Di depan pintu kamar, aku melepaskan tangan Riyan agar ia bisa membukanya. Kami masuk tanpa membawa percakapan keluarga tadi menjadi kewajiban untuk terus berbicara sampai larut.
Aku mengambil pakaian tidur. Riyan merapikan beberapa barang di meja, lalu bertanya apakah aku masih ingin minum.
'Sudah cukup, Om. Kalau tambah terus, nanti aku tidak tidur.'
Ia tersenyum dan meletakkan gelasnya. Aku bergantian bersiap dengannya, kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil memeriksa kabar terakhir dari Ayah. Tidak ada yang mendesak. Aku mengirim ucapan selamat istirahat dan menyimpan ponsel.
Riyan menyiapkan tempatnya di sofa.
'Om,' panggilku.
Ia menoleh.
'Tadi aku senang bisa bicara begitu sama Mama. Tapi aku juga capek.'
'Besok tidak perlu melanjutkan kalau belum ingin.'
Aku mengangguk. Ada rasa lega karena tidak harus menjaga keberhasilan malam ini dengan percakapan lain yang lebih panjang. Kami boleh tidur, lalu membiarkan perubahan kecil itu diuji oleh pagi yang biasa.
Aku berbaring. Ketika Riyan mengucapkan selamat malam, aku menjawab tanpa menoleh untuk memeriksa wajahnya sekali lagi. Tidak semua ketenangan harus segera kutanya apakah benar.
Pagi berikutnya aku terbangun setelah pengingat berbunyi. Kami bangun, menunaikan salat, lalu bersiap. Riyan berpakaian untuk bekerja, sementara aku merapikan tempat tidur sebelum turun.
Mama berada di dapur. Ia menyapaku, lalu menanyakan apakah aku mau membantu menata sarapan.
'Mau, Ma. Tapi jangan beri aku piring yang terlalu banyak sekaligus.'
'Ambil dua kali saja.'
Aku tersenyum. Jawaban praktis ternyata sering lebih menenangkan daripada pujian.
Kami membawa makanan ke meja. Aku mengambil tiga piring dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Ketika Riyan turun, ia mengambil minuman lalu duduk di tempatnya. Mama menanyakan pekerjaan hari itu, dan ia menjawab bahwa ada beberapa hal yang perlu diperiksa seperti biasa.
Aku menyendok nasi. Sarapan terasa tenang. Tidak ada yang menyebut Alana untuk memastikan bahwa kami tidak menghindari namanya; tidak ada pula larangan menyebutnya. Kami hanya makan.
Ponsel Riyan bergetar di dekat tangannya.
Ia melihat layar sekilas. Gerakannya berhenti sedikit lebih lama daripada biasanya. Aku menyadarinya, lalu segera merasa kesal kepada diri sendiri karena begitu cepat memperhatikan.
Riyan menaruh sendoknya.
'Kay, ada pesan dari Tiara.'
Tanganku ikut berhenti.
Mama memandang kami, tetapi tidak mengambil alih pertanyaan. Ruang makan yang tadi biasa mendadak terasa terlalu terang.
'Baru masuk?' tanyaku.
'Iya. Om baru melihat pemberitahuannya. Belum dibuka.'
Aku menatap ponsel itu tanpa mengulurkan tangan. Nama Tiara langsung membawa kembali suara mal, gelas di meja, dan perasaan duduk sendirian sementara suamiku berbicara dengan perempuan yang belum kukenal.
Aku tidak ingin semua itu kembali menguasai pagi.
'Om mau membukanya sekarang?'
'Om ingin memberitahumu dulu. Kita bisa baca setelah sarapan, di kamar.'
Aku mengangguk, tetapi nasi di mulutku terasa sulit ditelan. Riyan tidak membalik ponsel untuk menyembunyikan layar. Ia hanya meletakkannya sedikit jauh dari piring agar tidak terus tersentuh.
Mama minum, lalu bertanya kepadaku apakah ingin air tambahan. Aku menggeleng dan mengucapkan terima kasih.
Tidak ada nasihat agar tenang demi sarapan. Aku bersyukur, meskipun aku sendiri belum tahu bagaimana caranya melanjutkan makan dengan wajar.
