'Tidak, Yah,' jawabku. 'Aku tetap akan bilang kalau ingin bicara. Aku cuma senang sekarang ada rencana bertemu lagi.'
'Bagus. Jangan jadwal kunjungan malah membuatmu merasa tidak boleh menelepon.'
Aku tersenyum. Riyan duduk di dekatku, sementara Mama masih mendengarkan dari kursinya. Aku tidak merasa harus memilih salah satu dari mereka agar Ayah tahu aku tetap menyayanginya.
'Ayah juga boleh mulai duluan,' kataku. 'Jangan menunggu aku terus.'
'Iya. Kalau kamu sedang sibuk, bilang saja.'
Aku mengangguk. 'Bukan berarti aku tidak mau mendengar.'
'Ayah tahu.'
Jawaban itu membuat dadaku hangat. Dulu aku sering membayangkan setiap panggilan yang terlambat dijawab akan berubah menjadi kesedihan besar. Sekarang kami bisa membicarakan hal itu dengan kalimat yang sederhana.
Riyan memastikan kembali bahwa kami akan memberi kabar lebih dekat dengan hari kunjungan. Ayah menyetujuinya. Tidak ada kebutuhan mendesak yang diminta, dan tidak ada ajakan pindah yang disisipkan di ujung percakapan.
Kami berbincang sebentar lagi tentang kegiatan biasa. Aku menceritakan bahwa Mama sempat beristirahat lebih lama kemarin, lalu mengakui bahwa aku tetap meminta bantuan saat mengatur dapur.
'Memang kalau tidak tahu, tanya,' kata Ayah.
'Aku dulu mengira harus bisa dulu baru boleh pulang dengan bangga.'
'Ayah tidak menunggu kamu membawa sertifikat memasak.'
Aku tertawa sampai Mama ikut tersenyum. Riyan menunduk sebentar, menahan tawa karena melihatku menutup wajah.
Setelah cukup berbicara, kami bertukar salam. Aku mengucapkan selamat istirahat dan menutup panggilan. Tidak kupanjangkan hanya karena takut rasa rindu akan kembali begitu layar gelap.
Ponsel kutaruh di meja. Aku duduk sebentar, membiarkan percakapan tadi mengendap.
Mama bertanya apakah waktunya sudah kucatat. Aku mengangguk dan menunjukkan catatan singkatnya.
'Tiga pekan lagi dari hari ini, dua malam. Nanti dipastikan lagi sebelum berangkat.'
'Baik,' katanya.
Aku menatapnya. 'Mama senang di rumah kemarin waktu kami ke desa?'
'Senang punya waktu sendiri. Juga senang waktu kalian pulang.'
Aku mengangguk. Jawaban itu terdengar sangat masuk akal setelah beberapa hari belajar bahwa dua perasaan tidak harus saling menghapus.
'Kalau nanti Mama ingin sesuatu saat kami merencanakan pergi, bilang, ya.'
'Mama akan bilang.'
Aku tidak menambahkan dugaan tentang apa yang sebenarnya ia rasakan. Mama telah menjawab, dan aku ingin menghormati jawaban itu.
Riyan mengumpulkan gelas. Aku bangkit mengambil satu, lalu kami membawanya ke dapur. Mama tetap duduk sebentar sebelum hendak beristirahat.
Di dapur aku memeriksa tempat kertas rencana disimpan. Masih di sana. Aku hampir membukanya untuk melihat kembali apa yang terlaksana kemarin, tetapi urung.
Aku sudah tahu. Sebagian kujalankan, sebagian dibantu, sebagian kutunda. Tidak perlu terus mencari angka akhir yang akan membuktikan aku berhasil menjadi seseorang.
Riyan melihat tanganku berhenti.
'Mau menyimpan di tempat lain?'
'Tidak. Aku cuma hampir menilai diriku lagi.'
Ia mengangguk dan melanjutkan mencuci gelasnya. Aku suka bahwa ia tidak menjawab setiap kalimatku dengan nasihat baru. Kadang mengetahui bahwa ia mendengar sudah cukup.
