'Iya. Om jelaskan sendiri,' jawab Riyan.
Aku mengangguk, lalu kami turun bersama. Mama menoleh dari dapur dan menyapa. Aku mengambil piring untuk meja, sedangkan Riyan membawa minuman. Tidak ada yang langsung mengumumkan perubahan seolah rumah ini baru saja mempunyai pengurus baru.
Kami makan dahulu. Setelah beberapa suap, aku mengatakan bahwa aku dan Riyan ingin membicarakan pembagian pekerjaan yang lebih jelas.
Mama memandang kami bergantian.
'Ada yang membuatmu terlalu capek, Kayla?'
'Bukan karena Mama memberi terlalu banyak pekerjaan,' jawabku. 'Aku cuma tidak ingin semuanya terjadi karena Mama sudah lebih dulu melihat apa yang perlu dikerjakan.'
Riyan menaruh sendoknya.
'Aku juga ingin mengurus bagianku tanpa terus menunggu diingatkan. Barang dan pakaian sendiri, gelas yang kubawa, lalu membantu beres meja saat aku ada di rumah.'
Mama mengangguk. 'Itu memang bisa kamu kerjakan.'
Aku tersenyum. Tidak ada pujian bahwa putranya luar biasa hanya karena bersedia membawa gelas kembali.
'Aku ingin mencoba mengatur kegiatan rumah besok,' kataku. 'Yang sederhana saja. Tapi bukan berarti Mama dilarang ke dapur.'
Mama tertawa kecil.
'Mama belum mengatakan ingin masuk dapur.'
'Aku tahu. Aku mencegah diriku sendiri jadi terlalu mengatur.'
Riyan ikut tersenyum. Aku melanjutkan bahwa aku ingin menyiapkan menu yang sudah kukenal, mengurus pekerjaan biasa sesuai kemampuan, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Bukan mengadakan hari pembuktian bahwa aku sudah berubah sepenuhnya.
Mama menanyakan apa yang ingin kusiapkan. Aku menyebut tempe dan bayam sebagai bagian makan, lalu mengakui nasi dan waktunya perlu dibicarakan agar tidak semua hal menumpuk bersamaan.
'Kita lihat bahan setelah sarapan,' katanya.
Aku mengangguk. 'Mama juga boleh bilang bagian mana yang ingin tetap dikerjakan.'
'Kalau besok Mama ingin duduk lebih lama setelah sarapan, boleh?'
Aku tersenyum lebar. 'Boleh sekali.'
Riyan melirikku. 'Jangan jawab seperti memberi izin.'
Aku terdiam sebentar, lalu tertawa karena ucapannya tepat.
'Maksudku, aku senang kalau Mama mau beristirahat.'
Mama tersenyum. 'Mama mengerti.'
Setelah makan, Riyan membawa piringnya dan membantu merapikan meja sebelum bersiap berangkat. Ia tidak menjanjikan akan pulang lebih cepat besok sebelum tahu keadaannya.
'Nanti aku periksa waktunya,' katanya kepada kami. 'Kalau bisa membantu bagian sore, aku bilang. Jangan menunggu makan hanya karena aku belum sampai.'
Aku mengangguk. Rencana bersama tidak berarti semua orang harus berhenti bergerak ketika satu orang masih bekerja.
Sesudah Riyan berangkat, aku dan Mama memeriksa bahan yang ada. Aku mengambil kertas pengingat memasak dari tempat kering, membacanya, lalu tertawa kecil melihat catatan yang dulu terasa sangat penting.
'Mau ditambah?' tanya Mama.
'Mungkin bagian jangan mengerjakan semuanya sekaligus.'
'Bagus.'
Aku tidak menulis janji akan menjadi istri yang lebih baik. Aku mencatat apa yang perlu diperiksa dan kapan sebaiknya memulai. Kertas itu cukup menjadi pengingat pekerjaan, bukan ukuran nilai diriku.
Mama menunjukkan bahan yang bisa dipakai dan yang perlu dipastikan kembali. Kami tidak merencanakan menu besar. Aku memilih yang memang pernah kubuat, lalu menanyakan bagian yang masih membuatku ragu.
Saat Mama hendak menyiapkan beberapa bahan untuk besok sekaligus, aku berhenti menulis.
