'Bisa,' jawab Riyan. 'Om ingin tahu apa yang kamu inginkan, bukan hanya kapan kamu bisa mengikuti keinginan Om.'
Aku menurunkan gelas ke meja. Tangan yang bebas justru membuatku tidak tahu harus memegang apa, jadi aku merapikan ujung bajuku yang sebenarnya tidak berantakan.
'Kalau jawabanku belum tahu?'
'Itu juga jawaban.'
Aku menatapnya. 'Jangan terlalu gampang bilang begitu. Nanti setelah aku benar-benar bilang belum tahu, Om kecewa.'
Riyan diam sebentar. Aku senang ia tidak langsung mengatakan dirinya tidak mungkin kecewa. Orang bisa memiliki perasaan meskipun sedang mencoba berbuat baik.
'Om mungkin berharap sesuatu,' katanya akhirnya. 'Tapi berharap tidak membuat Om berhak menentukan jawabanmu.'
Aku mengangguk pelan. Kami masih mengenakan pakaian yang dipakai keluar tadi. Beberapa jam lalu kami tertawa karena permainan, dan sekarang dadaku terasa penuh oleh sesuatu yang belum pernah kubicarakan sampai jelas.
'Aku suka merasa Om pasti lebih tahu karena lebih tua,' kataku. 'Jadi kalau keinginanku berbeda, aku takut itu cuma karena aku belum mengerti.'
Riyan memandangku tanpa tersenyum mengejek.
'Om lebih tua, tapi Om bukan kamu.'
'Berarti Om tidak boleh memakai pengalaman untuk menjawab perasaanku.'
'Om bisa menceritakan pandangan Om. Jawabanmu tetap milikmu.'
Aku mengangguk, kali ini lebih yakin. Aku tidak ingin umur kami dijadikan alasan agar satu orang terus memberi penjelasan, sementara yang lain hanya menunggu giliran menjadi cukup dewasa untuk didengar.
'Aku sedang memikirkan anak,' kataku.
Riyan tidak menyela.
'Bukan karena aku merasa harus hamil sekarang. Justru karena aku takut kalau bicara soal masa depan, semuanya langsung dianggap menuju ke situ.'
Ia menarik napas sebelum menjawab.
'Om ingin punya anak suatu hari.'
Aku mendengar kalimat itu dan merasakan tubuhku menegang. Riyan melihatnya, tetapi tidak cepat-cepat menarik kembali keinginannya agar aku tenang.
'Om bilang ingin, Kay. Bukan sedang meminta kamu membuat keputusan malam ini.'
'Aku tahu. Aku hanya baru mendengarnya langsung.'
Ia mengangguk. Aku memandangi gelas di meja. Pernah ada pertanyaan tentang membuat bayi yang membuatku bingung dan takut. Malam ini pertanyaannya datang dariku, tetapi itu tidak berarti aku mendadak tahu semua jawabannya.
'Aku belum siap punya anak,' kataku.
Kalimat itu terdengar lebih tegas daripada yang kubayangkan. Aku segera ingin menambahkan alasan agar tidak terlihat egois. Baru belajar mengurus diri, masih suka rindu Ayah, masih takut salah, masih banyak hal dengan Riyan yang belum terasa kukenal.
Sebelum semua alasan itu bertumpuk, ia menjawab.
'Om dengar.'
Aku mengangkat wajah.
'Cuma itu?'
'Om bisa bertanya apa yang membuatmu belum siap, kalau kamu mau cerita. Tapi Om tidak akan membuatmu mengajukan alasan sampai dianggap cukup.'
Aku mengembuskan napas, lalu tertawa kecil tanpa benar-benar merasa lucu.
'Aku sudah menyiapkan banyak alasan.'
'Kalau ingin cerita, Om tetap mendengarkan.'
Aku duduk lebih nyaman. Kali ini aku tidak perlu berbicara seperti orang yang sedang meminta keringanan hukuman.
'Aku bahkan masih belajar bilang kalau aku tidak suka sesuatu. Aku takut nanti ada bayi, lalu aku harus langsung bisa jadi orang yang selalu tahu.'
'Tidak ada orang yang langsung tahu semua.'
'Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau ketidaktahuanku dianggap lucu terus.'
