'Aku mendengarkan, Om.'
Riyan menatapku. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak kesulitan memilih kata. Biasanya akulah yang menarik ujung baju atau memeluk bantal ketika percakapan terasa terlalu dekat. Sekarang jemarinya saling bertaut di atas lutut.
'Om mencintaimu, Kayla.'
Aku tidak bergerak.
Kalimat itu tidak keras. Tidak disertai sesuatu yang dikeluarkan dari saku atau janji yang terdengar seperti pidato. Namun aku merasakan seluruh tubuhku menjadi sangat sadar bahwa kami sedang duduk berhadapan.
Riyan melanjutkan setelah beberapa saat.
'Om suka caramu bertanya sampai sesuatu benar-benar jelas. Kadang Om tidak nyaman menjawab, tetapi kamu membuat Om tidak bisa terus bersembunyi di balik jawaban yang setengah.'
Aku menatapnya, takut berkedip akan membuat ucapannya terputus.
'Om suka caramu melucu. Bukan karena kamu harus membuat rumah ramai, tapi karena ada hal yang kamu lihat dengan cara yang tidak terpikirkan oleh Om.'
'Seperti rasa gugup yang perlu kursi?'
Ia tersenyum. 'Seperti itu.'
Aku ikut tersenyum, lalu mendadak mataku terasa panas.
'Om melihat kamu ingin dekat dengan Ayah tanpa mengambil pilihan beliau. Kamu juga mencoba mendengar Mama, tetapi belajar mengatakan cukup ketika memang sudah cukup. Om mencintai orang yang sedang duduk di sini. Bukan seseorang yang harus kamu perankan.'
Aku menunduk. Kalimat itu datang setelah begitu banyak pertanyaan, air mata, dan hari biasa. Mungkin karena itulah aku tidak merasa harus langsung mempercayainya hanya dari bunyinya. Aku punya beberapa kejadian nyata yang bisa kuingat.
Meski begitu, ada bagian yang masih ingin kupastikan.
'Kalau besok aku tidak lucu?'
'Om tidak menunggu kamu menghibur setiap hari.'
'Kalau aku marah?'
'Kita mencari tahu apa yang terjadi. Bukan berarti perasaan Om hilang.'
Aku menarik napas, kemudian menatapnya lagi.
'Aku tidak mau dicintai karena akhirnya mudah diatur.'
'Om tidak sedang meminta kamu menjadi lebih mudah.'
Aku mengangguk pelan. Tidak ada alasan lagi untuk bertanya tentang setiap kemungkinan buruk malam itu. Tetapi masih ada satu hal yang tidak ingin kubiarkan hilang di bawah kata cinta.
'Awal kita tetap menyakitkan, Om.'
'Iya.'
'Ucapan ini tidak membuatnya jadi kisah yang indah sejak mula.'
'Om tahu. Om tidak ingin mengubah apa yang kamu ingat supaya Om terlihat lebih baik.'
Aku mengusap pipi. Air mataku sudah turun, tetapi rasanya tidak sama dengan ketika aku duduk sendirian di tempat makan. Kali ini aku tidak sedang menunggu seseorang kembali dari percakapan yang mengecualikanku.
Riyan mengulurkan tisu. Aku menerimanya, lalu tertawa kecil.
'Om selalu siap.'
'Tidak selalu. Kali ini kebetulan dekat.'
Aku menyeka wajah. Jawaban sederhana itu membuatku semakin ingin menangis sekaligus tertawa.
'Aku belum tahu harus menjawab bagaimana.'
'Kamu tidak harus mengulang kalimat yang sama sekarang.'
Aku menatapnya. Ia tidak mengatakan itu sambil memalingkan wajah atau menarik diri. Ia tetap duduk, membiarkan perkataannya menjadi sesuatu yang bisa kudengar tanpa harus langsung kubayar.
'Aku senang mendengarnya,' kataku.
Riyan mengangguk. 'Om senang bisa mengatakannya.'
Kami diam beberapa saat. Aku memperhatikan tangannya yang kembali berada di lutut. Aku ingin mendekat, tetapi tidak ingin melakukan sesuatu hanya karena sebuah pengakuan seolah membutuhkan hadiah.
Aku memeriksa keinginanku sendiri. Kali ini jawabannya cukup jelas.
