'Utuh,' jawab Riyan.
Ia memegang ponsel tetap di antara kami. Aku mulai membaca, perlahan agar tidak melewatkan kalimat karena terlalu sibuk menebak maksudnya.
'Mas, aku sudah memikirkan jawabanmu waktu kita bertemu. Aku tidak akan menunggu kamu berubah pikiran. Aku juga tidak ingin melanjutkan percakapan pribadi atau mencoba menjadi teman dekatmu. Aku perlu menjalani hidupku tanpa berharap pada hubungan kita lagi. Tolong hormati itu, termasuk jangan menghubungi karena merasa kasihan. Pesan ini bukan ajakan untuk membicarakan kemungkinan lain.'
Aku membaca sampai titik terakhir. Tidak ada permintaan bertemu, tidak ada pertanyaan kapan Riyan sendirian. Tiara tidak meminta aku ikut menjawab atau memberikan pengampunan kepadanya.
Riyan menunjukkan bagian sebelum pesan itu. Percakapan terakhir yang terlihat berkaitan dengan pertemuan kami di mal. Tidak ada rangkaian sapaan sesudahnya yang baru harus dijelaskan.
Aku mengembuskan napas.
'Dia sedang menutup bagiannya.'
'Iya,' kata Riyan.
'Om mau menjawab apa?'
Riyan menatap layar sebentar.
'Mengakui pesannya dan mengatakan Om akan menghormati batas itu. Tidak bertanya apakah dia yakin, tidak mengajak bicara lagi.'
Aku mengangguk. Ia mulai mengetik, lalu memperlihatkan kalimatnya sebelum mengirim.
'Aku mengerti, Tia. Aku menghormati keputusanmu dan tidak akan menghubungimu untuk melanjutkan kedekatan pribadi. Maaf karena dahulu aku membiarkan keadaan kabur. Keputusanku yang sudah kusampaikan tetap sama.'
Aku membaca dua kali. Tidak ada kalimat tentang selalu tersedia jika ia membutuhkan, atau pintu kecil yang dibiarkan terbuka atas nama kebaikan.
'Kalau aku tidak duduk di sini, Om tetap menjawab begitu?' tanyaku.
'Iya. Ini tanggung jawab Om, bukan aturan yang kamu paksa.'
Aku menatapnya, kemudian mengangguk. Riyan mengirim pesan itu. Setelahnya ia tidak mulai mengetik tambahan. Ponsel tetap berada di tangannya beberapa saat, lalu diletakkan di meja.
Aku menyandarkan punggung.
Selesai mengirim ternyata tidak sama dengan selesai merasa. Dadaku masih kencang, meski yang kutakutkan tidak terjadi.
'Om tidak perlu menunggu balasan?' tanyaku.
'Tidak ada yang perlu Om minta darinya lagi.'
'Termasuk memastikan dia tidak marah?'
'Termasuk itu.'
Aku melihat jari-jarinya tidak lagi bergerak di layar. Ia tidak menganggap kemarahanku satu-satunya perasaan yang harus dipikirkan, tetapi ia juga tidak memakai perasaan Tiara sebagai alasan kembali mendekat.
'Om masih merasa bersalah?' tanyaku.
'Iya.'
'Lalu?'
'Om harus menanggungnya tanpa meminta Tiara membuat Om merasa lebih baik.'
Aku menatapnya. Jawaban itu terdengar tidak nyaman bahkan untuk orang yang mengucapkannya. Riyan mengusap telapak tangan, lalu membiarkannya diam di atas lutut.
'Dulu Om suka mengira menjawab sedikit lagi tidak akan merugikan,' katanya. 'Padahal itu bisa membuat orang terus berharap.'
Aku mengangguk. Aku tidak ingin menyuruhnya lupa bahwa ia pernah menyakiti orang lain. Aku hanya tidak mau rasa bersalah itu digunakan untuk memberi perhatian yang akan melukai kami lagi.
Aku menelan ludah.
'Aku tidak senang melihat orang lain sedih.'
'Om tahu.'
'Tapi aku lega dia tidak meminta hubungan itu diteruskan.'
'Kamu boleh lega.'
Aku menatapnya sedikit tajam. 'Aku tahu aku boleh. Aku cuma sedang cerita.'
Riyan terdiam, lalu mengangguk.
'Iya. Maaf. Om mendengarkan.'
