Aku tertidur tanpa mengetahui kapan genggaman kami benar-benar terlepas. Ketika terbangun pagi berikutnya, tangan Riyan tidak lagi berada di tanganku. Ia masih tidur di sisi lain, menyisakan ruang yang cukup di antara kami.
Aku berbaring beberapa saat, merasakan hal yang biasa sekaligus baru. Tidak ada kejadian besar yang harus diumumkan. Kami hanya tidur berdekatan, dan aku merasa nyaman.
Pengingat berbunyi. Riyan membuka mata, lalu menoleh.
'Pagi.'
'Pagi, Om.'
Ia tersenyum ketika melihatku masih memperhatikannya.
'Bagaimana tidurnya?'
'Nyenyak. Ternyata Om tidak memenuhi seluruh tempat.'
'Om usahakan tidak tumbuh mendadak.'
Aku tertawa dan bangun. Kami menunaikan salat, kemudian bersiap menjalani hari. Riyan merapikan sisi tempat tidurnya, sementara aku mengurus bagianku. Sofa tidak perlu dibereskan seperti pagi-pagi sebelumnya karena malam tadi tidak dipakai tidur.
Perubahan itu tidak membuat semua pekerjaan lain menghilang. Kami masih perlu memilih pakaian, turun untuk sarapan, dan memperhatikan waktu berangkat.
Di dapur, Mama meminta aku membantu membawa minuman. Aku melakukannya, lalu duduk ketika sarapan siap. Tidak ada yang bertanya tentang kamar kami. Aku merasa lega karena kebahagiaan boleh menjadi sesuatu yang pribadi.
Setelah makan, Riyan beres bagian yang biasa dilakukannya dan berpamitan. Sebelum pergi, ia menyentuh tanganku sebentar.
'Nanti Om kabari.'
Aku mengangguk. 'Hati-hati.'
Setelah ia berangkat, aku kembali membantu Mama. Kami merapikan dapur, lalu beristirahat. Saat duduk, Mama memandangku dengan ragu sebentar sebelum berbicara.
'Kayla, foto Alana masih kamu simpan?'
Aku mengangguk.
'Kalau kamu berkenan, Mama ingin melihatnya sebentar.'
Aku menatap Mama. Permintaan itu tidak membuat dadaku sesak seperti dulu, tetapi aku tetap memeriksa perasaanku sendiri sebelum menjawab.
'Boleh, Ma. Aku ambil.'
Aku naik ke kamar, mengambil dompet dari tas kecil, lalu mengeluarkan foto dengan hati-hati. Wajah di kertas itu tetap sama. Aku tidak perlu meneliti perbedaan untuk membuktikan bahwa aku mempunyai kehidupan sendiri.
Ketika kembali ke bawah, Mama menerima foto itu setelah aku menyerahkannya. Aku duduk sebentar di dekatnya.
Mama memandang lama. Ada senyum kecil, kemudian matanya menjadi basah. Aku tidak mengubah posisi rambutku atau mencari gurauan untuk menghentikan air mata itu.
'Alana,' gumamnya.
Aku mendengar nama tersebut tanpa menganggapnya panggilan yang harus kujawab.
Beberapa saat kemudian Mama menatapku.
'Mama mau sendiri sebentar, boleh?'
'Boleh. Aku ada di dapur kalau Mama perlu.'
Aku berdiri dan meninggalkannya dengan foto itu. Bukan karena menolak kesedihannya. Ia meminta ruang, dan aku bisa memberikannya tanpa menganggap diri tidak berguna.
Di dapur, aku mengurus pekerjaan kecil yang belum beres. Tanganku sempat berhenti ketika mendengar gerakan dari ruang depan, tetapi aku tidak langsung bergegas keluar. Mama belum memanggil.
Setelah beberapa waktu, ia datang membawa foto.
'Terima kasih, Kayla.'
Aku menerima dengan kedua tangan.
'Mama sudah cukup?'
'Untuk sekarang, iya.'
Aku mengangguk. Ia tidak meminta aku berdiri di dekatnya agar bisa membandingkan. Tidak mengatakan seandainya Alana hidup, ia pasti melakukan hal yang sedang kulakukan.
