Pertanyaan itu ikut bersamaku ketika aku menutup pintu dan kembali ke dapur. Mama sedang mengumpulkan piring sarapan. Aku mengambil sebagian, lalu berdiri di tempat cuci.
'Yang ini Mama keringkan,' katanya.
Aku mengangguk. Kami bekerja bersebelahan tanpa harus membicarakan sesuatu yang berat. Namun ketika melihat tumpukan kecil itu berkurang karena dikerjakan berdua, pikiranku kembali kepada percakapan semalam.
Jika urusan piring saja terasa berbeda ketika dibagi, bagaimana dengan hidup yang jauh lebih rumit?
Aku tidak langsung menanyakannya kepada Mama. Keinginanku punya anak atau belum siap adalah percakapan yang ingin kususun dahulu bersama Riyan, bukan kubawa ke meja keluarga untuk mencari suara pendukung.
Sesudah dapur rapi, aku naik untuk mengurus pakaian. Ada beberapa yang perlu dilipat dan sebagian yang harus ditempatkan sesuai pemiliknya. Aku mengumpulkan semuanya terlalu cepat sampai tumpukan di tanganku miring.
Tidak ada yang jatuh, tetapi aku harus berhenti dan menurunkannya ke tempat tidur.
'Dua tangan saja, Kayla,' gumamku.
Aku tertawa sendiri, kemudian membagi tumpukan itu. Sebagian milik Riyan kusisihkan agar ia mengurusnya nanti. Lalu aku merasa bersalah, seolah meninggalkan beberapa baju sama dengan menolak menjadi istri.
Aku menatap tumpukan itu cukup lama sebelum melanjutkan pekerjaanku sendiri.
Saat turun lagi, Mama sedang merapikan bagian rumah yang ingin dibersihkannya. Aku menawarkan bantuan, lalu hampir mengambil dua pekerjaan sekaligus. Mama menunjuk salah satunya.
'Yang ini dulu saja.'
'Aku bisa yang sana juga nanti.'
'Nanti dilihat. Bukan harus diputuskan sekarang.'
Aku mengangguk. Kami mulai bekerja. Beberapa kali aku ingin mempercepat gerakan karena merasa belum melakukan cukup banyak. Tetapi ketika tanganku mulai lelah, aku berhenti mengambil minum.
Mama duduk tidak jauh dariku.
'Capek?'
'Sedikit.'
'Istirahat.'
Aku memandang gelasku, lalu tertawa pelan.
'Jawabannya gampang sekali, Ma.'
'Yang susah melakukannya?'
Aku mengangguk.
Mama tidak mendesakku menjelaskan, tetapi aku ingin mengatakan bagian yang bisa kubagikan.
'Kadang aku takut kalau aku meminta bantuan, orang mengira aku belum bisa.'
'Mama tadi meminta kamu membantu. Kamu mengira Mama tidak bisa?'
Aku menggeleng.
'Berarti tidak selalu begitu.'
Aku menatapnya, kemudian tersenyum kecil. Jawaban itu tidak membuat seluruh ketakutanku hilang, tetapi aku bisa melihat betapa tidak adilnya aturan yang kubuat untuk diriku sendiri.
'Aku ingin nanti punya rumah tangga yang benar-benar dikerjakan bersama,' kataku.
Mama mengangguk.
'Bicarakan pembagiannya. Jangan tunggu sampai kamu kesal karena orang lain tidak menebak.'
'Aku juga tidak mau harus terus memberi perintah.'
'Kalau begitu, bagian itu juga dibicarakan.'
Aku menghela napas. Ada banyak sekali percakapan dalam pernikahan. Dulu aku mengira yang paling sulit hanya belajar membuat kopi dan tidak merusak pakaian saat menyetrika.
Ternyata kemampuan menjelaskan bahwa aku lelah bisa jauh lebih rumit.
Siang harinya kami makan, kemudian beristirahat. Aku mengirim pesan kepada Riyan bahwa aku sudah makan dan masih ingin berbicara setelah ia pulang. Aku tidak menjelaskan seluruh isi kepala lewat kalimat panjang saat ia sedang bekerja.