Aku nyaris tertawa. Ternyata sesudah percakapan yang tegang, aku masih bisa kesal karena jawabannya terlalu seperti memberikan izin untuk sesuatu yang sudah menjadi milikku.
Aku menggosok telapak tangan ke celana.
'Aku juga tidak ingin harus mengucapkan terima kasih karena Om tidak menyembunyikannya.'
'Kamu tidak harus.'
'Tapi aku mau mengakui bahwa pagi ini berbeda.'
Riyan memandangku lebih lama.
'Om senang kamu bisa melihatnya.'
Aku mengangguk. Bukan pujian yang menghapus kesalahan lama. Hanya catatan kecil tentang sesuatu yang benar-benar terjadi: ia memberi tahu sebelum aku bertanya, membiarkanku membaca seluruh pesan, lalu menjawab dengan pilihan yang sama seperti di mal.
Jam berangkatnya sudah dekat. Riyan melihat waktu, kemudian bertanya apakah aku masih membutuhkan pembicaraan sebelum ia pergi.
Aku memikirkan jawabannya.
'Tidak harus dituntaskan sekarang. Aku mungkin masih kepikiran nanti.'
'Kalau ingin bicara setelah Om pulang, bilang.'
'Jangan sampai jawabannya jadi tadi sudah dibahas.'
'Tidak.'
Ia memasukkan ponsel ke tempatnya, lalu mengambil barang kerja. Aku berdiri dan berjalan bersamanya sampai bawah.
Mama berada di dekat ruang makan. Riyan berpamitan seperti biasa. Ia tidak mengumumkan bahwa masalah Tiara telah dibereskan di hadapan Mama, seolah sedang meminta penilaian baik.
Di pintu, aku berhenti di sampingnya.
'Hati-hati, Om.'
Ia menoleh. 'Kamu juga jangan lupa makan.'
'Aku sedang banyak pikiran, bukan kehilangan mulut.'
Riyan tertawa pendek, lalu berpamitan. Aku melihatnya pergi sebelum kembali masuk.
Mama menatapku, menunggu jika aku ingin mengatakan sesuatu. Aku duduk sebentar di dekatnya.
'Pesannya tentang keputusan setelah pertemuan dulu, Ma. Om sudah memperlihatkannya.'
Mama mengangguk.
'Kamu ingin cerita lebih banyak?'
'Belum. Aku ingin duduk dulu.'
Ia menerima. Kami duduk tanpa membuat diam itu menjadi pertengkaran. Setelah beberapa saat, Mama mengatakan akan membereskan bagian dapur yang belum rapi, dan aku memilih ikut membantu.
Tanganku bekerja, tetapi pikiranku masih kembali ke layar tadi. Aku mengingat kalimat Riyan, mencari kemungkinan yang terselip. Setelah menemukan diriku mengulang kalimat yang sama untuk ketiga kalinya, aku meletakkan lap.
'Ma, aku capek sekali memeriksa sesuatu yang sudah kulihat.'
Mama berhenti.
'Kamu ingin menanyakan lagi?'
'Aku tidak tahu. Mungkin aku cuma takut percaya lalu terlihat bodoh.'
Mama tidak menjawab bahwa seorang istri seharusnya percaya kepada suami. Ia menarik kursi dan duduk, memberi ruang jika aku ingin menyusul.
Aku duduk.
'Aku tidak punya jawaban cepat untuk itu,' katanya. 'Tapi kamu tidak harus memutuskan semuanya pagi ini.'
Aku menatap meja. Rasanya menenangkan mendengar orang yang lebih tua mengaku tidak memiliki kalimat yang bisa memperbaiki seluruh keadaan.
Aku mengambil ponselku untuk melihat jam. Tidak ada pesan dari Riyan, dan kali ini hal itu masuk akal: ia sedang berangkat bekerja.
Aku mengetik sebuah pesan, lalu membacanya sebelum mengirim.
'Nanti malam aku ingin bicara lagi. Bukan untuk mengubah jawaban tadi, tapi tentang bagaimana aku berhenti merasa harus mengawasi.'
Aku mengirimnya, kemudian meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak nama Tiara muncul pagi itu, aku memilih melakukan sesuatu selain menunggu layar menyala. Aku mengambil lap kembali dan bertanya kepada Mama bagian mana yang masih perlu dibereskan.