Kami berjalan ke arah yang kutunjuk. Riyan tidak mempercepat langkah seolah takut aku berubah pikiran. Setelah memilih tempat duduk, aku meletakkan tas di dekatku dan melihat sekeliling.
Ada suara percakapan, aroma makanan, dan orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa aku sedang mencoba duduk di tempat ini tanpa menjadikannya ruang pemeriksaan suamiku.
Riyan duduk di hadapanku.
'Nyaman di sini?'
Aku mengangguk. 'Aku bisa melihat Om. Itu dulu.'
Ia tersenyum sedikit, lalu kami memilih makanan. Aku sempat terlalu lama membandingkan pilihan sampai Riyan bertanya apakah aku ingin saran.
'Boleh. Saran saja.'
'Bukan keputusan?'
'Iya.'
Ia menunjuk salah satu pilihan dan menyebutkan alasannya. Aku memikirkannya, kemudian memilih yang lain. Riyan tidak terlihat tersinggung.
Aku menatapnya.
'Kenapa?' tanyanya.
'Tidak apa-apa. Ternyata diberi saran tidak berarti harus menurut.'
'Om juga tidak harus selalu benar soal makan malammu.'
Aku tertawa. Kami memesan, lalu menunggu sambil berbincang. Riyan menyimpan ponselnya setelah memastikan tidak ada urusan yang sedang ia tangani. Ia tidak menyerahkannya kepadaku seperti menyerahkan barang bukti.
Aku juga menyimpan ponselku.
Untuk beberapa saat kami hanya melihat kegiatan di sekitar. Aku merasakan ingatan lama muncul, tetapi tidak langsung menanyakan apakah Riyan sedang memikirkan Tiara. Aku tidak tahu pikirannya, dan tidak setiap detik harus kuisi dengan pertanyaan tentang perempuan itu.
'Aku sedang ingat dulu,' kataku akhirnya.
Riyan menatapku.
'Waktu Om pergi bicara dan aku makan sendiri.'
'Iya.'
'Aku tidak perlu Om meminta maaf panjang sekarang. Aku cuma ingin bilang kenapa tadi diam.'
'Terima kasih sudah memberitahu.'
Aku mengangguk. Ia tidak menyuruhku melihat betapa berbedanya malam ini. Ia tetap duduk, mendengarkan, lalu bertanya apakah aku ingin melanjutkan cerita atau membicarakan hal lain.
'Hal lain dulu.'
Kami membicarakan kunjungan ke rumah Ayah. Bukan hanya percakapan beratnya, tetapi juga bagaimana Riyan dan Ayah pernah saling menghalangi di dapur karena bergerak ke arah yang sama.
'Aku hampir harus mengatur lalu lintas,' kataku.
'Padahal dapurnya tidak ke mana-mana.'
'Orangnya yang terlalu sopan, jadi sama-sama mengalah.'
Riyan tertawa. Aku menyadari bahwa aku bisa menceritakan kejadian lucu tanpa melakukannya sebagai tugas agar ia senang. Aku memang menganggapnya lucu.
Ketika makanan datang, kami mulai makan. Aku mencicipi pilihanku, lalu melihat pilihan Riyan dengan rasa ingin tahu.
'Mau mencoba?' tanyanya.
Aku mengangguk. Kami berbagi secukupnya tanpa membuatnya menjadi adegan besar. Setelah mencoba, aku mengakui bahwa sarannya tadi mungkin lebih sesuai dengan seleraku.
'Om boleh bilang sudah kubilang?'
'Tidak. Hak itu tidak termasuk.'
Ia tertawa. Aku mengambil suapan berikutnya dan mendapati diriku benar-benar menikmati rasa makanan, bukan hanya mengamati arah pandangnya.
Di tengah makan, aku teringat pesan Tiara. Kalimatnya tidak lagi terdengar seperti ancaman yang harus kutafsirkan. Ia sudah menyebutkan batas, dan Riyan sudah menjawab tanpa mengubah keputusan.
'Aku tidak ingin menghubungi Tante Tia,' kataku.
Riyan meletakkan sendoknya.
'Untuk apa?'
'Memastikan sendiri. Mengucapkan sesuatu. Aku sempat berpikir mungkin perlu supaya semuanya benar-benar tertutup.'
'Kamu tidak punya kewajiban itu.'
