'Kalau ada yang meleset, kita membicarakan pekerjaan yang meleset,' jawab Riyan. 'Bukan memutuskan kamu pantas atau tidak menjadi istri.'
Aku menatapnya, lalu menurunkan kertas sedikit.
'Om terdengar yakin.'
'Soal itu, iya.'
Ia meminta duduk sebentar sebelum melihat catatanku. Kami berada di dekat ruang makan, belum mulai makan malam. Aku meletakkan kertas di meja dan menunjuk bagian yang sudah kucoret.
'Ini tadi mau kutambahkan, lalu kurasa kebanyakan.'
Riyan membaca tanpa mengambil alat tulis.
'Kamu ingin Om memeriksa waktunya atau hanya mendengar?'
Aku memikirkan jawabannya.
'Waktunya. Kalau kelihatan terlalu penuh, bilang. Tapi jangan langsung dibuatkan versi Om.'
Ia mengangguk. Kami melihat urutannya bersama. Ada pekerjaan yang bisa dilakukan setelah sarapan, ada yang tidak harus menunggu pekerjaan lain tuntas, dan ada bagian yang memang bisa ditunda.
Riyan menunjuk waktu makan siang.
'Tempe dan bayam ini untuk siang?'
'Iya. Supaya pagi tidak semua sekaligus.'
'Baik. Kalau Om masih bekerja, kamu dan Mama makan saja.'
Aku mengangguk. Kami membicarakan bagian yang bisa dikerjakannya sebelum berangkat: mengurus barang sendiri, membantu meja sarapan, dan tidak meninggalkan gelas di kamar. Sore hari ia ingin ikut membereskan setelah makan jika sudah pulang.
'Aku tidak ingin rencananya berhasil hanya kalau Om pulang lebih cepat dari yang mungkin,' kataku.
'Om memperkirakan bisa pulang sebelum makan malam. Kalau berubah, Om kabari. Bukan membuatmu menunggu tanpa tahu.'
Aku mencatat bagian yang perlu kuingat, lalu berhenti. Riyan menatapku.
'Apa lagi?'
'Aku hampir menulis tugas Om semua.'
'Kamu boleh mencatat pembagiannya. Tapi Om juga harus mengingat bagian Om.'
Ia mengambil ponselnya untuk membuat pengingat singkat. Aku melihatnya, lalu tersenyum. Aku tidak harus menjadi satu-satunya tempat seluruh rencana disimpan.
Mama mendekat dan melihat kertas di meja. Aku menjelaskan bagian yang kami bicarakan, lalu menanyakan apakah sesuai dengan keinginannya untuk beristirahat besok.
'Sesudah sarapan Mama ingin duduk dulu,' katanya. 'Untuk nasi pagi, Mama bisa menyiapkannya seperti biasa.'
Aku mengangguk. 'Nanti siang kalau aku perlu bertanya, aku boleh panggil?'
'Boleh. Jangan berteriak seperti rumahnya jauh sekali.'
Aku tertawa. 'Iya, Ma.'
Riyan melipat kertas setelah aku selesai mencatat, lalu menyerahkannya kembali. Kami menyimpan rencana itu dan makan malam. Aku sengaja tidak membacanya sambil menyuap.
Pembicaraan beralih ke hal lain. Mama menanyakan kabar Ayah, dan aku menceritakan pesan singkat siang tadi. Tidak ada yang meminta Ayah pindah agar aku lebih mudah tenang. Kami sudah mempunyai cara untuk tetap dekat meskipun tidak tinggal bersama.
Sesudah makan, Riyan membawa piringnya dan membantu membereskan. Aku mengambil kertas ke dapur, membukanya kembali, lalu menaruhnya di tempat kering bersama pengingat memasakku.
Mama menyentuh tepi kertas.
'Kalau besok ada yang perlu diubah, ubah saja.'
'Aku akan mencoba tidak marah pada kertasnya.'
Mama tertawa. Aku ikut tersenyum, kemudian mengucapkan selamat istirahat ketika ia hendak meninggalkan dapur.
Riyan mengeringkan tangan dan berdiri di dekatku.
'Sudah?'
Aku melihat meja yang bersih, lalu mengangguk. Kami kembali ke kamar tanpa membawa daftar itu. Ada bagian dari hari esok yang boleh tetap berada di dapur, tidak harus ikut naik ke tempat tidur.
