'Boleh,' jawab Mama. 'Kamu mau Mama ke sana atau kamu jelaskan dari situ?'
Aku menoleh ke dapur, lalu kembali memandangnya.
'Ke sini sebentar, Ma. Biar aku tidak menjelaskan pakai gerakan tangan seperti orang menggambar rumah.'
Mama tertawa dan berdiri. Ia berhenti di dekat tempatku menyiapkan bahan, tidak langsung memegang apa pun.
Aku menunjukkan urutan yang kubayangkan. Ada bagian yang ingin kukerjakan terlalu berdekatan sehingga wadah dan ruang yang kupakai akan saling menghalangi.
'Yang ini bisa menunggu sampai yang itu dibereskan,' kata Mama.
Aku mengamati meja. Ternyata benar. Aku tidak harus memulai semua hal hanya karena bahan sudah ada di depan mata.
'Jadi bukan aku kurang cepat.'
'Tidak semua perlu cepat.'
Aku mengangguk dan menggeser satu wadah ke tempat yang memang tidak mengganggu. Mama memastikan aku sudah paham, lalu bertanya apakah masih ada hal lain yang ingin kutanyakan.
'Untuk sekarang itu saja.'
'Kalau begitu Mama kembali duduk.'
Aku tersenyum. 'Iya. Terima kasih, Ma.'
Ia pergi tanpa menambahkan pekerjaan lain yang harus kulakukan. Aku kembali pada bahan di tanganku. Dapur terasa lebih lapang, bukan karena ruangan membesar, tetapi karena aku berhenti berusaha memakainya untuk terlalu banyak hal sekaligus.
Aku mengerjakan menu yang sudah kukenal. Tempe tidak menjadi tantangan baru setiap kali dipegang, dan bayam tidak perlu kuperlakukan seperti teka-teki. Yang perlu kujaga adalah urutan, perhatian, dan kesediaan berhenti sejenak ketika bingung.
Beberapa kali aku melihat kertas pengingat. Tidak ada rasa malu karena masih memerlukannya. Orang bisa sudah tahu sesuatu dan tetap ingin memeriksa agar tidak melewatkan bagian kecil.
Saat satu bagian sudah beres, aku memindahkan peralatan yang tidak lagi dipakai. Aku tidak menunggu meja penuh dulu baru mengeluh sempit.
Menjelang makan siang, hidangan sudah bisa dibawa ke meja. Aku mengambil piring untukku dan Mama, lalu sempat menarik satu lagi karena terbiasa menghitung bertiga.
Aku berhenti, kemudian mengembalikannya.
Riyan sedang bekerja. Ia tidak menjadi kurang penting hanya karena aku tidak menyiapkan kursi kosong untuk ditunggu.
Aku memanggil Mama. Ia datang, melihat meja, lalu duduk setelah aku duduk juga.
Baru setelah duduk, aku menyadari ada alat saji yang belum kubawa. Aku bangkit sambil mendecak kepada diri sendiri.
'Ada yang lupa,' kataku.
'Ambil saja.'
Sesederhana itu. Mama tidak ikut berdiri, tidak mengambil alih, dan tidak mengatakan seharusnya aku memeriksa dari tadi. Aku mengambil yang kurang, kembali, lalu meletakkannya.
'Kalau ini ujian, aku sudah kehilangan nilai.'
'Kalau ini makan siang, kamu masih bisa makan.'
Aku tertawa dan meraih piringku. Aku hampir menjadikan satu benda yang tertinggal sebagai bukti bahwa aku belum mampu mengatur apa pun. Padahal meja itu hanya memerlukan satu alat lagi, bukan penilaian baru tentang hidupku.
'Mama mau tambah apa?' tanyaku.
'Cukup ini.'
Aku mengangguk. Kami berdoa dan mulai makan. Aku sengaja mengambil suapan sendiri sebelum mengamati wajah Mama. Aku tidak ingin kembali menjadikan orang yang makan sebagai penentu apakah seluruh hariku berhasil.
Mama mencicipi sayur, kemudian mengatakan rasanya cukup.
Aku menunggu tanpa sadar.
Ia menatapku. 'Ada yang ditunggu?'
'Komentar lanjutan.'
'Mama sedang makan, Kayla.'