Riyan mengambil sendok lagi.
'Om tidak akan membalas sebelum membacanya dan membicarakan konteksnya denganmu.'
Aku menatapnya.
'Aku tidak ingin menulis jawaban atas nama Om.'
'Bukan itu maksud Om.'
Aku mengangguk pelan. Kami melanjutkan sarapan, lebih sunyi daripada tadi. Aku tidak memaksa menghabiskan terlalu cepat. Sesudah cukup, aku membawa piring sendiri ke dapur.
Di jalan menuju dapur aku sempat berhenti. Ada keinginan kembali dan meminta Riyan membacakan pesannya saat itu juga, di depan Mama, supaya aku tidak perlu menanggung kegugupan sendiri. Namun Mama bukan hakim yang harus mendengar setiap kata agar aku merasa jawabannya sah.
Aku menoleh kepada Riyan.
'Setelah ini, ya.'
'Iya, Kay. Om tunggu.'
Ia tidak mengangkat ponsel untuk membaca diam-diam sementara aku pergi. Aku melihat itu, lalu meneruskan langkah. Aku belum bisa berhenti takut hanya karena satu gerakan kecil, tetapi aku bisa membedakan apa yang benar-benar kulihat dari apa yang sedang kubayangkan.
Mama menyusul dengan beberapa peralatan.
'Kamu mau ke atas dulu?' tanyanya.
'Aku cuci ini dulu, Ma.'
'Iya.'
Tanganku bergerak pelan. Air mengalir, dan aku memusatkan perhatian pada pekerjaan yang bisa kulihat. Riyan datang membawa piringnya, menaruhnya di tempat cuci, lalu bertanya apakah aku ingin ia mengerjakan sisanya.
'Boleh. Aku mau mengeringkan tangan.'
Ia mengambil alih tanpa mengatakan aku terlalu gugup untuk memegang piring. Setelah beres, kami berjalan ke kamar bersama. Mama tetap di bawah, tidak mengikuti untuk memastikan bagaimana kami menghadapi pesan itu.
Di kamar, Riyan meletakkan ponselnya di meja. Aku duduk di kursi, sedangkan ia berdiri sebentar sebelum menarik tempat duduk yang memungkinkan kami berbicara tanpa saling membungkuk.
Aku menarik napas.
'Sejak pertemuan di mal, Om pernah menghubunginya lagi?'
'Tidak. Tidak menanyakan kabar, tidak mengajak bertemu.'
'Dan ini pesan pertama setelah itu?'
'Iya.'
Aku melihat wajahnya. Aku ingin sekali jawaban itu langsung membuat seluruh tubuhku tenang. Kenyataannya tidak begitu.
'Aku percaya Om sedang memberitahuku sekarang,' kataku. 'Tapi aku masih takut ada bagian yang baru dijelaskan kalau aku bertanya tepat.'
Riyan mengangguk.
'Dulu memang seperti itu. Om tidak akan mengatakan kamu berlebihan.'
Aku menatap ponsel di meja, lalu mengalihkan pandangan ke tanganku sendiri. Aku tidak ingin merampasnya. Aku juga tidak ingin berpura-pura tidak ingin tahu hanya supaya terlihat sebagai istri yang santai.
'Kalau aku melihat pesannya, itu bukan berarti aku harus memeriksa semua percakapan Om.'
'Tidak.'
'Aku cuma ingin tahu yang ini, karena ini menyangkut sesuatu yang pernah disembunyikan dariku.'
Riyan meraih ponsel, membuka layar, lalu berhenti sebelum masuk ke percakapan.
'Kamu mau membacanya bersama Om?'
Aku mengangguk. Ia membuka pesan itu dan menempatkan layar agar bisa kulihat, tanpa menggulir melewati bagian mana pun terlebih dahulu.
Nama Tiara berada di atas deretan percakapan yang pernah menjadi sumber kebingunganku. Aku tidak langsung membaca. Aku menatap Riyan sekali lagi.
'Yang utuh, ya, Om. Bukan cuma kalimat yang paling mudah kita terima.'