Aku benar-benar tertidur setelah itu. Tidak ada perjalanan diam-diam ke dapur untuk memeriksa daftar, meskipun ketika pengingat berbunyi pagi harinya, pikiranku langsung melompat kepada kertas yang kutinggalkan di sana.
Aku membuka mata, lalu duduk.
Dari sofa, Riyan menoleh. 'Sudah bangun?'
'Sudah. Kepalaku malah sudah di dapur.'
'Badannya menyusul setelah salat.'
Aku tertawa kecil dan bangkit. Kami bergantian bersiap, menunaikan salat, lalu merapikan tempat masing-masing. Riyan mengurus barangnya sendiri sementara aku menata tempat tidur.
Aku sempat ingin mengingatkan gelas, tetapi gelas memang sudah dibawa turun semalam. Ternyata kebiasaan mencari pekerjaan orang lain juga perlu dihentikan pelan-pelan.
Ketika turun, Mama sudah menyiapkan nasi untuk sarapan seperti yang disepakati. Aku menyapanya, lalu mengambil kertas dari tempat kering.
'Masih ada,' kata Mama sambil tersenyum.
'Aku cuma memastikan tidak berjalan sendiri.'
'Kalau bisa berjalan, mungkin sekalian masak.'
Aku tertawa dan meletakkan kertas kembali setelah membaca. Pagi ini kami tidak akan memasak semua menu sekaligus. Tempe dan bayam untuk siang. Aku membantu bagian sarapan yang memang perlu, bukan menambahkan pekerjaan supaya terlihat sibuk.
Riyan datang membawa barang yang akan dipakainya setelah makan. Ia menaruhnya jauh dari meja makan, kemudian mengambil piring untuk kami bertiga.
Aku memperhatikannya mengambil jumlah yang tepat.
'Kenapa?' tanyanya.
'Tidak ada. Hari ini rasa gugupku tidak diberi piring.'
Ia tersenyum, mengingat gurauanku di rumah Ayah. Mama melirik kami, dan aku menjelaskan singkat bahwa dulu aku merasa perlu menyediakan kursi untuk rasa gugup.
'Kalau begitu, sekarang biarkan dia berdiri,' jawab Mama.
Aku tertawa sampai harus berhenti membawa minuman. Pagi yang kubayangkan seperti permulaan ujian ternyata dimulai dengan tiga orang saling menggoda tentang tamu yang tidak ada.
Kami duduk makan. Aku tidak membawa kertas ke meja. Saat ingin menanyakan apakah pekerjaan siang terlalu banyak, aku menahan diri sampai selesai mengunyah.
Riyan mengingatkan perkiraan kepulangannya.
'Om memperkirakan bisa sampai sebelum makan malam. Kalau berubah, Om kabari saat tahu.'
Aku mengangguk. 'Kami tetap makan kalau sudah waktunya.'
'Betul.'
Mama mengatakan ia ingin duduk setelah sarapan. Aku menjawab bahwa aku akan membereskan dapur, lalu segera menambahkan bahwa jika ada yang tidak kutahu, aku akan bertanya.
'Bukan berarti Mama harus menunggu di dekat pintu,' kataku.
'Mama tidak berencana berjaga.'
Riyan tertawa. Aku menyadari bahwa aku masih sering memberi penjelasan tambahan untuk hal yang sebenarnya sudah diterima.
Sesudah makan, Riyan membawa piring dan membantu membersihkan meja. Aku mencuci bagian yang sudah terkumpul, sementara Mama menyimpan yang memang ingin disimpannya sendiri. Setelah itu ia keluar dari dapur.
Aku menoleh tanpa sengaja.
Mama benar-benar duduk.
Tidak ada tangan yang segera kembali mengambil alih hanya karena aku sedikit lebih lambat. Aku merasa senang, lalu sedikit takut karena sekarang aku memang perlu melihat apa yang harus dilakukan.
Riyan mengeringkan tangan sebelum mengambil barang kerja.
'Kalau ada yang mau dibicarakan nanti, pesan saja. Tidak harus menunggu Om pulang.'
'Kalau aku cuma salah menaruh lap, tidak usah kulaporkan, kan?'
