangun dan menunaikan salat sebelum bersiap. Aku merapikan sisi tempat tidurku, sementara Riyan mengurus bagiannya. Setelah itu ia mengambil pakaian kerja dan aku menyiapkan barang yang diperlukan pagi ini.
Ada baju yang belum kulipat. Aku melihatnya, lalu memutuskan mengerjakannya nanti. Dunia tidak berhenti karena satu pekerjaan belum beres sebelum sarapan.
Di bawah, Mama menyapaku dari dapur.
'Kayla, tolong ambilkan wadah yang itu.'
Aku mengikuti arah tangannya. Namaku terdengar begitu biasa sampai aku tersenyum sendiri. Aku tidak perlu menunggu panggilan lain terselip di belakangnya.
Kami menyiapkan sarapan sederhana bersama. Mama mengurus nasi dan bagian yang sudah dipilihnya, sedangkan aku membantu tempe dan sayur yang sudah kukenal. Riyan turun setelah berpakaian, lalu mengambil piring untuk meja.
'Tiga?' tanyanya sambil melirikku.
'Tiga. Rasa gugupku sudah bisa makan sendiri.'
Mama tertawa. Riyan ikut tertawa, kemudian membawa piring tanpa menambah satu pun. Aku kembali memperhatikan pekerjaanku, merasa senang karena gurauan itu tidak harus membuat seluruh pagi sempurna.
Ada potongan tempe yang lebih kecil daripada lainnya. Aku hampir memisahkannya, lalu membiarkannya ikut disajikan. Ukurannya tidak sama, tetapi semuanya tetap bisa dimakan.
Riyan datang mengambil hidangan yang sudah siap. Ketika tangannya dan tanganku hampir bertemu pada wadah yang sama, kami berhenti, saling melihat, lalu tertawa.
'Om bawa yang itu,' kataku.
'Baik.'
Tidak perlu tiga orang mengerjakan satu hal agar terlihat akur. Kami cukup memberi ruang supaya pekerjaan masing-masing benar-benar bisa dilakukan.
Kami duduk bertiga. Mama memanggilku untuk mengambil nasi sebelum terlalu sibuk memperhatikan piring orang lain. Aku menurut, lalu mulai makan setelah berdoa.
Riyan mengambil potongan tempe yang paling kecil.
'Kenapa yang itu?' tanyaku.
'Karena dekat.'
Aku tertawa. Ternyata tidak semua pilihannya menyimpan penilaian tentang diriku.
Percakapan bergerak dari sarapan ke kegiatan hari itu. Riyan menyampaikan perkiraan kepulangannya dan akan mengabari jika ada perubahan. Mama mengatakan ingin merapikan beberapa barang setelah beristirahat. Aku menawarkan membantu sesudah menyelesaikan bagian milikku.
Tidak ada yang meminta satu orang menjaga seluruh rumah tetap bahagia.
Sesudah makan, kami membereskan meja bersama. Aku mengirim pesan kepada Ayah bahwa kami sudah sarapan dan menanyakan apakah sekarang bisa menelepon. Balasannya datang ketika aku sedang mengeringkan tangan.
Bisa, katanya.
Aku memberi tahu Riyan dan Mama bahwa aku akan berbicara sendiri dahulu. Mereka mengangguk. Riyan melanjutkan mengurus barangnya, sementara Mama menyimpan peralatan yang sudah bersih.
Aku duduk agak terpisah dan menekan panggilan.
'Assalamualaikum, Yah.'
Ayah menjawab salam. Suaranya membuatku tersenyum bahkan sebelum kami mulai bercerita.
'Sudah makan?' tanyanya.
'Sudah. Bertiga. Ayah?'
'Sudah juga.'
Aku tertawa kecil. Rupanya percakapan yang paling biasa masih bisa menjadi sesuatu yang ingin kudengar berkali-kali.
Aku menceritakan sarapan kami, potongan tempe yang berbeda ukuran, dan Riyan yang mengambil bagian paling kecil hanya karena dekat. Ayah tertawa, tidak mengubah cerita itu menjadi nasihat tentang bagaimana melayani suami.
'Kamu terdengar senang,' katanya.
