'Baik. Kita pilih bersama,' jawab Riyan.
Aku menggeser duduk agar bisa melihat wajahnya. Rasanya sedikit lucu karena baru saja membicarakan sesuatu yang berat, lalu sekarang kami harus memilih tempat makan seperti pasangan biasa.
'Aku ingin ke mal yang itu,' kataku. 'Tapi tidak harus meja yang dulu.'
'Tempat makannya juga boleh berbeda.'
Aku berpikir sebentar. Ada bagian yang ingin kembali tepat ke tempat yang pernah membuatku sedih, seolah kalau aku berhasil duduk tanpa menangis berarti aku sudah lebih kuat. Namun aku tidak ingin mengubah makan malam menjadi perlombaan melawan ingatan.
'Kita lihat setelah sampai,' jawabku. 'Aku boleh berubah pikiran?'
'Boleh. Om juga tidak punya pesanan meja tertentu.'
Aku tertawa. 'Bagus. Jangan sampai ternyata kursinya langganan.'
Riyan tersenyum, lalu menanyakan kapan aku ingin pergi. Aku menyebut besok setelah ia pulang, jika pekerjaannya memungkinkan. Ia mengatakan akan memastikan jadwalnya pada siang hari.
'Aku tidak mau Om memaksakan pulang cepat lalu sepanjang makan mengurus yang tertinggal,' kataku.
'Kalau belum memungkinkan, Om bilang. Kita bisa memilih hari lain.'
Aku mengangguk. Janji yang masih punya syarat jelas terasa lebih aman daripada kalimat pasti yang kemudian dipaksakan menjadi benar.
Kami membicarakan hal sederhana: makan di luar, tidak perlu membeli sesuatu untuk menandai hari itu, lalu pulang ketika sudah cukup. Aku tidak ingin hadiah menjadi pengganti perhatian, meskipun aku juga tidak menolak kemungkinan melihat-lihat hal yang menarik.
'Jadi jangan membawa wajah seperti mau diperiksa,' kataku.
Riyan mengangkat alis. 'Siapa yang harus diingatkan?'
Aku menunjuk kami berdua.
Ia tertawa. Setelah itu aku mengantarkan gelas ke dapur, kembali, lalu bersiap tidur. Riyan menempati sofa seperti biasa. Sebelum memejamkan mata, aku sempat memikirkan nama Tiara lagi, tetapi tidak mengambil ponsel untuk mencari kepastian tambahan.
Pagi berikutnya kami bangun dan menunaikan salat. Saat sarapan, Riyan menyampaikan kepada Mama bahwa mungkin kami akan makan di luar malam nanti. Waktunya akan dipastikan setelah pekerjaan siang.
Mama mengangguk.
'Kalau jadi, kabari supaya Mama tidak menyiapkan terlalu banyak.'
'Iya, Ma,' jawabku.
Tidak ada godaan tentang bulan madu atau pertanyaan kapan kami akan memberi kabar kehamilan. Aku bisa makan dengan tenang tanpa menyiapkan jawaban untuk masa depan yang belum kami bahas.
Riyan berangkat setelah menyampaikan perkiraan harinya. Aku mengantarnya ke pintu. Kali ini aku tidak mencari kalimat tambahan agar ia tinggal beberapa menit lagi.
Selesai membereskan sarapan bersama Mama, aku mengurus pekerjaan yang telah kurencanakan. Aku ingin tetap mempunyai hari meskipun sedang menunggu makan malam bersama suami.
Menjelang siang, ponselku berbunyi. Riyan mengatakan bahwa rencana sore memungkinkan, dan ia akan memberi kabar saat hendak pulang. Aku membalas setuju, lalu memberitahu Mama.
'Berarti nanti Mama makan duluan saja kalau kami belum pulang,' kataku.
'Baik.'
Aku hampir menanyakan apakah Mama tidak apa-apa sendiri, lalu mengingat beliau sudah memilih tinggal di rumah selama kami ke desa. Makan malam beberapa jam tanpa kami bukan sesuatu yang perlu kubayangkan sebagai musibah.
Setelah makan siang dan beristirahat, aku memilih pakaian. Bukan karena ingin menjadi seseorang yang terlihat lebih dewasa daripada usiaku. Aku hanya ingin nyaman dan tidak sibuk membetulkan baju sepanjang malam.
