'Iya. Kita tanyakan kepada Ayah, bukan mengumumkan,' jawab Riyan.
Aku mengangguk. Setelah itu kami bergantian bersiap tidur. Aku mengirim pesan singkat kepada Ayah bahwa besok kami akan berkabar lagi sebelum menelepon, lalu menyimpan ponsel.
Tidak ada alasan membawa rencana perjalanan tiga pekan lagi ke dalam setiap detik malam ini.
Riyan menyiapkan sofa. Aku berbaring setelah memastikan pengingat pagi, kemudian menatapnya sebentar.
'Om masih capek?'
'Lumayan.'
'Kalau begitu tidur. Jangan merasa harus menemaniku bicara lagi.'
Ia tersenyum. 'Terima kasih.'
Aku membalas ucapan selamat malamnya. Kali ini aku tidak mengartikan cepatnya ia memejamkan mata sebagai keinginan menjauh. Ia sudah mengatakan lelah, dan aku boleh mempercayai kalimat yang sederhana.
Pagi berikutnya kami bangun, salat, lalu bersiap menjalani hari. Aku turun dan menemukan Mama di dapur. Tidak ada pengumuman bahwa hari mengatur rumah sudah lewat sehingga semua pekerjaan kembali menjadi miliknya.
Aku mengambil bagian yang biasa bisa kubantu. Mama mengerjakan bagiannya. Ketika Riyan datang, ia menata meja tanpa menunggu aku mengingatkan.
'Masih ingat?' godaku.
'Piringnya tidak pindah.'
'Bagus. Aku tidak perlu membuat denah.'
Mama tertawa. Kami sarapan sambil membicarakan rencana menelepon Ayah malam nanti. Riyan mengatakan akan memastikan kemungkinan waktu kunjungan setelah melihat pekerjaannya hari itu.
Mama mengangguk dan meminta diberi tahu jika kami sudah menemukan waktu yang cocok. Ia tidak mengubah rencana itu menjadi ajakan agar Ayah sekalian pindah.
Setelah Riyan berangkat, aku membereskan meja bersama Mama. Hari ini aku tidak merasa perlu menambah pekerjaan karena kemarin berjalan cukup baik. Aku tetap memilih yang bisa dikerjakan dan meninggalkan waktu untuk istirahat.
Menjelang siang, Riyan mengirim pesan. Ia sudah memeriksa dan bisa menata pekerjaannya untuk kunjungan tiga pekan lagi, dengan rencana tinggal dua malam. Ia tetap ingin mendengar apakah waktunya cocok untuk Ayah.
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum, lalu membalas bahwa kami akan menanyakannya bersama malam nanti.
Aku tidak langsung mengirim kabar kepada Ayah dengan kata pasti. Rencana itu belum mempunyai jawaban dari orang yang rumahnya akan kami datangi.
Siang berlalu dengan makan, salat, dan pekerjaan sederhana. Aku sempat duduk bersama Mama, mendengarkan ceritanya tentang bagian rumah yang ingin dirapikan pada waktu lain. Tidak semuanya harus dikerjakan saat itu juga.
Ketika ponselku berbunyi sore hari, aku tidak segera berdiri seperti ada sesuatu yang salah. Ayah hanya mengabari sudah bisa berbicara nanti setelah makan.
Aku membalas bahwa kami juga akan makan dahulu.
Riyan pulang setelah memberi kabar. Ia membersihkan diri, lalu turun untuk makan bersama. Aku menunjukkan pesan Ayah, dan ia mengangguk. Kami tidak mempercepat makan sampai terburu-buru hanya karena ingin segera menelepon.
Sesudah meja dibereskan, aku mengambil ponsel. Mama masih berada di ruang depan. Aku menanyakan apakah beliau ingin ikut menyapa.
'Boleh. Tetapi kamu beritahu Ayah dulu siapa yang mendengar.'
'Iya, Ma.'
Aku menelepon setelah mengirim pesan singkat bahwa kami sudah siap. Ayah menjawab tidak lama kemudian. Aku menyapanya, menanyakan kabar, lalu meminta izin menyalakan pengeras suara karena Riyan dan Mama ada bersamaku.
Ayah menyetujuinya.