Aku mengangguk, lalu teringat ia tidak bisa melihat.
'Iya, Yah. Aku senang.'
Aku berhenti sebentar, mencari kalimat yang benar.
'Bukan berarti aku tidak pernah sedih atau kesal. Tapi sekarang aku bisa mengatakannya. Aku tidak merasa harus selalu terlihat baik supaya boleh tinggal.'
Ayah diam sesaat. Ketika menjawab, suaranya terdengar lebih pelan.
'Ayah senang mendengarnya.'
Aku memegang ponsel dengan lebih nyaman.
'Aku juga masih kangen.'
'Kalau itu, Ayah sudah tahu.'
'Jangan bosan.'
'Tidak.'
Aku tersenyum dan memandang ke arah dapur. Mama sedang duduk, sementara Riyan merapikan barang yang akan dibawanya. Mereka tidak berdiri menunggu laporan dari percakapanku.
Kami menyinggung rencana kunjungan berikutnya. Waktunya tetap seperti yang sudah dibicarakan, dua malam, dan akan dipastikan lagi mendekati keberangkatan. Ayah tidak perlu menyiapkan rumah seperti sedang menyambut tamu penting.
'Aku pulang sebagai anak Ayah,' kataku. 'Bukan pemeriksa letak piring.'
Ayah tertawa.
'Bagus. Piringnya masih di tempat yang sama.'
Setelah berbicara sebentar lagi, aku bertanya apakah ia ingin menyapa Mama dan Riyan. Ayah bersedia. Aku memanggil mereka dan menyalakan pengeras suara setelah memberitahukan semuanya.
Mereka bertukar salam dan kabar. Ayah tetap memanggil Riyan dengan sapaan yang sudah terbiasa diucapkannya, tetapi percakapan tidak lagi terasa seperti menyerahkan tanggung jawab atas seorang anak yang tidak punya suara.
Aku ada di sana. Aku bisa ikut menjawab, tertawa, dan mengatakan keinginanku sendiri.
Kami mengakhiri panggilan dengan salam. Aku meletakkan ponsel, merasa dekat tanpa perlu berpura-pura bahwa jarak sudah tidak ada.
Mama menyentuh bahuku ketika lewat.
'Terima kasih untuk sarapannya, Kayla.'
'Kita yang membuat, Ma.'
'Iya. Kita.'
Aku tersenyum. Mama lalu menuju tempat duduknya, memilih beristirahat tanpa meminta aku mengisi setiap kesunyian. Alana tetap mempunyai tempat dalam rindunya. Aku mempunyai tempat sebagai diriku sendiri.
Riyan mengambil barang kerja. Aku mengantarnya ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh dan mengulurkan tangan.
Aku menyambutnya.
'Ada yang ingin dititip?' tanyanya.
'Kalau waktunya berubah, kabari.'
'Iya.'
Aku tersenyum. 'Yang lain nanti aku bilang kalau memang ada.'
Riyan mendekat dan mengecup keningku setelah aku menyambutnya. Gerakan singkat itu tidak membawa tagihan apa pun. Kami masih memilih menunggu mempunyai anak, masih mempunyai hal-hal yang ingin dipelajari, dan tidak perlu membuktikan cinta dengan berlari lebih cepat daripada kesiapan kami.
'Aku mencintai Om,' kataku.
'Om mencintaimu, Kayla.'
Aku mempercayainya bukan karena hidup kami mendadak tidak mungkin salah. Aku mempercayainya karena kini ada ruang untuk bertanya, memperbaiki, dan tetap menjadi dua orang yang mempunyai suara.
Riyan berpamitan. Aku melepas tangannya agar ia bisa pergi bekerja, lalu melambaikan tangan sebelum kembali masuk.
Dari dalam rumah, Mama memanggil namaku.
'Iya, Ma,' jawabku.
Aku melangkah menuju suaranya, melewati pekerjaan yang belum selesai dan pagi yang masih panjang. Aku bukan lagi perempuan yang mencoba menjadi bayangan agar diterima.
Aku Kayla. Anak Ayah, menantu Mama, dan istri Riyan.
Dan di rumah ini, namaku cukup.
TAMAT