'Aku tahu sekarang. Jawabannya sudah ada. Aku tidak perlu meminta dia membuatku merasa aman.'
Riyan mengangguk. 'Dan Om tidak perlu menghubungi lagi untuk meminta dia memastikan sudah baik-baik saja.'
Aku menatapnya sebentar, lalu kembali makan. Tidak ada yang perlu dikirim malam ini. Tidak ada pertemuan berikutnya yang harus diatur supaya perpisahan lama terasa lebih sopan.
Sesudah makan, kami berjalan keluar dari tempat makan. Aku tidak meminta segera pulang. Ketika melewati area permainan yang sudah kami kenal, aku berhenti.
'Mau lihat sebentar?' tanyaku.
Riyan mengangguk. 'Lihat saja atau bermain?'
Aku menyipitkan mata. 'Tergantung keberanian Om.'
Ia tertawa, lalu mengikuti pilihanku. Kami mencoba permainan sederhana yang bisa dimainkan bergantian. Aku terlalu cepat merasa unggul, lalu gagal mempertahankan hasilku sendiri.
Riyan tidak perlu mengatakan apa-apa. Senyumnya sudah cukup menyebalkan.
'Jangan sombong,' kataku.
'Om belum bicara.'
'Wajah Om berisik.'
Ia tertawa sampai harus menunggu sebelum mengambil gilirannya. Aku mengamati caranya bermain, mencari kesalahan kecil yang bisa kubalas. Ketika akhirnya ia juga gagal, aku mengangkat kedua tangan seolah memenangkan seluruh malam.
'Seimbang.'
'Menurut perhitungan siapa?'
'Pemilik perasaan.'
Kami berhenti setelah cukup, bukan karena salah satu harus membawa kemenangan pulang. Aku berjalan di samping Riyan dengan pipi hangat karena terlalu banyak tertawa.
Beberapa langkah kemudian, aku meraih lengannya sebentar. Ia menoleh.
'Capek?' tanyanya.
'Sedikit.'
'Kita pulang?'
Aku mengangguk. Ia tidak menawarkan belanja sebagai hadiah karena aku berhasil melewati malam. Kami menuju mobil setelah memastikan tas dan barang kami lengkap.
Dalam perjalanan, aku mengabari Mama bahwa kami sedang pulang. Riyan tetap memperhatikan jalan. Aku membaca balasan singkatnya, kemudian menyimpan ponsel.
'Aku senang tadi,' kataku.
'Om juga.'
'Tapi jangan besok ditagih harus sudah percaya sepenuhnya.'
'Tidak akan Om tagih.'
Aku menatap jalan di depan. Percaya mungkin bukan satu keputusan yang selesai setelah makan malam. Namun aku juga tidak ingin selamanya menolak mengakui hal baik hanya karena takut nanti terluka.
'Malam ini Om hadir,' kataku. 'Bukan cuma duduk di kursi.'
Riyan tidak menjawab dengan janji besar. Ia mengucapkan terima kasih karena aku mau pergi bersamanya, lalu kami melanjutkan perjalanan dalam diam yang tidak terasa kosong.
Di rumah, kami menyapa Mama sebelum ia beristirahat. Aku bercerita singkat bahwa kami makan dan sempat bermain. Mama tersenyum, tidak meminta laporan tentang apakah aku sudah tidak cemburu.
Kami naik ke kamar. Aku menaruh tas kecil, mengeluarkan barang yang perlu disimpan, lalu duduk untuk melepas lelah. Riyan menaruh barangnya dan bertanya apakah aku ingin air.
'Mau. Nanti aku yang bawa gelasnya kembali.'
Ia mengambil air, dan aku menerimanya. Sesudah minum, aku menatapnya dengan pertanyaan yang berbeda dari pagi kemarin.
'Om, selama ini kita banyak membicarakan yang sudah terjadi.'
Riyan duduk tidak jauh dariku.
'Iya.'
'Aku ingin mulai bicara tentang yang akan datang. Bukan malam ini semuanya, dan bukan berarti aku sudah siap untuk semua hal.'
Wajahnya menjadi lebih serius, tetapi ia tidak memotong.
Aku memegang gelas dengan kedua tangan.
'Kalau ada keinginan kita yang waktunya belum sama, kita bisa membicarakannya tanpa salah satu merasa sedang ditagih, kan?'