Mama menunjuk bagian meja yang belum dilap. Aku mengerjakannya, lalu mengembalikan lap ke tempat semula. Pekerjaan itu tidak membuatku langsung tenang, tetapi setidaknya selesai tanpa perlu membaca pikiran siapa pun.
Setelah dapur rapi, aku naik untuk membereskan kamar. Ponselku kutaruh di meja. Setiap kali melihatnya, aku ingin mengecek apakah Riyan sudah membaca pesan. Akhirnya aku memindahkannya sedikit lebih jauh, bukan menyembunyikannya, hanya agar tanganku tidak terus bergerak sendiri.
Ketika balasan datang, aku sedang melipat pakaian.
'Boleh. Nanti setelah pulang kita bicara. Om sudah sampai dan akan mulai bekerja.'
Aku membacanya, lalu menjawab singkat. Tidak kutanyakan apakah Tiara membalas. Jika ada sesuatu yang berkaitan dengan batas kami, Riyan harus memberitahuku tanpa aku memancingnya setiap jam.
Kalimat itu mudah dipikirkan. Melakukannya ternyata membuat jari-jariku gelisah.
Aku melanjutkan melipat. Satu pakaian kulipat dua kali karena pikiranku tidak berada di sana. Ketika menyadarinya, aku tertawa sendiri, lalu meletakkannya dengan benar.
Siang harinya aku makan bersama Mama. Aku tidak membawa ponsel ke meja. Mama bercerita tentang pekerjaan rumah yang ingin dilakukannya sore nanti, dan aku menawarkan bagian yang bisa kubantu.
Percakapan biasa itu terasa seperti latihan kembali mendengar dunia yang lebih luas daripada satu nama di layar.
Sore menjelang, Riyan mengirim kabar bahwa ia masih perlu merapikan pekerjaan sebelum pulang. Aku membaca waktu perkiraannya, lalu menjawab agar berhati-hati.
Sesaat kemudian, keinginan bertanya di mana tepatnya ia berada muncul lagi. Aku menatap kotak pesan yang kosong.
Aku belum memiliki alasan baru untuk curiga. Yang ada alasan lama, yang bisa terasa baru setiap kali aku takut.
Aku mengunci layar dan melanjutkan kegiatan. Jika nanti perasaan itu masih ada, aku akan mengatakannya saat kami berbicara. Aku tidak ingin menyamarkannya sebagai pertanyaan tentang makan siang atau jalanan.
Ketika Riyan pulang, aku sedang bersama Mama. Ia menyapa kami, lalu membersihkan diri sebelum makan. Aku memperhatikan apakah ia tampak berbeda, kemudian kesal karena lagi-lagi merasa sedang mencari petunjuk.
Saat duduk makan, ia bertanya tentang hariku.
'Aku melipat satu baju dua kali,' jawabku.
'Kenapa?'
'Bajunya ingin lebih diperhatikan.'
Mama tertawa. Riyan tersenyum, tetapi ia tidak menjadikan gurauanku alasan mengira semua sudah ringan.
Setelah makan dan membereskan meja, kami naik. Aku mengambil air minum, lalu duduk di kursi. Riyan meletakkan barangnya dan duduk menghadapku.
'Om sudah membaca pesanmu,' katanya.
'Aku tahu. Om sudah membalas.'
Ia mengangguk. Aku menarik napas, mencoba tidak memulai dengan kalimat yang terdengar seperti dakwaan.
'Aku tidak ingin setiap kali Om terlambat membalas, pikiranku langsung ke Tante Tia.'
Riyan mendengarkan.
'Tapi aku juga tidak bisa memerintah diriku supaya berhenti. Tadi waktu Om bilang masih merapikan kerja, aku hampir bertanya di mana, sama siapa, kenapa belum pulang.'
'Kamu boleh bertanya kalau membutuhkan penjelasan.'
'Aku tahu. Tapi kalau jawabannya tidak pernah cukup, aku akan terus bertanya.'
Riyan menunduk sebentar, lalu kembali menatapku.
'Om tidak ingin kamu menjadi orang yang harus memastikan Om tidak mengulangi kesalahan.'
Aku mengusap pinggir gelas.
'Kalau aku minta melihat ponsel setiap malam, Om akan kasih?'
