Di bawah, aku menemukan Mama sedang menyiapkan bagian makan malam. Aku mendekat dan mengatakan pekerjaan mana yang masih bisa kukerjakan tanpa terburu-buru.
Mama menunjuk bagian yang belum disentuhnya. Aku mulai membantu, lalu menceritakan bahwa aku sudah bertanya kepada Ayah apakah besok malam bisa menelepon.
'Soal kunjungan lagi?' tanyanya.
Aku mengangguk. 'Belum menentukan waktu. Aku ingin tanya dulu.'
Mama tersenyum. 'Nanti bicarakan dengan Riyan.'
'Iya. Aku belum membeli tiket ke mana-mana.'
'Kalian memakai mobil.'
'Nah, berarti aku sudah hemat.'
Mama tertawa. Aku ikut tertawa, senang karena kerinduanku tidak harus selalu dimulai dengan suara gemetar.
Tidak lama kemudian, Riyan mengabari bahwa ia hendak pulang. Waktunya masih sesuai perkiraan yang disampaikan pagi tadi. Aku membaca pesan itu, membalas agar berhati-hati, lalu kembali mengerjakan bagianku.
Aku tidak menghentikan seluruh kegiatan untuk menunggu suara mobil. Ketika Riyan akhirnya datang, meja sudah hampir siap, tetapi kami belum mulai makan.
Ia menyapa Mama dan aku, lalu menaruh barang yang dibawanya.
'Sudah pulang,' katanya.
Aku tersenyum. 'Terlihat, Om.'
Ia tertawa pendek. Namun wajahnya tampak letih. Aku hampir bertanya apakah ada sesuatu yang membuatnya kesal, lalu mengingat bahwa lelah tidak selalu mempunyai pesan tersembunyi untukku.
Riyan menatapku.
'Om bersih-bersih dulu. Setelah itu duduk sebentar, boleh? Badan agak capek.'
'Boleh. Kami juga masih menyiapkan sedikit.'
Ia mengangguk dan naik. Aku kembali ke dapur. Mama memintaku membawa minuman, dan aku melakukannya tanpa merasa sedang ditinggal untuk kedua kalinya hanya karena suamiku perlu beristirahat.
Sesudah membersihkan diri, Riyan turun lagi. Ia duduk beberapa saat di dekat ruang makan, lalu berdiri ketika melihatku membawa beberapa benda sekaligus.
'Yang ini Om ambil.'
Ia mengambil bagian yang kusodorkan, tidak meraih semuanya dari tanganku. Kami menata meja bersama. Aku tidak perlu memanggilnya dari kamar atau menyebutkan bahwa tadi pagi ia telah berjanji membantu.
Saat duduk makan, Mama menceritakan bahwa siang tadi aku meminta bantuan untuk urutan di dapur.
Aku meliriknya. 'Ma, terdengar seperti laporan kejadian.'
'Mama sedang menjawab Riyan yang bertanya bagaimana harinya.'
Aku baru sadar suamiku memang menunggu ceritaku. Aku tersenyum malu, lalu menjelaskan bagian yang membuatku bingung dan bagaimana setelah itu pekerjaan terasa lebih mudah.
Riyan mendengarkan sambil makan.
'Jadi kertasnya berguna?'
'Berguna. Tapi ternyata kertas tidak tahu meja sedang penuh.'
'Berarti orangnya masih diperlukan.'
Aku tertawa. Mama menambahkan bahwa ia benar-benar sempat duduk cukup lama, dan aku tidak memanggilnya untuk semua hal.
Aku merasa senang, tetapi tidak mengubah percakapan menjadi permintaan agar mereka menyatakan hari ini berhasil. Aku tahu apa yang telah kulakukan, apa yang dibantu, dan apa yang sengaja kutunda.
'Yang paling sulit justru berhenti,' kataku kepada Riyan. 'Aku melihat pekerjaan lain, lalu ingin menambah terus.'
'Tadi sempat istirahat?'
'Sempat. Bahkan sempat tidur sebentar.'
Aku mengatakannya tanpa menurunkan suara. Riyan mengangguk, lalu mengambil makanannya lagi. Tidak ada lelucon tentang aku yang malas, tidak ada perhitungan apakah istirahat itu sudah layak didapatkan.