Aku tertawa malu dan kembali menyendok nasi. Rupanya aku masih suka membuat orang lain berbicara ketika mulutnya sedang sibuk.
Setelah beberapa suap, Mama mengatakan bahwa ia senang bisa duduk lebih lama pagi tadi. Bukan karena makanannya luar biasa, melainkan karena ia tidak merasa harus memeriksa semua hal dari awal.
'Aku masih memanggil Mama,' kataku.
'Dan kamu bertanya bagian yang kamu perlukan.'
Aku mengangguk. Bantuan tadi tidak membuat hari ini batal menjadi hari yang kuatur. Aku tetap memilih urutan, mengerjakan bagianku, dan meminta pertolongan sebelum semuanya menjadi kekesalan.
Kami makan sampai cukup. Aku tidak menghabiskan lebih banyak hanya karena takut menyisakan hidangan berarti gagal memperkirakan jumlah. Setelah itu, Mama membantu membawa piringnya, sementara aku membereskan bagian lain.
'Yang ini aku cuci,' kataku.
'Baik. Mama simpan yang perlu disimpan.'
Aku membiarkannya. Istirahat bukan hukuman yang melarangnya melakukan sesuatu kalau memang ingin. Kami hanya tidak kembali menyerahkan semua pekerjaan kepadanya.
Sesudah dapur rapi, aku menunaikan salat lalu beristirahat. Ponselku berada di meja kamar. Ada kabar Riyan bahwa ia sudah makan dan pekerjaan masih berjalan sesuai perkiraan.
Aku membalas bahwa aku dan Mama juga sudah makan. Tanganku sempat ingin menulis daftar seluruh kegiatan sejak pagi, lalu berhenti.
Aku ingin bercerita, tetapi tidak harus mengajukan laporan untuk mendapat nilai.
Akhirnya aku hanya menulis bahwa masakan siang sudah dicicipi Mama, dan aku berhasil meminta bantuan sebelum panik. Riyan membalas ketika sempat, mengatakan ia ingin mendengar ceritanya saat pulang.
Aku meletakkan ponsel dan berbaring sebentar. Ternyata capek yang diakui lebih mudah dihadapi daripada capek yang disembunyikan sambil menambah pekerjaan.
Setelah bangun dari istirahat singkat, aku memeriksa pakaian yang ingin kurapikan. Ada bagian kecil yang bisa dikerjakan, tetapi tidak semuanya harus dilakukan sore itu.
Aku mengambil yang diperlukan dan menyisihkan sisanya untuk waktu lain. Tidak ada suara kecewa dari luar kamar. Hanya aku yang sempat membayangkan orang akan menilai karena aku berhenti.
Mama muncul di pintu setelah mengetuk.
'Sedang apa?'
'Memutuskan tidak mengerjakan semuanya.'
Ia tersenyum. 'Keputusan yang bagus kalau memang sudah cukup.'
Aku tertawa, lalu menunjukkan bagian yang sudah dirapikan. Mama tidak menghitung sisanya. Ia hanya mengingatkan bahwa sebentar lagi kami bisa memikirkan makan malam bersama, tidak perlu menu besar lagi.
Aku mengangguk. Hari yang kuatur masih mempunyai ruang untuk orang lain, termasuk untuk kebutuhanku duduk.
Ketika Mama kembali ke bawah, ponselku berbunyi. Pesan dari Ayah, menanyakan bagaimana kegiatanku hari ini.
Aku menjawab sambil tersenyum. Kuceritakan bantuan Mama dan bagaimana aku hampir menata piring untuk Riyan yang sedang bekerja.
Ayah membalas bahwa rumah memang tidak perlu selalu penuh supaya orang di dalamnya bisa makan.
Aku menatap kalimat itu lama. Lalu sebuah keinginan muncul, lebih tenang daripada rasa panik yang dulu membuatku ingin membawanya ke kota.
Aku ingin membicarakan kunjungan berikutnya.
Kuketik pertanyaan tentang waktu menelepon besok malam, bukan janji datang yang belum kutanyakan kepada Riyan. Setelah mengirim, aku menyimpan ponsel dan turun. Kali ini aku membawa sebuah rencana untuk dibicarakan, bukan keputusan yang harus diterima semua orang.