Aku mengambil pakaian yang sudah kumiliki, melihatnya sebentar, lalu memutuskan memakainya. Rambutku kuatur sendiri tanpa membuka foto siapa pun. Ketika hasilnya agak berbeda dari yang kubayangkan, aku tidak memulai dari awal berkali-kali.
Cukup rapi. Cukup aku.
Ketika turun, Mama menatapku sebentar dan tersenyum.
'Sudah mau berangkat?'
'Belum. Om belum pulang.'
'Kalau begitu duduk dulu. Nanti kamu capek sebelum pergi.'
Aku baru sadar sejak tadi berdiri sambil memperbaiki ujung bajuku. Aku duduk, lalu tertawa sendiri.
'Aku kelihatan gugup, ya, Ma?'
'Sedikit.'
'Aku cuma mau makan.'
'Ya, nanti makan. Tidak harus menyiapkan seluruh percakapannya sekarang.'
Aku mengangkat wajah. Mama menyibukkan tangan dengan barang di dekatnya, membiarkanku memilih apakah ingin menjawab. Akhirnya aku mengaku belum tahu ingin membicarakan apa. Mama mengatakan bahwa mendengar juga boleh. Aku bersandar, mencoba tidak mengubah saran sederhana itu menjadi daftar baru yang harus kujalankan dengan sempurna.
Sore harinya Riyan mengabari hendak pulang. Aku membaca pesan itu sekali, lalu menyimpan ponsel. Aku tidak bertanya lagi apakah benar sudah berangkat hanya karena ingin mendengar kepastian dua kali.
Ketika ia tiba, aku masih duduk bersama Mama. Ia menyapa kami, melihat pakaianku, lalu tersenyum.
'Sudah siap?'
'Hampir. Om mandi dulu.'
'Om memang mau mandi.'
'Aku cuma membantu urutan.'
Mama tertawa. Riyan naik untuk membersihkan diri, sementara aku mengambil tas kecil. Dompet tetap di dalamnya, begitu pula foto Alana. Aku tidak membukanya. Malam ini aku hendak pergi bersama suamiku, memakai pakaian pilihanku sendiri, bukan mencari petunjuk bagaimana seharusnya aku terlihat.
Aku menarik napas dan memeriksa isi tas dengan lebih tenang.
Saat Riyan turun, aku sudah siap di dekat pintu. Kami berpamitan kepada Mama, memastikan tidak ada pekerjaan rumah yang menggantung karena kami pergi begitu saja.
Di mobil, Riyan bertanya apakah aku ingin mendengarkan sesuatu atau mengobrol. Aku memilih mengobrol sebentar, lalu diam ketika pikiranku mulai sibuk.
Ia tidak menganggap diamku sebagai pembatalan rencana.
Mendekati mal, aku mulai merasakan perutku mengencang. Aku memandang jalan masuk, mengingat langkah yang dulu kulalui dengan perasaan berbeda.
Riyan memarkir mobil dan mematikan mesin.
'Kita boleh duduk sebentar sebelum turun,' katanya.
Aku mengangguk, tetapi kemudian tertawa kecil.
'Jangan sampai makan malamnya di parkiran.'
'Kalau kamu ingin pulang, kita pulang. Tapi kalau cuma gugup, tidak perlu buru-buru melawannya.'
Aku melihat tanganku sendiri. Aku memang ingin masuk. Bukan untuk membuktikan bahwa aku tidak bisa disakiti, melainkan karena aku masih ingin mengalami sesuatu yang baik bersama orang yang sama.
'Ayo,' kataku.
Kami turun dan berjalan masuk. Suara mal terasa akrab. Aku tidak mencari Tiara di setiap wajah, meskipun mataku sempat bergerak ke arah tempat makan yang dulu.
Riyan berjalan di sampingku.
'Kamu mau yang mana?' tanyanya.
Aku memperhatikan pilihan yang sudah kami kenal, lalu menunjuk arah tempat makan. Bukan meja yang sama. Bukan kursi yang harus kutaklukkan.
'Yang sana. Tapi nanti kalau aku diam sebentar, jangan langsung membujukku supaya senyum.'
Riyan mengangguk.
Aku menyambut tangannya sebelum kami berjalan lagi.