Kami mengeringkan tangan, lalu kembali ke ruang depan untuk berpamitan kepada Mama sebelum naik. Mama menyentuh lenganku sebentar.
'Terima kasih untuk kemarin, Kayla.'
Aku tersenyum. 'Karena masakannya?'
'Karena kamu mengajak Mama membicarakan apa yang ingin dilakukan. Mama bisa istirahat tanpa merasa disuruh menyingkir.'
Aku menatapnya, lalu mengangguk pelan.
'Aku juga senang Mama tidak berdiri terus di belakangku.'
Mama tertawa. 'Kalau terus berdiri, kapan Mama duduknya?'
Aku tertawa bersamanya. Tidak ada panggilan yang membuatku bertanya apakah ia sedang melihat orang lain di wajahku. Ia sedang berbicara kepadaku tentang hari yang benar-benar kami jalani.
Sesudah Mama beristirahat, aku dan Riyan naik. Di kamar, aku meletakkan ponsel dan memeriksa barang yang hendak dipakai esok hari. Riyan mengurus miliknya sendiri.
Gerakan itu sudah mulai terasa biasa. Aku menyadari bahwa bagian menyenangkan dari perubahan mungkin justru saat aku tidak lagi harus terkejut melihatnya.
Aku duduk di tepi tempat tidur setelah selesai. Riyan menaruh barangnya, lalu duduk tidak jauh.
'Ayah terdengar senang,' katanya.
'Iya. Aku juga.'
Ia mengangguk. Kami diam sebentar, bukan karena tidak ada yang boleh dibicarakan. Aku sedang menikmati perasaan bahwa rumah Ayah tidak terputus hanya karena aku berada di sini.
'Om,' panggilku.
'Hm?'
'Aku dulu takut kalau aku mulai senang tinggal di sini, aku akan menjadi anak yang lupa pulang.'
'Masih takut?'
'Kadang. Tapi tadi rasanya tidak begitu.'
Aku menatap tanganku sendiri, lalu tersenyum kecil.
'Ternyata aku bisa punya rencana kembali ke Ayah dan tetap senang pulang ke kamar ini.'
Riyan memandangku lebih lama. Aku menyadari kalimatku terdengar lebih dekat daripada yang kurencanakan, dan pipiku mulai hangat.
'Jangan senyum begitu,' kataku.
'Begitu bagaimana?'
'Seperti Om tahu sesuatu.'
Ia tertawa pendek. Aku mengambil bantal kecil di dekatku, memeluknya agar tanganku tidak sibuk merapikan baju yang sudah rapi.
Riyan tidak menggodaku lebih jauh. Ia bertanya apakah aku lelah. Aku mengangguk sedikit, lalu mengatakan masih ingin duduk sebentar sebelum bersiap tidur.
Ia tetap di dekatku.
Aku memikirkan semua hal yang dulu kukira menjadi syarat agar diterima. Masakan harus enak, rumah harus rapi, wajah harus menyenangkan, pertanyaan harus sedikit. Ada hari ketika aturan itu masih muncul. Namun aku mulai mengenali kapan aturan itu dibuat oleh ketakutanku sendiri.
'Aku belum jadi orang yang selalu tenang,' kataku.
Riyan tersenyum tipis. 'Om tahu.'
'Aku masih bisa banyak bertanya.'
'Om juga tahu.'
'Kalau begitu, jangan nanti kaget.'
Kali ini ia tertawa. Aku ikut tersenyum, lalu meletakkan bantal kembali. Aku tidak sedang memperingatkan agar ia tidak kecewa menerima diriku. Aku sedang memberitahukan apa yang memang ada, tanpa meminta maaf atas seluruh keberadaanku.
Riyan menggeser duduk sedikit agar kami bisa saling melihat dengan nyaman.
'Ada yang ingin Om katakan, Kay.'
Aku mengangkat wajah. Nada suaranya tidak membuatku takut, tetapi cukup serius untuk menghentikan gurauanku.
'Tentang apa?'
'Tentang kamu. Bukan tentang kemiripanmu dengan siapa pun, dan bukan tentang seberapa banyak pekerjaan yang bisa kamu lakukan.'