Di kamar, aku duduk sebentar sambil membuka ikatan rambut. Riyan merapikan barang yang akan dipakai bekerja. Aku memperhatikan gerakannya tanpa menghitung berapa banyak hal yang sekarang ia lakukan sendiri.
'Om,' panggilku.
Ia menoleh.
'Aku mau memastikan sesuatu tentang pembicaraan anak.'
Riyan menghentikan pekerjaannya dan duduk setelah menaruh barang dengan rapi.
'Minggu depan kita bicara lagi, bukan aku harus punya jawaban yang berbeda, kan?'
'Benar.'
'Nanti waktunya kita pilih bersama. Jangan tiba-tiba di tengah sarapan, ya.'
'Iya. Kita cari saat sama-sama senggang.'
Aku mengangguk. Aku tidak keberatan pembicaraan itu mempunyai tempat dalam rencana kami. Yang tidak kuinginkan adalah merasa setiap pagi datang membawa pertanyaan apakah aku sudah berubah pikiran. Riyan membiarkanku menata kata-kata tanpa menyelesaikan kalimat untukku.
'Aku masih belum siap.'
'Om dengar.'
Aku mengangguk. Aku tidak perlu mengucapkan kalimat itu dengan permintaan maaf. Namun ada satu pertanyaan lain yang terasa mengganjal.
'Kalau Om menunggu, jangan dihitung sebagai sesuatu yang nanti harus kubayar.'
Wajah Riyan berubah serius.
'Om tidak ingin kedekatan kita menjadi pembayaran.'
'Termasuk kalau Om sudah membantu rumah, sudah terbuka, sudah tidak menghubungi Tante Tia.'
'Itu tanggung jawab Om. Bukan tabungan untuk menagihmu.'
Aku menarik napas panjang. Aku ingin mempercayainya, tetapi lebih dari itu aku senang pertanyaan tersebut sudah keluar dari kepalaku.
Riyan menatapku beberapa saat.
'Om juga boleh punya perasaan tentang menunggu. Tapi kalau Om membicarakannya, bukan berarti kamu harus mengubah keputusan untuk menghilangkan perasaan itu.'
Aku mengangguk pelan. Jawaban itu lebih masuk akal daripada janji bahwa ia tidak pernah menginginkan apa pun yang berbeda dariku.
'Jadi aku tidak harus menjaga Om selalu puas.'
'Tidak.'
Aku tertawa kecil. 'Berat sekali pekerjaan yang selama ini kubayangkan.'
Riyan tersenyum, lalu bertanya apakah aku ingin berhenti membicarakannya malam ini. Aku mengangguk. Tidak karena takut, tetapi karena sudah cukup banyak hal yang ingin kusimpan dalam kepala tanpa ditambah lagi.
Kami bergantian bersiap tidur. Setelah kembali, aku mengambil ponsel untuk memeriksa pengingat pagi. Aku memilih waktu yang masuk akal, bukan bangun terlalu awal hanya supaya terlihat bersungguh-sungguh.
Riyan duduk di sofa sambil melihatku.
'Besok kamu mau dibangunkan kalau belum dengar pengingat?'
'Boleh. Tapi panggil, jangan mengagetkan.'
Ia mengangguk.
Aku mendekat dan mengulurkan tangan sebentar. Riyan menyambutnya. Aku berdiri di depannya, merasakan telapaknya yang hangat, kemudian melepaskan pegangan setelah cukup.
'Selamat istirahat, Om.'
'Selamat istirahat, Kay.'
Aku naik ke tempat tidur. Tidak ada malam istimewa yang harus kupersembahkan setelah percakapan panjang. Kami bisa beristirahat, masing-masing di tempat yang sudah nyaman, tanpa mengubah jarak itu menjadi hukuman.
Sebelum lampu diredupkan, aku teringat kertas di dapur dan hampir bangkit untuk memeriksanya lagi. Lalu aku menahan diri.
Riyan melihat gerakanku.
'Ada yang tertinggal?'
Aku menggeleng dan kembali berbaring.
'Tidak. Aku cuma sedang belajar membiarkan besok datang tanpa mengurusnya malam ini.'
Ia tersenyum. Aku memejamkan mata, dengan pekerjaan sederhana menunggu pagi dan keputusan menunggu anak yang masih tetap menjadi keputusan kami.