Balasannya datang beberapa waktu kemudian. Ia menyetujui dan menanyakan apakah ada yang perlu dibawa pulang. Aku memeriksa kebutuhan yang memang ada sebelum menjawab tidak, bukan mencari sesuatu agar merasa diperhatikan.
Sore itu aku kembali ke kamar dan melihat pakaian Riyan yang kusisihkan. Aku hampir melipatnya juga karena takut terlihat sengaja meninggalkan pekerjaan sebagai ujian.
Lalu aku sadar: jika aku tidak pernah mengatakan maksudku, tentu ia tidak akan tahu.
Kukirim pesan singkat bahwa sebagian pakaian bersihnya kutaruh terpisah dan meminta ia melipatnya nanti ketika sudah sempat. Tidak ada sindiran atau kalimat silakan kalau masih peduli.
Setelah mengirim, aku turun untuk membantu menyiapkan makan malam.
Riyan pulang setelah memberi kabar. Ia menyapa Mama dan aku, lalu naik untuk membersihkan diri. Aku menahan dorongan mengikutinya hanya untuk melihat apakah tumpukan pakaian itu diperhatikan.
Ketika ia turun, aku sedang membawa minuman ke meja.
'Bajunya nanti Om lipat setelah makan,' katanya.
Aku mengangguk. 'Iya. Tidak harus sekarang.'
Ia menerima gelas, lalu kami duduk makan bersama Mama. Percakapan beralih pada kegiatan hari itu. Aku mengakui sempat ingin mengerjakan terlalu banyak sekaligus, dan Mama mengatakan aku akhirnya mau duduk juga.
'Aku tidak terus berdiri seperti tiang, Ma.'
'Syukurlah. Tiang tidak perlu makan.'
Riyan tertawa. Aku ikut tersenyum, senang karena kelelahan bisa dibicarakan tanpa menjadikanku perempuan yang tidak layak mengurus rumah.
Sesudah makan dan beres meja, Riyan mengajakku naik. Aku melihatnya mengambil pakaian yang kusisihkan, lalu mulai melipat. Lipatannya tidak persis seperti punyaku. Aku hampir membetulkan, tetapi menahan tangan.
Ia menoleh.
'Ada yang salah?'
'Tidak. Aku cuma hampir ikut campur.'
'Kalau tempat menyimpannya salah, bilang.'
Aku menunjukkan bagian yang tepat. Setelah itu aku duduk dan membiarkannya mengerjakan sampai selesai. Tidak ada pertunjukan besar. Ia hanya melipat pakaian yang memang miliknya.
Satu pakaian masih tertinggal di sisi tempat tidur. Aku menunjuknya, dan Riyan mengambil sebelum menutup lemari.
'Yang itu juga.'
'Hampir tertinggal.'
Aku hampir berdiri untuk membantu memasukkannya, lalu duduk kembali. Riyan melihat gerakanku dan tersenyum.
'Om masih bisa menjangkau.'
'Aku tahu. Tanganku kadang lebih cepat daripada pikiranku.'
'Kalau kamu yang meminta dibantu, bagaimana?'
'Aku mau dibantu. Bukan direbut semuanya.'
Ia mengangguk. Aku menyadari betapa seringnya aku melakukan hal yang sama kepada orang lain karena ingin pekerjaan cepat beres. Mungkin berbagi bukan hanya meminta seseorang mau bergerak. Aku juga perlu memberi ruang agar ia benar-benar mengerjakan bagiannya, dengan cara yang tidak selalu persis caraku. Itu terasa lebih sulit daripada membetulkan satu lipatan.
Ketika sudah disimpan, Riyan duduk di dekatku.
'Tadi kamu ingin membicarakan yang ditakutkan.'
Aku mengangguk.
'Aku takut kalau suatu hari punya anak, aku harus tahu semuanya sendiri. Om membantu kalau diminta, tapi aku yang harus terus ingat apa yang belum dikerjakan.'
Riyan menyimak tanpa memotong.
'Seperti tadi soal baju?' tanyanya.
'Sedikit. Tapi lebih besar dari baju.'
Aku menatap tangannya yang baru saja melipat pakaian.
'Aku senang Om mau melakukan setelah aku minta. Tapi aku juga ingin ada bagian hidup kita yang Om urus tanpa menunggu aku kelelahan dulu. Bisa, kan, Om?'