Riyan menatapku dengan lebih serius.
'Baik. Om tidak akan menjadikan ini lelucon.'
Aku mengangguk. Keinginan punya anak ternyata berbeda dengan sanggup membayangkan hari-hari setelahnya. Aku bisa merasa senang melihat sesuatu yang kecil dan menggemaskan, tetapi membesarkan seorang anak bukan sekadar rasa senang sesaat.
'Aku juga ingin kita punya waktu sebagai pasangan,' kataku. 'Aku belum mau semua pertanyaan tentang kita langsung berubah jadi pertanyaan tentang orang ketiga yang bahkan belum ada.'
Riyan mengusap telapak tangannya, lalu meletakkannya di lutut.
'Om setuju kita tidak perlu terburu-buru punya anak.'
Aku menatapnya, mencoba tidak mencari tanda bahwa ia hanya sedang mengalah.
'Kalau nanti Om berubah pikiran tentang waktunya?'
'Om bicara. Bukan menyindir atau menunggu kamu menebak.'
'Dan kalau aku tetap belum siap?'
'Kita tidak memaksa keputusan itu hanya karena salah satu ingin lebih cepat.'
Aku menunduk sebentar. Ada perbedaan antara mendengar kata sabar dan mendengar bahwa jawabanku memang ikut menentukan.
Kami diam cukup lama. Aku mulai merasa mengantuk setelah perjalanan keluar dan percakapan panjang. Riyan memperhatikanku menguap, lalu bertanya apakah aku ingin berhenti dulu.
'Iya. Tapi jangan besok dianggap percakapannya sudah lengkap.'
'Belum lengkap,' jawabnya.
Aku tersenyum. 'Om seperti mengulang pesanan makan.'
'Supaya tidak salah.'
Kami bergantian mengganti pakaian. Aku membawa gelas ke dapur, membilasnya, lalu kembali. Riyan menyiapkan sofa. Tidak ada gerakan baru yang menuntutku membuktikan bahwa berbicara tentang anak berarti sudah siap mendekat dengan cara tertentu.
Sebelum tidur, aku memanggilnya.
'Om masih senang kita keluar tadi?'
'Iya. Sangat.'
'Walaupun pulangnya aku bilang belum siap punya anak?'
Riyan menatapku dari dekat sofa.
'Itu tidak membatalkan malam yang menyenangkan.'
Aku mengangguk, membiarkan jawaban itu ikut tinggal dalam gelap ketika lampu diredupkan.
Pagi berikutnya aku bangun setelah pengingat berbunyi. Kami menunaikan salat, lalu bersiap. Aku sempat memperhatikan Riyan lebih lama ketika ia mengambil pakaian kerja, seolah menunggu perubahan sikap setelah mendengar jawabanku semalam.
Ia menoleh.
'Ada apa?'
'Aku sedang memastikan Om tidak berubah jadi dingin.'
Riyan berhenti memasukkan barang ke tas.
'Om masih mengantuk, Kay.'
Aku menutup wajah sebentar, malu.
'Maaf.'
'Tidak apa-apa bertanya. Tapi wajah mengantuk Om memang kurang meyakinkan.'
Aku tertawa. Ia melanjutkan bersiap, dan aku turun untuk membantu sarapan. Mama menanyakan apakah kami menikmati makan malam kemarin. Aku menjawab iya, bercerita sedikit tentang permainan yang membuatku merasa menang meskipun hitungannya diperdebatkan.
Riyan turun dan membenarkan bahwa perhitunganku memang istimewa. Kami tertawa, lalu makan bersama.
Sesudah sarapan, ia bersiap berangkat. Di dekat pintu aku menyentuh lengannya.
'Nanti kalau ada waktu, aku masih ingin bicara. Tentang yang aku takutkan, bukan hanya kapan.'
'Setelah Om pulang?'
Aku mengangguk.
Ia berpamitan, dan aku berdiri sebentar setelah mobil pergi. Rumah tidak berubah hanya karena semalam aku mengatakan belum siap. Namun ada satu pertanyaan yang belum bisa kuabaikan: kalau suatu hari aku siap, apakah aku akan menjalani semuanya bersama suami, atau tetap merasa harus bisa sendirian?