Aku kembali melangkah ke sisi tempat tidur setelah mengatakan itu. Riyan tidak mengikuti dengan terburu-buru. Kami bergantian bersiap, lalu ia menempati sofa seperti biasa.
Sebelum lampu diredupkan, aku menatapnya.
'Selamat tidur, Om.'
'Selamat tidur, Kay.'
Aku memejamkan mata dengan senyum yang tidak perlu kusembunyikan. Pengakuan tadi tidak membuat malam harus berubah menjadi sesuatu yang belum kupilih. Kami boleh berhenti pada ciuman singkat, lalu tidur dengan tenang.
Pagi berikutnya kami bangun dan menunaikan salat. Aku merapikan tempat tidur, sedangkan Riyan membereskan sofa. Ketika ia melipat barang yang dipakai, aku memperhatikannya lebih lama daripada biasanya.
Ia menoleh. 'Ada apa?'
Aku menggeleng. 'Belum apa-apa.'
Ia mengangguk, lalu bersiap bekerja. Aku turun untuk membantu sarapan, membawa pertanyaan yang belum berani kususun menjadi kalimat.
Di meja makan, Mama berbicara tentang kegiatan yang ingin dilakukan hari itu. Aku menawarkan membantu setelah mengurus pakaianku. Riyan mengambil piringnya sendiri dan menanyakan apakah ada yang perlu dibawa ketika pulang.
Kami menjawab kebutuhan yang memang ada, bukan menciptakan alasan agar ia membuktikan perhatian. Setelah sarapan, ia berpamitan. Aku mengantarnya sampai pintu dan menyentuh tangannya sebentar sebelum ia pergi.
Tidak ada yang menertawakan betapa kecilnya gerakan itu. Tidak ada pula yang menganggapnya janji untuk sesuatu yang lebih jauh.
Hari itu aku mengurus pakaian dan merapikan beberapa barang pribadi. Di kamar, aku memindahkan barangku yang sempat memenuhi sisi meja agar Riyan juga mempunyai ruang. Bukan karena ia meminta, melainkan karena aku menyadari aku juga bisa membuat orang lain harus terus menyesuaikan diri.
Aku tidak membuang atau menyembunyikan apa pun. Dompet tetap berada dalam tas kecil. Foto Alana tidak perlu dipindahkan hanya karena aku sedang memikirkan suamiku sebagai suami.
Aku menatap sofa, lalu tempat tidur.
Pertanyaan yang tadi pagi kutahan muncul lagi. Aku ingin tidur berdekatan dengan Riyan, bukan karena sofa harus dianggap bukti bahwa pernikahan kami kurang baik. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana rasanya memilih ruang bersama tanpa merasa kehilangan ruang untuk diri sendiri.
Namun membayangkannya tidak sama dengan siap mengatakan.
Aku duduk sebentar, lalu tertawa kecil. Setelah berhasil menyatakan cinta, ternyata masih ada kalimat sederhana yang membuat lidahku terasa kaku.
Aku tidak mengirim pesan saat ia bekerja. Aku ingin membicarakannya ketika kami bisa saling melihat, bukan membuatnya menebak nada dari beberapa kata yang kuketik lalu kuhapus.
Siang hari aku makan bersama Mama. Ia memperhatikan aku lebih pendiam, lalu bertanya apakah sedang memikirkan sesuatu.
'Iya, Ma. Tapi tidak ada masalah yang perlu dibereskan sekarang.'
Mama mengangguk. 'Kalau ingin cerita, Mama ada.'
'Terima kasih.'
Aku lega karena jawaban itu cukup. Tidak semua hal tentang perkawinanku perlu melewati percakapan keluarga sebelum boleh kuputuskan bersama Riyan.
Setelah salat dan beristirahat, aku membantu Mama mengerjakan bagian yang tadi disepakati. Kami sempat berbeda pendapat tentang urutan, lalu memilih cara yang lebih masuk akal untuk ruang yang ada.
Aku tidak langsung menganggap perbedaan itu berarti Mama tidak mempercayaiku. Ia juga tidak menolak pertanyaanku hanya karena lebih terbiasa mengurus rumah.
Sore menjelang, Riyan mengabari perkiraan pulangnya. Aku membalas, kemudian melanjutkan kegiatan. Keinginanku berbicara dengannya tidak membuat jam bergerak lebih cepat, jadi aku memilih tidak terus melihatnya.