Mama menambahkan bahwa kami memang memilih tidak mengerjakan beberapa hal hari itu. Aku memperhatikan caranya memakai kata kami. Bantuan tidak membuat usahaku lenyap, dan usahaku juga tidak harus membuat bantuan Mama tidak terlihat.
Aku makan lagi, lebih menikmati rasanya daripada sibuk mencari tanggapan yang belum diberikan siapa pun.
Riyan bercerita singkat bahwa pekerjaannya berjalan sesuai perkiraan, meskipun ia merasa lebih lelah daripada yang dibayangkan. Tidak ada kisah besar. Hanya hari kerja yang membutuhkan perhatian.
'Terima kasih sudah bilang mau duduk dulu,' kataku.
Ia menoleh.
'Daripada diam dan aku menebak-nebak,' tambahku.
Riyan mengangguk. Aku tidak menjadikan kalimat itu sindiran tentang masa lalu. Aku sungguh senang mendapat informasi sederhana yang bisa kupahami.
Setelah makan, ia mengumpulkan piring dan membantu membersihkan meja. Mama hendak mengambil lap, tetapi Riyan mengatakan ia akan mengerjakan bagian itu. Mama menyerahkannya, lalu berjalan ke tempat duduknya.
Aku mencuci peralatan yang perlu dicuci, Riyan mengeringkan yang sudah bisa disimpan. Ketika ia salah menunjuk tempat, aku mengarahkannya tanpa mengambil alih.
Kami sempat saling menghalangi. Aku mundur, lalu tertawa karena teringat dapur Ayah.
'Jangan sampai perlu aturan belok kanan lagi.'
'Om diam di sini saja,' jawabnya.
'Jangan diam terus. Lapnya masih di tangan.'
Riyan tertawa. Ia melanjutkan pekerjaannya, dan aku menyadari betapa banyak perubahan kecil yang tidak membutuhkan kalimat panjang untuk terlihat.
Sesudah dapur rapi, aku mengambil kertas rencana. Ada bagian yang terlaksana, ada yang dibantu Mama, dan ada yang kutunda. Aku tidak memberi nilai di sudutnya.
Riyan melihatku melipat kertas.
'Mau disimpan?'
'Iya. Untuk mengingat bahwa rencana boleh diperbaiki, bukan dibuang setiap tidak persis.'
Aku meletakkannya di tempat kering, kemudian kami naik ke kamar.
Di sana aku menunjukkan balasan Ayah. Ia bersedia ditelepon besok malam setelah pekerjaannya dan makan, asalkan kami berkabar dulu.
'Aku ingin membicarakan kapan bisa datang lagi,' kataku. 'Tapi aku belum menjanjikan apa-apa.'
Riyan mengangguk dan mengambil ponselnya untuk melihat rencana kegiatan. Ia menjelaskan bahwa ada waktu yang mungkin bisa diatur beberapa pekan lagi, tetapi ingin memastikannya besok.
'Kalau tiga pekan lagi dari besok memungkinkan, kira-kira dua malam,' katanya. 'Namun Om periksa dulu sebelum kita membicarakannya sebagai rencana bersama Ayah.'
Aku mengangguk. Dua malam lebih singkat daripada kunjungan terakhir, tetapi bukan berarti tidak cukup berarti.
'Jangan hanya menyesuaikan kerjanya Om. Ayah juga mungkin punya kegiatan.'
'Iya. Makanya kita tanyakan.'
Aku duduk di tepi tempat tidur, merasa keinginan itu mulai mempunyai bentuk yang tidak perlu memaksa siapa pun.
Riyan menyimpan ponsel setelah mencatat hal yang perlu diperiksa. Aku mengambil pakaian tidur, kemudian berhenti sebentar.
'Om, hari ini aku senang bukan karena semua pekerjaanku beres.'
'Karena apa?'
'Karena aku tidak merasa sendirian ketika ada yang harus dikerjakan.'
Riyan menatapku. Ia tidak menjawab dengan mengatakan bahwa sekarang aku harus lebih percaya kepadanya. Ia hanya mengangguk, lalu berdiri untuk bersiap tidur.
Aku menoleh sekali lagi.
'Besok kalau waktunya sudah jelas, kita ajak Ayah memilih juga, ya. Aku ingin kunjungan itu menjadi sesuatu yang ditunggu, bukan sesuatu yang harus diterima karena aku sudah telanjur rindu.'