'Aku mau dipeluk.'
Riyan membuka lengannya setelah aku bergeser mendekat. Aku memeluknya, menempelkan pipi ke bahunya. Pelukannya tidak terburu-buru, dan ia tidak menyebut nama selain namaku.
Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa merasakan tubuhku mulai tenang tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.
Beberapa saat kemudian aku mengendurkan pelukan. Riyan melepaskannya ketika aku mundur. Aku tersenyum malu, lalu mengambil tisu lagi.
'Jangan bilang mataku bengkak.'
'Om belum bicara.'
'Aku mencegah.'
Ia tertawa pelan. Aku ikut tertawa, dan ruangan itu kembali terasa seperti kamar kami, bukan tempat pengadilan terakhir atas seluruh pernikahan.
Sesudahnya aku merasa haus dan mengajak Riyan turun untuk mengambil air sebelum bersiap tidur. Kami mengambil gelas masing-masing, lalu minum sambil berdiri sebentar di dapur.
'Menangis ternyata bikin haus,' kataku.
'Mau duduk?'
Aku menggeleng. 'Sebentar saja. Aku baik-baik saja.'
Ia menerima jawabanku. Tidak setiap air mata membutuhkan pemeriksaan panjang sampai aku bisa membuktikan bahwa sudah tenang. Kami menghabiskan air, kemudian mencuci gelas yang baru dipakai.
Saat mengeringkan tangan, aku melirik Riyan dan mendapati ia sedang melihatku juga. Aku tersenyum, lalu kembali memperhatikan lap.
'Apa?' tanyaku.
'Tidak ada.'
Kali ini aku mempercayai jawaban itu. Kami boleh saling melihat karena senang, tanpa ada rahasia buruk yang harus ditemukan di balik setiap diam. Kami kembali ke kamar dan bergantian bersiap tidur.
Saat kembali, aku tidak lagi merasa harus menambahkan pertanyaan supaya percakapan tadi tetap hidup. Aku boleh tidur dengan kalimat yang sudah kudengar.
Riyan menyiapkan sofa. Sebelum ia berbaring, aku memanggilnya.
'Om.'
'Iya?'
'Terima kasih karena menyebut namaku.'
Ia menatapku, lalu tersenyum.
'Selamat tidur, Kayla.'
Aku membalas dan berbaring. Malam itu aku sempat mengulang ucapannya dalam kepala. Bukan untuk mencari lubang tersembunyi, melainkan karena aku belum terbiasa mendengar sesuatu yang kuinginkan tanpa harus menebak apakah aku layak menerimanya.
Pagi berikutnya kami bangun, menunaikan salat, lalu bersiap. Riyan mengurus barangnya seperti biasa. Aku memperhatikan geraknya, merasa sedikit canggung ketika mata kami bertemu.
'Kenapa senyum?' tanyanya.
'Aku tidak senyum.'
'Baik.'
Aku menutup wajah dengan tangan, dan ia tertawa. Tidak ada tuntutan jawaban pagi itu. Ia tidak menanyakan apakah setelah tidur aku sudah siap mengatakan cinta kembali.
Di dapur, Mama menyapaku. Aku membantu membawa sarapan, lalu hampir mengambil minuman yang bukan untukku karena pikiranku melayang.
'Kayla, yang itu punya Riyan.'
'Oh. Iya, Ma.'
Mama tersenyum, tetapi tidak mengorek. Riyan turun tidak lama kemudian dan mengambil tempatnya. Kami makan bersama seperti pagi-pagi lain, hanya saja aku lebih sering sadar ketika suaranya menyebut namaku.
Setelah sarapan, ia bersiap bekerja. Aku mengantarnya sampai pintu.
'Aku masih memikirkan ucapan semalam,' kataku.
Riyan mengangguk.
'Bukan karena aku ingin menarik diri. Aku ingin jawabanku benar-benar milikku.'
Ia menatapku tanpa mendesak.
'Om akan mendengarkan ketika kamu ingin mengatakannya.'
Aku membiarkannya berangkat. Saat kembali masuk, aku tahu aku tidak sedang mencari alasan untuk mencintainya. Aku sedang belajar mengenali perasaan yang telah tumbuh tanpa mengabaikan diriku sendiri.