'Ma, yang ini perlu sekarang?'
'Bisa disiapkan nanti. Mama cuma sudah terlanjur melihatnya.'
Aku mengangguk. 'Kalau Mama mengerjakan semua bagian susah sekarang, besok aku cuma merasa seolah sudah mengatur.'
Mama meletakkan barang yang dipegangnya.
'Kamu ingin Mama tidak membantu sama sekali?'
'Bukan begitu.'
Aku menurunkan kertas, khawatir jawabanku terdengar menolak kebaikannya.
'Aku ingin bisa bertanya ketika butuh, bukan merasa semuanya sudah disiapkan supaya aku tidak mungkin salah.'
Mama memandangku sebentar. Aku menunggu, tidak buru-buru meminta maaf atas keinginan yang belum tentu salah.
'Mama terbiasa menyiapkan kalau sudah tahu besok akan dipakai,' katanya.
'Kebiasaan Mama tidak salah. Aku cuma ingin belajar melihat sendiri apa yang perlu.'
Mama menurunkan pandangan ke bahan di depan kami. Aku baru sadar bahwa permintaanku mungkin juga memintanya mengubah bagian kecil dari harinya, bukan sekadar memberiku kesempatan.
'Kalau Mama tetap ingin mengerjakan sesuatu, bilang saja,' tambahku. 'Aku tidak mau mengambil semua lalu menyuruh Mama diam.'
Ia tersenyum tipis. 'Mama juga tidak ingin berdiri di belakangmu sepanjang waktu.'
Aku tertawa, lega karena ternyata kami sama-sama tidak menginginkan dapur yang terasa seperti tempat ujian.
Akhirnya ia mengangguk.
'Baik. Tapi kalau kamu butuh, jangan menunggu sampai kesal.'
'Iya. Aku tidak mau mengulang soal piring Ayah.'
Mama tertawa. Kami mengembalikan bahan ke tempat yang sesuai. Setelah itu aku menyimpan kertas kembali di tempat kering, bukan membawanya berkeliling seperti jadwal acara besar.
Menjelang siang, kami menyiapkan makan hari itu bersama. Aku melakukan bagianku tanpa menyebutnya latihan. Mama tetap ikut, dan aku tidak menghitung seberapa banyak bantuan yang kuterima.
Sesudah makan dan salat, kami beristirahat. Aku duduk sebentar dengan ponsel, membaca kabar singkat Ayah. Ia bertanya apakah aku sudah kembali pada kegiatan di rumah.
Aku menjawab bahwa besok ingin mencoba mengatur beberapa pekerjaan dengan bantuan yang sudah dibicarakan.
Balasannya sederhana: jangan lupa makan saat sibuk.
Aku tersenyum. Tidak ada pertanyaan apakah Riyan puas dengan kemampuanku. Aku menyimpan ponsel tanpa mengubah percakapan menjadi laporan panjang.
Sore hari, setelah mengurus pakaian dan merapikan kamar, aku melihat kertas kecil yang tadi kubuat ulang dalam pikiranku. Semakin kupikirkan, semakin banyak pekerjaan tambahan yang ingin kumasukkan. Lantai, pakaian, makanan, semua terasa mungkin sampai aku mencoba menghitung waktunya.
Aku turun dan mengambil kertas itu lagi.
Mama melihatku menambahkan satu hal, lalu mencoret hal lain.
'Sudah bertambah banyak?' tanyanya.
Aku mengangguk malu.
'Padahal tadi aku bilang sederhana.'
'Kamu boleh mengurangi.'
Aku menatap daftar, lalu mencoret pekerjaan yang tidak perlu dilakukan besok. Rasanya aneh: mengurangi justru membuat rencananya lebih masuk akal, tetapi ada bagian diriku yang merasa sedang kalah sebelum mulai.
Ketika Riyan pulang, aku masih memikirkan itu. Aku menunggunya membersihkan diri, lalu menemuinya sebelum makan malam.
'Om, boleh lihat rencanaku sebentar nanti?'
'Boleh. Ada yang membingungkan?'
Aku memegang kertas itu dengan kedua tangan.
'Aku takut tanpa sadar menjadikan besok ujian lagi. Kalau ada yang tidak berjalan sesuai rencana, aku tidak mau langsung merasa belum pantas punya rumah tangga.'