Kami bertukar salam. Mama menanyakan keadaan Ayah, dan ia menjawab baik. Tidak ada laporan penyakit atau masalah yang membuat kunjungan harus berubah menjadi penyelamatan.
Aku menatap Riyan, kemudian mulai berbicara.
'Yah, kami mau membicarakan kunjungan berikutnya. Kalau tiga pekan lagi dari hari ini kami berangkat pagi, kira-kira cocok tidak?'
Ayah diam sebentar. Aku membiarkannya berpikir, meskipun ingin segera menambahkan bahwa kalau tidak cocok kami bisa mengubah.
'Rencananya berapa lama?' tanyanya.
'Dua malam,' jawab Riyan. 'Saya sudah memeriksa pekerjaan yang bisa ditata. Tetapi kami ingin memastikan waktu Ayah juga.'
'Dua malam berarti masih ada sehari penuh di sini.'
'Iya, Yah,' kataku. 'Bukan datang lalu besok pagi langsung kembali.'
Ayah mengatakan waktu itu cocok sejauh yang ia ketahui sekarang. Ia tetap meminta kami berkabar lebih dekat dengan hari keberangkatan, bukan menganggap tiga pekan tidak mungkin membawa perubahan apa pun.
Aku mengangguk meskipun ia tidak melihat.
'Iya. Kita pastikan lagi.'
Riyan menjelaskan bahwa perjalanan tetap sekitar enam jam dengan kesempatan beristirahat. Kami akan berangkat setelah sarapan dan tidak mengejar waktu sampai melelahkan.
Ayah tertawa kecil.
'Yang penting jangan Kayla menghitung setiap belokan karena ingin cepat sampai.'
Aku menatap Riyan yang mulai tersenyum.
'Kenapa semua orang tahu?'
'Karena kamu anak Ayah,' jawabnya.
Aku tertawa. Rasanya menyenangkan dikenali untuk kebiasaan kecil, bukan hanya kekurangan yang perlu diperbaiki.
Mama ikut menyapa lagi, mengatakan senang kami sudah membicarakannya sejak awal. Aku tidak menafsirkan nada suaranya sebagai rasa ditinggalkan. Bila ia mempunyai keinginan lain, kami bisa mendengarnya tanpa harus mengarang sendiri.
Kami menyepakati rencana itu sebagai waktu yang dituju bersama: tiga pekan lagi, dua malam, dan saling memastikan kembali menjelang berangkat. Jika ada perubahan, yang mengetahui lebih dulu akan memberi kabar.
Aku mengambil catatan di ponsel setelah meminta Riyan tetap memegang percakapan sebentar. Bukan untuk membuat janji itu menjadi kaku, melainkan agar aku tidak mengingatnya hanya sebagai nanti.
'Ayah tidak perlu menyiapkan makanan banyak-banyak,' kataku setelah kembali mendekat. 'Nanti kita bisa mengurusnya bersama.'
'Kamu sudah mau mengatur dapur Ayah lagi?'
Aku tertawa. 'Tidak. Piringnya tetap di tempat Ayah.'
Ayah ikut tertawa. Lalu ia mengatakan kami bisa membicarakan kebutuhan mendekati keberangkatan, bukan menyusun seluruh menu sekarang.
Aku setuju. Ada bagian dari rindu yang membuatku ingin langsung membayangkan setiap jam, tetapi rumah Ayah bukan tempat yang harus mengikuti rencanaku sampai hal paling kecil. Ia boleh tetap punya kegiatannya, dan kami bisa menyesuaikan tanpa merasa kunjungan menjadi sia-sia.
Riyan mengangguk kepadaku. Aku tersenyum, merasa dua malam itu mulai cukup karena tidak lagi kupaksa memuat seluruh hal yang belum sempat kulakukan.
Riyan menanyakan apakah ada kebutuhan yang ingin Ayah sampaikan sebelum kunjungan. Ayah mengatakan belum ada, dan jawaban itu diterima tanpa dibujuk menjadi daftar belanja.
Aku kembali mendekat ke ponsel.
'Berarti aku sudah boleh kangen dengan jadwal,' kataku.
Ayah tertawa, lalu suaranya melembut.
'Kangen tidak perlu menunggu jadwal, Kay. Kalau sebelum itu kamu ingin bicara, apa kamu akan menahannya sampai hari datang?'