Ia tidak menjawab secepat yang kuharapkan.
'Kalau ada hal tertentu yang membuatmu bingung, Om mau menjelaskan dan menunjukkan konteksnya. Tapi kalau setiap malam seluruh ponsel diperiksa, apa itu akan membuatmu bisa istirahat?'
Aku ingin menjawab iya. Rasanya mudah sekali membayangkan ketenangan datang setelah aku tahu semua yang ia baca dan kirim.
Namun setelah itu mungkin aku akan memikirkan pesan yang sudah dihapus. Lalu waktu ketika aku tidak berada di dekatnya. Kecurigaanku bisa menemukan tempat baru bahkan setelah tempat lama kosong.
'Aku tidak tahu,' jawabku akhirnya.
Riyan mengangguk.
'Om tidak sedang meminta hak untuk menyembunyikan yang menyangkut hubungan kita. Pesan Tiara pagi tadi memang perlu Om sampaikan. Tetapi Om juga ingin kita bisa bicara tanpa menjadikan kamu penjaga ponsel.'
Aku menatap wajahnya lebih lama. Ada bagian dalam diriku yang takut ia hanya sedang memilih kata-kata yang rapi agar bebas dari pertanyaan. Ada bagian lain yang tahu aku sendiri tidak ingin pekerjaan itu.
'Jadi apa yang bisa kupegang?'
'Kabar yang sesuai kenyataan. Kalau rencana berubah, Om bilang. Kalau ada komunikasi yang berkaitan dengan batas yang kita sepakati, Om jelaskan. Dan kalau kamu bertanya karena ucapan Om bertentangan dengan kejadian, Om tidak menyebutmu berlebihan.'
Aku mengangguk sedikit.
'Aku tidak mau semua orang yang menghubungi Om harus diumumkan kepadaku.'
'Baik.'
'Aku juga tidak mau tidak tahu apa-apa dengan alasan jangan jadi pengawas.'
'Om mengerti bedanya.'
Aku menyandarkan punggung. Percakapan itu tidak memberi jaminan bahwa aku tidak akan pernah sakit hati lagi. Mungkin memang tidak ada jaminan semacam itu yang bisa dibawa seperti kunci.
'Kalau besok aku masih bertanya dengan nada jelek, aku akan coba mengatakannya lagi dengan lebih jelas,' kataku.
'Om juga bisa meminta kita bicara tanpa saling menyudutkan.'
Aku mengangguk. 'Tapi jangan menjadikan nadaku alasan untuk tidak menjawab isinya.'
'Baik.'
Aku memutar gelas sekali, lalu melepaskannya. Kami tidak sedang menyusun aturan agar hanya satu orang boleh marah.
Riyan menambahkan bahwa tidak ada pesan lanjutan dari Tiara yang perlu dibicarakan. Ia tidak membuka layar untuk membuat pertunjukan tentang kotak percakapan yang sepi.
Aku menerima kabar itu tanpa meminta ia mengirim sapaan baru untuk memastikan penutupnya benar-benar diterima.
'Kita tidak perlu membuat Tante Tia menjawab lagi,' kataku.
'Tidak.'
Aku minum, lalu meletakkan gelas. Ada kelelahan yang terasa lebih ringan setelah diucapkan, meskipun belum hilang.
Riyan mengulurkan tangan sedikit, kemudian berhenti.
'Mau duduk lebih dekat?'
Aku memikirkannya sebelum mengangguk. Kami berpindah ke tepi tempat tidur. Aku duduk di sampingnya, tanpa menyandarkan kepala lebih dulu.
'Aku ingin punya ingatan lain tentang tempat makan di mal itu,' kataku.
Riyan menoleh.
'Bukan menemui Tiara?'
Aku menggeleng.
'Bukan. Aku ingin makan sama suamiku. Tapi aku takut nanti malah menjadikan semuanya ujian.'
Riyan tidak segera menjawab dengan janji akan membuat malam paling indah. Ia hanya bertanya, 'Kamu ingin pergi lagi, atau ingin membicarakan kemungkinan itu dulu?'
Aku menatap tangan kami yang terletak berdekatan.
'Aku ingin memilih tempatnya bersama. Jangan langsung menentukan untukku.'