Aku kembali ke dapur dan mengambil lap yang tadi belum disimpan. Mama sedang merapikan beberapa barang. Ia menoleh ketika melihatku masih tersenyum sendiri.
'Ada yang menyenangkan?' tanyanya.
Aku mengangguk. 'Ada, Ma.'
Mama tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak meminta cerita lengkap. Aku merasa lega karena boleh menyimpan kebahagiaan yang masih ingin kupegang sendiri.
Kami membereskan bagian terakhir, kemudian aku naik untuk mengurus kamar. Di dekat sofa, aku melihat tempat Riyan merapikan barangnya. Tidak ada benda khusus yang berubah sejak semalam. Hanya aku yang sekarang mengingat suara pengakuannya ketika memandang ruangan.
Aku duduk dan membuka catatan di ponsel.
Awalnya aku ingin menuliskan jawaban agar nanti tidak terbata-bata. Kalimat pertama yang muncul justru ucapan terima kasih karena ia sudah bersabar. Kubaca sekali, lalu kuhapus.
Aku bersyukur atas perubahan yang terjadi, tetapi cinta bukan tanda terima untuk kesabaran. Aku tidak ingin mengatakannya karena merasa waktuku untuk menjawab sudah habis.
Kucoba menulis lagi. Kali ini kalimatnya terlalu panjang, seperti penjelasan yang bisa membuat orang mengantuk sebelum sampai pada maksudnya.
Aku tertawa sendiri.
Rupanya mengatakan tiga kata bisa terasa lebih sulit daripada menceritakan satu hari penuh.
Aku menutup catatan tanpa menyimpannya sebagai pesan. Jawabanku tidak harus sempurna supaya jujur. Aku bisa membiarkannya tumbuh dalam hari ini tanpa terus mengukurnya.
Siang harinya aku makan bersama Mama. Kami berbicara tentang kegiatan yang belum sempat dilakukan dan bagian yang bisa menunggu. Aku tidak mencari kesibukan tambahan untuk membenarkan perasaan senangku.
Sesudah salat, aku beristirahat sebentar. Ketika bangun, ada pesan Riyan menanyakan apakah aku sudah makan. Aku membalas dan menambahkan pertanyaan tentang harinya.
Jawabannya datang ketika ia sempat. Pekerjaan berjalan seperti biasa, ia sudah makan, dan akan memberi kabar sebelum pulang.
Aku membaca pesan itu tanpa berharap ada pengakuan cinta lain untuk memastikan kalimat semalam masih berlaku. Kepercayaan tidak harus diberi makan dengan kata besar setiap beberapa jam.
Sore menjelang, aku membantu Mama menyiapkan makan. Ada bagian yang bisa kukerjakan, ada yang ia pilih sendiri. Kami bergerak tanpa menjadikan aku murid yang harus dinilai terus.
Ketika Riyan mengabari sedang bersiap pulang, aku menaruh ponsel dan melanjutkan pekerjaan. Aku ingin menemuinya, tetapi tidak perlu menunggu di pintu sejak saat itu juga.
Ia tiba setelah beberapa waktu, menyapa kami, lalu membersihkan diri. Aku tersenyum ketika ia bertanya bagaimana hariku.
'Baik. Aku sempat menulis sesuatu, lalu menyerah.'
'Tulisan apa?'
'Nanti.'
Ia mengangguk, tidak memaksa melihat ponselku.
Kami makan bertiga. Aku mendengarkan Riyan dan Mama berbincang, sesekali menambahkan cerita. Ada saat aku tertawa terlalu cepat karena menebak akhir gurauannya, dan ia menatapku seolah aku mencuri bagian yang hendak diucapkan.
'Om belum sampai situ,' katanya.
'Aku membantu supaya cepat.'
'Terima kasih yang meragukan.'
Mama tertawa. Aku merasa hangat, bukan karena seluruh masalah hilang, tetapi karena aku tidak harus menahan diriku agar dianggap menyenangkan.
Sesudah makan dan membereskan meja, aku menawarkan membuatkan kopi. Riyan menggeleng pelan.