'Om tidak akan tahu lap mana yang dimaksud.'
Aku tertawa dan mengantarnya ke pintu. Ia berpamitan kepada Mama, lalu kepadaku. Setelah mobil pergi, aku kembali masuk tanpa memeriksa jam berulang kali.
Pekerjaan pertama adalah merapikan bagian dapur yang baru kami pakai. Aku melakukannya satu per satu. Ketika melihat bagian lain yang ingin kubersihkan sekaligus, aku teringat coretan di kertas semalam.
Tidak semuanya perlu hari ini.
Aku mengambil sapu untuk bagian yang sudah direncanakan. Mama masih duduk ketika aku lewat. Ia bertanya apakah perlu bergeser, dan aku menjawab belum, karena aku akan mulai dari sisi lain.
Kami tidak saling berebut melakukan sesuatu. Rasanya aneh, tetapi menyenangkan.
Ketika sampai di dekat kursi Mama, aku berhenti dan meminta beliau bergeser sebentar. Mama berdiri membawa minumannya, lalu duduk di tempat lain.
'Tidak perlu semua kursinya diangkat,' katanya ketika melihatku menimbang-nimbang.
Aku tertawa. 'Kelihatan sekali aku mulai ingin menambah pekerjaan?'
'Sedikit.'
Aku memilih membersihkan bagian yang memang bisa dijangkau, lalu mengembalikan barang kecil ke tempatnya. Ada bagian yang membutuhkan waktu lain, dan aku mencatatnya dalam kepala tanpa langsung memulai.
Mama kembali duduk setelah aku bergeser. Ia tidak memeriksa lantai dengan ujung kaki atau bertanya apakah masih ada debu. Aku juga tidak meminta beliau mengumumkan hasilnya. Aku hanya memastikan jalannya tidak terhalang sebelum membawa sapu pergi.
Untuk sekali ini, pekerjaan kecil tetap menjadi pekerjaan kecil. Tidak berubah menjadi alasan membuktikan bahwa aku pantas disayang.
Setelah bagian itu cukup, aku menyimpan sapu dan mengambil air minum. Tanganku sudah sedikit lelah. Aku duduk di dekat Mama, bukan berdiri sambil pura-pura memeriksa sesuatu.
'Sudah?' tanyanya.
'Bagian pertama. Kalau semua selesai sekarang, nanti siang aku bingung.'
Mama tersenyum. 'Kamu boleh tidak sibuk setiap menit.'
Aku mengangguk, lalu minum. Di kepala, aku masih menghitung apa yang belum dilakukan. Namun tubuhku boleh duduk walaupun pikiranku belum sepenuhnya setuju.
Setelah cukup beristirahat, aku kembali ke dapur untuk memeriksa bahan makan siang. Aku mengambil yang diperlukan, memastikan tempat kerjanya tidak penuh, dan menyiapkan wadah yang akan dipakai.
Kertas pengingat kubaca sebentar. Tidak ada kalimat ajaib di sana. Hanya urutan sederhana yang bisa kubantu jalankan dengan tidak terburu-buru.
Mama datang mengambil minum. Aku hampir bertanya apakah ia ingin berdiri di sampingku, tetapi menahan ucapan itu. Aku belum membutuhkan bantuan. Aku hanya belum terbiasa tidak diperhatikan.
'Aku ambil air saja,' katanya, seolah melihat kebingunganku.
'Iya, Ma.'
Ia mengambil minum dan kembali duduk. Aku mengikat rambut lebih rapi, mencuci tangan, lalu mulai menyiapkan bahan.
Gerakan yang sudah kukenal membuatku lebih tenang. Aku tidak lagi merasa seluruh dapur asing seperti dulu. Namun ketika melihat peralatan yang harus dipakai bergantian, aku sadar urutan di kertas belum memperhitungkan satu hal: tidak semua tempat kosong pada saat yang sama.
Aku berhenti sebelum menumpuk lebih banyak benda.
'Ma,' panggilku dari pintu dapur, tidak berteriak. 'Boleh aku tanya sebentar soal urutan? Aku belum perlu Mama mengerjakannya, cuma ingin memastikan supaya tidak repot sendiri.'