Kami kembali pada kegiatan hari itu. Aku menyimpan foto ke dalam dompet, lalu menaruh dompet dalam tas kecil. Tidak ada upacara perpisahan. Alana tetap bagian dari keluarga ini, sementara aku tidak lagi harus menawar tempatku setiap kali namanya disebut.
Saat kembali ke dapur, Mama menanyakan apakah aku ingin membantu menata makan. Aku menjawab iya dan mengambil peralatan yang diperlukan. Kami bergerak seperti biasa, meskipun matanya masih sedikit merah.
'Air minumnya taruh di sini, Kayla,' katanya.
Aku mengikuti arah tangannya, lalu menggeser satu gelas agar mudah dijangkau. Setelah itu Mama bertanya apakah aku ingin duduk sebentar sebelum makan.
Aku mengangguk. Kami duduk tanpa berusaha menghapus percakapan yang baru terjadi. Aku tidak perlu membuat Mama tertawa untuk membuktikan ia sudah membaik. Hari itu masih bisa mempunyai makan siang meskipun ada rindu yang belum pergi.
Siang harinya aku makan bersama Mama, kemudian salat dan beristirahat. Aku sempat mengirim kabar singkat kepada Riyan bahwa Mama meminjam foto dan sudah mengembalikannya. Bukan laporan yang harus disetujui, hanya sesuatu yang ingin kubagikan karena kami pernah membicarakannya.
Riyan membalas ketika senggang.
'Terima kasih sudah menemani sesuai yang Mama perlukan. Kamu sendiri bagaimana?'
Aku membaca pertanyaan terakhirnya dua kali, lalu tersenyum.
'Aku baik. Aku tidak merasa harus menjadi siapa-siapa.'
Aku menyimpan ponsel setelah mengirim. Jawaban itu terasa benar untuk hari ini, tanpa perlu menjadi janji bahwa aku tidak akan pernah tersentuh kesedihan lagi.
Sore menjelang, aku teringat percakapan tentang anak yang pernah kami jadwalkan untuk minggu ini. Besok sudah genap sekitar satu pekan sejak kami menyepakati akan berbicara lagi.
Aku tidak merasa harus mempersiapkan jawaban baru. Namun aku ingin memastikan kami tetap menyediakan waktu, bukan membiarkannya hilang karena beberapa hari terakhir menyenangkan.
Ketika Riyan mengabari hendak pulang, aku membalas dan meminta waktu berbicara sebentar setelah makan. Ia menyetujui.
Malamnya, sesudah ia pulang, membersihkan diri, dan kami makan bertiga, kami membereskan meja bersama. Mama memilih beristirahat setelah mengucapkan selamat malam.
Aku dan Riyan kembali ke kamar. Ia duduk setelah menaruh barangnya, lalu menatapku.
'Tadi kamu ingin bicara.'
Aku mengangguk.
'Besok malam kita bisa duduk lagi soal rencana anak? Seperti yang dulu kita sepakati.'
'Bisa. Om akan mengatur agar kita punya waktu setelah makan. Kalau ada perubahan, Om beri tahu.'
'Aku tidak punya kabar besar.'
Riyan tersenyum kecil. 'Om tidak meminta kabar besar.'
'Aku cuma ingin pembicaraannya tetap ada. Bukan karena sekarang kita lebih dekat, lalu dianggap semua sudah dijawab.'
Ia mengangguk, wajahnya kembali serius.
'Yang kamu pilih tentang kedekatan tidak menggantikan pembicaraan tentang anak.'
Aku mengembuskan napas. Itulah kalimat yang ingin kupastikan tanpa harus mengulang seluruh ketakutanku.
Kami menyepakati besok setelah makan malam, saat sama-sama punya ruang untuk mendengar. Setelah itu, kami bersiap tidur. Aku memilih kembali berbaring di sisinya dan mengatakan bahwa aku masih nyaman seperti malam sebelumnya.
Riyan menerima tanpa menganggap itu keputusan yang tidak bisa berubah.
Aku memejamkan mata setelah mengucapkan selamat tidur. Besok kami akan membicarakan masa depan, tetapi malam ini tidak terasa seperti ruang tunggu menuju penilaian. Aku boleh datang ke percakapan itu dengan jawaban yang masih sama.