'Bisa,' jawab Riyan. 'Dan Om seharusnya mulai dari yang sekarang, bukan baru berjanji untuk nanti.'
Aku memperhatikan wajahnya. Aku tidak sedang meminta jaminan bahwa ia akan menjadi ayah sempurna, bahkan sebelum kami memilih waktunya. Aku ingin tahu apakah hidup bersama selalu berarti aku yang melihat semua pekerjaan, lalu membagikannya seperti tugas.
Riyan menoleh ke lemari tempat pakaian tadi disimpan.
'Untuk pakaian Om, mulai sekarang Om periksa sendiri yang perlu dilipat dan disimpan. Tidak menunggu kamu menaruh tumpukan sebagai pengingat.'
'Aku tadi bukan sengaja menguji.'
'Om tahu. Kamu sudah bilang.'
Aku mengangguk. Ia menyebutkan beberapa hal yang memang bisa ia urus: barang pribadi setelah dipakai, gelas yang dibawa ke kamar, dan bagian membereskan setelah makan ketika ia ada di rumah. Tidak ada janji akan melakukan seluruh pekerjaan rumah setelah pulang kerja.
'Aku juga tidak ingin semua jadi daftar panjang yang akhirnya disimpan lalu dilupakan,' kataku.
'Kita pilih sedikit yang jelas dahulu.'
'Dan Mama perlu diajak bicara kalau menyangkut cara rumah ini diatur.'
'Iya. Ini rumah Mama juga.'
Jawaban itu membuatku tenang. Aku tidak ingin belajar punya suara dengan cara mengambil suara orang lain.
Aku menarik napas, lalu kembali ke hal yang lebih sulit.
'Kalau soal anak, aku belum siap. Bukan hanya karena belum mahir mengurus rumah.'
Riyan mengangguk.
'Aku ingin lebih kenal kita. Aku mau bisa mengatakan capek atau marah tanpa langsung takut ditinggalkan. Aku juga ingin tahu keinginanku sendiri, bukan cuma mengisi jawaban yang menurutku Om suka.'
'Om tidak ingin punya anak supaya masalah di antara kita cepat hilang.'
Aku menatapnya. 'Atau supaya aku lebih terikat?'
'Tidak.'
Ia menjawab tanpa tertawa. Aku bersyukur karena pertanyaan itu terasa memalukan, tetapi benar-benar pernah terlintas di kepalaku.
'Aku tidak mau nanti anak jadi alasan kenapa aku harus diam,' kataku.
'Om mengerti.'
Aku menggeleng sedikit. 'Om bisa mendengar sekarang. Mengertinya mungkin perlu terus dibuktikan.'
Riyan terdiam, kemudian mengangguk.
'Iya. Kamu benar.'
Kami duduk beberapa saat. Aku tidak merasa menang karena ia mengakui sesuatu. Justru aku lega percakapan ini tidak berubah menjadi adu siapa yang lebih masuk akal.
'Aku belum bisa memberi tanggal kapan siap,' kataku.
'Om tidak meminta tanggal.'
'Tapi kita boleh membicarakannya lagi?'
'Boleh. Bukan untuk mengecek apakah jawabanmu sudah berubah.'
Aku memandang tanganku sendiri. 'Mungkin minggu depan kita duduk lagi. Kalau aku masih belum siap, aku ingin bisa bilang begitu tanpa merasa mengecewakan janji.'
Riyan mengangguk.
'Minggu depan untuk bicara, bukan tenggat punya keputusan baru.'
Aku mengulang kalimat itu pelan, memastikan tidak ada bagian yang terdengar lain di kepalaku.
Lalu aku tertawa kecil.
'Seperti janji rapat, ya.'
'Bedanya tidak harus membawa laporan.'
'Bagus. Aku tidak mau dinilai dari kemajuan kesiapan.'
Riyan tersenyum. Kami belum menentukan jam tepat karena jadwalnya perlu dilihat lagi, tetapi sepakat akan mencari waktu yang tenang minggu depan. Jika sebelum itu aku ingin bicara, aku boleh memulainya. Ia juga boleh menyampaikan keinginannya tanpa mengubahnya menjadi tuntutan.
Aku bangkit untuk membawa gelas ke dapur. Riyan ikut berdiri mengambil gelasnya sendiri.