'Tidak dulu, Kay. Om sudah cukup minum kopi hari ini.'
Dulu aku mungkin akan merasa tawaranku ditolak bersama seluruh usahaku. Malam ini aku hanya mengangguk.
'Air saja?'
'Air boleh. Kita duduk sebentar?'
Aku mengambil minum untuk kami, kemudian duduk bersamanya di ruang depan. Mama masih di dekat kami sebentar sebelum memilih beristirahat. Setelah berpamitan, ia meninggalkan kami tanpa menggoda.
Aku melihat gelas di tangan Riyan, lalu teringat betapa seringnya aku dulu menganggap secangkir kopi sebagai ukuran apakah aku sudah menjadi istri yang baik.
'Om boleh tidak mau kopi,' kataku.
Ia menatapku bingung.
'Aku tahu itu terdengar aneh. Aku cuma sedang memikirkan sesuatu.'
'Om dengarkan.'
Aku tersenyum kecil. 'Aku dulu suka merasa kalau tawaranku tidak diterima, berarti aku kurang melakukan sesuatu.'
Riyan meletakkan gelasnya.
'Sekarang?'
'Sekarang aku senang bisa duduk tanpa harus membawa sesuatu yang membuatku layak ditemani.'
Ia mengangguk. Tidak mengubahnya menjadi pujian tentang betapa banyak aku telah belajar. Ia hanya menggeser gelas agar tidak menghalangi ketika aku meletakkan tanganku di meja.
Aku menatapnya beberapa saat. Kalimat yang siang tadi kususun panjang mendadak terasa tidak diperlukan.
'Aku mencintai Om.'
Riyan terdiam. Kali ini aku melihat bagaimana pengakuan itu sampai kepadanya, bukan langsung berubah menjadi jawaban yang sudah disiapkan.
Aku melanjutkan sebelum keberanianku menghilang.
'Bukan karena Ayah memilih Om. Bukan karena aku harus membalas yang Om katakan semalam.'
Riyan mengangguk pelan, matanya tetap padaku.
'Aku mencintai Om yang mau mendengar ketika aku tidak setuju. Yang masih bisa tertawa denganku, tapi juga mau berhenti kalau aku bilang tidak lucu. Aku ingin menjalani hari-hari bersama Om, bukan cuma berusaha supaya hari ini tidak ada yang marah.'
Ia menarik napas. Aku merasa tanganku sedikit bergetar, tetapi tidak menarik kembali ucapanku.
'Terima kasih sudah mengatakannya,' katanya.
Aku tersenyum malu. 'Kalimatku tidak jadi rapi.'
'Om mendengar dengan jelas.'
Ia mengulurkan tangan. Aku menyambutnya, lalu kami duduk beberapa saat tanpa menambahkan janji bahwa tidak akan pernah bertengkar.
Sesudah minuman kami habis, aku berdiri membawa gelas. Riyan ikut bangkit.
'Om jangan tiba-tiba berubah sombong,' kataku.
Ia tertawa. 'Karena apa?'
'Sudah tahu aku cinta.'
'Baik. Om tetap mencuci gelas sendiri.'
Aku tertawa dan berjalan bersamanya ke dapur. Setelah gelas disimpan, kami kembali ke kamar. Aku menaruh ponsel yang sejak tadi tidak kulihat, lalu menoleh kepadanya.
'Catatan siang tadi tentang ini,' kataku.
'Om tidak perlu membacanya.'
Aku mengangguk. Jawabanku sudah sampai tanpa dipinjamkan kepada layar.
Malam itu, sebelum bersiap tidur, aku mendekat dan mencium pipinya singkat setelah ia menyambutku. Aku mundur dengan wajah panas. Riyan tersenyum, tidak menahan atau meminta lebih.
Aku akhirnya tertawa.
'Ternyata bicara lebih susah daripada itu.'
'Untukmu malam ini, mungkin.'
Aku mengangguk. Besok bisa berbeda. Namun malam ini aku tahu bahwa kedekatan yang kupilih sendiri terasa sangat berbeda dari sesuatu yang kulakukan karena takut mengecewakan.