Ketika ia tiba, kami menyapa lalu memberinya waktu membersihkan diri. Saat makan malam, aku mendengarkan ceritanya tentang hari yang melelahkan tanpa menganggap aku harus mengubah suasana menjadi riang.
Aku bertanya apakah ia ingin istirahat dahulu setelah makan.
'Sebentar saja,' jawabnya. 'Lalu Om bantu beres.'
Ia melakukannya setelah duduk secukupnya. Aku tidak perlu mengulang permintaan atau menunjukkan bahwa janji itu sedang kutunggu. Kami membereskan meja, lalu berpamitan kepada Mama yang ingin beristirahat.
Di kamar, Riyan menaruh barangnya. Aku berdiri di dekat tempat tidur sambil memegang pakaian tidur yang hendak dipakai.
'Om, aku mau bertanya.'
Ia menoleh dan meletakkan barang di tangannya.
'Tanya saja.'
Aku menarik napas.
'Aku ingin mencoba tidur berdekatan. Di tempat tidur yang sama.'
Riyan tidak langsung bergerak.
'Kamu yakin ingin mencoba malam ini?'
Aku mengangguk. 'Iya. Tapi maksudku tidur. Aku belum sedang mengatakan ingin yang lain.'
'Om mengerti.'
Aku memandang wajahnya. Tidak ada kekecewaan yang ia jadikan lelucon. Ia bertanya sisi mana yang membuatku nyaman, dan aku menunjukkan tempat yang biasa kupakai.
Kami menata ruang bersama. Aku memindahkan barang kecil dari dekat tempat tidur agar tidak menghalangi, sementara Riyan membawa bantal yang diperlukannya. Gerakan biasa itu membuatku lebih tenang daripada kalimat meyakinkan yang terlalu panjang.
Ketika ia hendak meletakkan bantal, aku menunjukkan posisi yang lebih nyaman.
'Sedikit ke sana, Om. Aku suka punya ruang di bagian ini.'
Ia menggesernya, kemudian bertanya apakah sudah cukup. Aku mengangguk. Tidak ada alasan bagiku mengatakan terserah lalu kesal karena ia tidak bisa menebak.
Aku merapikan selimut dan duduk sebentar, mencoba tempat yang kupilih. Riyan menunggu tanpa menertawakan keseriusanku.
'Aku seperti sedang mengatur ruang tamu,' gumamku.
'Yang penting kamu nyaman.'
Aku tertawa kecil, lalu berdiri untuk bersiap. Tempat tidur itu tidak berubah menjadi sesuatu yang menakutkan hanya karena sekarang kami membicarakan cara memakainya bersama.
'Kalau aku belum nyaman, aku boleh bilang,' kataku.
'Boleh. Om juga akan bilang kalau ada yang perlu diubah.'
Aku tersenyum. Ternyata bukan hanya aku yang boleh mempunyai kebutuhan. Kami sedang berbagi tempat, bukan meminta salah satu orang menghilang.
Setelah bergantian bersiap, aku berbaring lebih dulu. Riyan menyusul tanpa menarikku mendekat. Ada jarak yang cukup, dan untuk beberapa saat aku merasa lucu karena sibuk memperhatikan keberadaan orang di sebelahku.
'Om sudah mengantuk?' bisikku.
'Sedikit.'
'Aku malah jadi sadar cara bernapas.'
Ia tertawa pelan. 'Tidak perlu diatur untuk Om.'
Aku ikut tertawa, lalu perlahan merasa lebih santai. Setelah beberapa saat aku mengulurkan tangan. Riyan menyambutnya, dan kami berpegangan tanpa harus mengubah posisi lain.
Aku memejamkan mata. Hangat telapaknya terasa akrab, tetapi kali ini aku tidak perlu segera melepaskannya untuk berpindah tempat.
Ketika genggaman mulai longgar karena mengantuk, tidak ada yang menahannya. Aku menggeser tubuh agar nyaman, mendengar napas Riyan mulai tenang.
Malam itu kedekatan tidak datang seperti pintu yang ditutup di belakangku. Ia terasa seperti ruang yang kubuka sendiri, dengan jalan untuk mengatakan apa yang kuinginkan tetap ada.