'Yang ini Om bawa,' katanya.
Aku tidak menghalangi. Kami turun bersama. Mama sudah beristirahat, jadi kami bergerak tanpa membuat banyak suara. Di dapur, Riyan mencuci gelas yang dibawanya sementara aku membilas punyaku.
Aku melihat tangannya bergerak. Pekerjaan kecil itu belum membuktikan apa pun tentang puluhan tahun ke depan, tetapi setidaknya ia tidak membiarkan kalimatnya tadi menunggu besok.
Ketika hendak menyimpan gelas, Riyan bertanya letaknya agar tidak mengganggu susunan Mama. Aku menunjukkannya, lalu menunggu sampai ia mengeringkan tangan.
'Terima kasih sudah ikut turun,' kataku.
'Gelas Om memang dibawa ke sini.'
Aku tersenyum. Aku boleh berterima kasih tanpa menganggap pekerjaan itu bantuan luar biasa yang nanti perlu kubayar dengan sesuatu yang tidak kuinginkan.
Ketika kembali ke kamar, aku merasa lebih ringan sekaligus lelah. Kami bergantian bersiap tidur. Riyan merapikan sofa, dan aku duduk di tepi tempat tidur sambil menyisir rambut dengan jari.
'Om,' panggilku.
Ia menoleh.
'Ada satu hal lagi. Tapi pendek.'
Ia tersenyum tipis. 'Om dengarkan.'
'Kalau aku belum mau punya anak, itu tidak selalu berarti aku tidak ingin dekat sama Om.'
Wajahnya menjadi serius. Ia duduk kembali, tidak langsung mendekat.
'Aku cuma belum tahu seberapa dekat yang membuatku nyaman,' lanjutku. 'Kadang aku mau pegang tangan. Kadang cuma duduk.'
'Itu bisa kamu katakan.'
'Dan tidak otomatis berarti setelahnya harus yang lain.'
'Iya.'
Aku mengangguk. Jantungku berdebar karena aku sedang berbicara tentang keinginanku, bukan karena ia menuntut jawaban. Perbedaannya terasa jelas, meskipun keduanya sama-sama membuat pipiku hangat.
'Aku mau pegang tangan sebentar sekarang.'
Riyan mendekat setelah aku menggeser tempat, lalu mengulurkan telapak tangan. Aku meletakkan jemariku di sana. Kami duduk tanpa menyusun apa yang seharusnya terjadi setelah itu.
Aku memperhatikan garis di punggung tangannya, kemudian tertawa pelan.
'Apa?' tanyanya.
'Ternyata aku bisa meminta hal sederhana dengan pembukaan panjang sekali.'
'Kalau perlu panjang, tidak apa-apa.'
'Jangan nanti Om menyiapkan kursi rapat setiap aku mau mendekat.'
Ia tertawa. Aku ikut tertawa, lalu menyandarkan kepala sebentar ke bahunya. Ia tetap diam sampai aku sendiri kembali tegak.
Setelah beberapa saat aku melepaskan tangannya.
'Sudah. Aku mengantuk.'
Riyan mengangguk dan kembali ke sofa. Tidak ada wajah merajuk atau candaan tentang aku yang berhenti terlalu cepat. Aku berbaring, merasakan sesuatu yang kecil tetapi penting: aku bisa memilih dekat tanpa kehilangan hak untuk berhenti.
Pagi berikutnya kami bangun dan menunaikan salat. Saat bersiap, Riyan mengumpulkan barang pribadinya tanpa menunggu aku menunjuk. Aku tidak bertepuk tangan seperti ia baru melakukan hal luar biasa, tetapi aku memperhatikannya.
Sebelum turun untuk sarapan, ia bertanya apakah aku tidur cukup.
'Cukup. Om?'
'Cukup.'
Aku tersenyum, lalu berjalan bersamanya ke pintu. Di bawah, suara Mama terdengar dari dapur. Hari baru sudah menunggu dengan pekerjaan biasa, bukan ujian tentang siapa yang paling sabar menunda keinginannya.
Aku menoleh kepada Riyan.
'Nanti di meja makan, aku mau membicarakan pembagian pekerjaan dengan Mama. Om ikut menjelaskan bagianmu sendiri, ya. Jangan aku yang mengumumkan semuanya.'