'Boleh,' jawab Mama. 'Kita tanya Riyan dulu kapan dia bisa.'
Aku mengangguk. 'Aku juga belum mau sekarang. Masih ingin mengerjakan yang ini.'
Mama melihat piring di tanganku, lalu mengambil lap. Kami melanjutkan pekerjaan tanpa menganggap permintaanku sebagai tanda bahwa rumah sedang berada dalam keadaan darurat.
Sesudah dapur rapi, aku mengirim pesan kepada Riyan. Kutanyakan apakah malam nanti ia bersedia berbicara bersama Mama tentang percakapan kami. Aku menyebutkan bahwa tidak ada yang harus dijawab saat ia sedang sibuk.
Kemudian aku meletakkan ponsel.
Aku membereskan pakaian perjalanan yang belum sempat diurus. Tidak semuanya perlu dicuci lagi, jadi kupilah dengan lebih teliti. Pengalaman membawa baju bersih Riyan ke tumpukan cucian di rumah Ayah rupanya cukup memalukan untuk dijadikan pengingat.
Saat kembali ke kamar, ada balasan Riyan. Ia bersedia setelah makan malam jika pekerjaan tidak membuatnya pulang terlalu larut. Bila waktunya berubah, ia akan memberi tahu.
Aku membalas setuju dan menyampaikan kepada Mama. Setelah itu, kami menjalani siang seperti biasa. Makan, salat, dan beristirahat sebentar. Tidak ada kewajiban membicarakan Alana setiap kali berpapasan hanya karena namanya sudah disebut pagi tadi.
Menjelang sore, aku menerima kabar singkat dari Ayah. Ia sudah pulang dan hendak mengurus makan. Aku tersenyum, lalu membalas bahwa kami juga baik. Tanganku sempat ingin menulis pertanyaan tambahan, tetapi kuhentikan setelah sadar aku hanya ingin memperpanjang keberadaannya di layar.
Aku boleh rindu tanpa membuatnya terus menjawab.
Riyan memberi kabar sebelum pulang. Ketika akhirnya datang, aku menyambutnya dan membiarkan ia membersihkan diri. Aku tidak berdiri di pintu kamar dengan daftar pertanyaan.
Saat ia turun untuk makan, Mama menanyakan apakah ia masih terlalu lelah untuk berbicara.
'Bisa, Ma. Setelah makan.'
Aku ikut menjawab bahwa jika salah satu ingin berhenti, kami bisa melanjutkan lain waktu. Riyan mengangguk, tetapi kali ini tidak ada yang menjadikan kalimat itu bahan nasihat panjang.
Kami makan dahulu. Aku bercerita bahwa Ayah mengirim kabar, dan Riyan bertanya bagaimana keadaan di rumah. Jawabanku sederhana: baik, menjalani hari seperti biasa.
Sesudah meja dibereskan, kami duduk di ruang depan. Aku berada di salah satu kursi, Riyan di dekatku, dan Mama menghadap kami. Tidak ada foto yang kuletakkan di meja. Aku sengaja menyimpannya dalam dompet karena ingin berbicara tanpa terus mempertemukan wajah di kertas dengan wajahku.
Mama memulai.
'Tadi pagi Kayla bilang ingin mendengar tanpa menebak-nebak bagiannya. Mama ingin tahu apa yang masih membuatmu takut.'
Aku meremas ujung bajuku sebentar.
'Kalau Mama dan Om sedang kangen Alana, aku takut harus jadi obatnya. Kalau aku tidak berhasil, aku merasa mengecewakan.'
Riyan menatapku, lalu beralih kepada Mama.
'Aku pernah membuat Kayla merasa begitu. Bukan cuma karena ia salah mengerti.'
Mama mengangguk. 'Mama juga.'
Tidak ada yang saling menyalahkan siapa yang lebih dulu. Aku tidak diminta memilih pihak yang paling menyakitiku. Rasanya aneh mendengar mereka mengakui hal itu tanpa aku harus mengulangi setiap kejadian.
'Aku mau mendengar tentang Alana sebagai Alana,' kataku. 'Tapi aku tidak mau setelah itu harus melakukan kebiasaannya.'
Mama menarik napas, lalu mengusap telapak tangannya.
'Kadang Mama masih ingin mengatakan dia biasanya begini. Kalimatnya datang sebelum Mama berpikir.'
'Kalau cuma bercerita, bilang itu cerita,' jawabku. 'Kalau Mama sebenarnya ingin aku melakukan sesuatu, tanya aku.'
Mama mengangguk. Riyan meletakkan gelas yang sejak tadi dipegangnya, lalu berbicara pelan.
'Aku juga masih kehilangan dia, Ma. Tapi waktu aku mencari rasa yang sama lewat Kayla, aku justru menyakiti istriku.'
Aku menatap Riyan. Kata istriku tidak diucapkannya seperti tanda kepemilikan. Ia sedang menyebut hubungan yang berbeda, yang tidak bisa dilipat agar muat ke tempat kosong lain.
Mata Mama mulai basah.
'Mama tahu kalian berbeda. Tetapi dulu Mama terlalu senang melihat wajah yang terasa dikenal.'
Aku membiarkannya menyeka air mata. Tidak segera tersenyum lebar, tidak mengubah suara supaya rumah lebih riang. Aku hanya tetap duduk.
Riyan meraih tisu dan menyerahkannya kepada Mama.
'Alana tetap adikku,' katanya. 'Kita boleh merindukannya tanpa menyuruh Kayla membawa semuanya.'
Mama mengangguk, lalu menatapku.
'Terima kasih sudah pulang ke sini, Kayla.'
Dadaku terasa hangat sekaligus nyeri.
'Terima kasih karena kamu mau bilang kalau tidak nyaman. Mama mungkin tidak suka mendengar bahwa Mama menyakitimu, tetapi Mama perlu tahu.'
Aku menelan ludah.
'Aku juga kadang salah menebak perhatian Mama.'
'Kalau begitu kita saling bertanya.'
Aku tersenyum kecil. 'Asal bukan setiap kali Mama melihat rambutku.'
Mama tertawa sambil mengusap pipi. 'Tadi pagi memang ada rambut jatuh.'
'Iya. Aku tahu.'
Riyan memandang kami dengan senyum tipis. Ia tidak meminta penjelasan untuk setiap percakapan yang tidak didengarnya.
Kami berbicara sedikit lagi. Mama mengatakan ada kalanya ia ingin melihat foto Alana sendiri, bukan ditemani atau dihibur. Aku menjawab bahwa ia boleh meminta fotonya ketika ingin, dan aku akan mengambilkannya jika berada padaku. Menyimpannya tidak membuatku bertanggung jawab menjaga kesedihan semua orang.
Namun aku juga mengatakan bahwa malam ini aku belum ingin membukanya lagi.
Mama menerima.
Ketika percakapan mulai terasa penuh, aku meminta berhenti. Riyan mengangguk, Mama pun berdiri perlahan. Sebelum pergi beristirahat, ia menyentuh bahuku.
'Selamat malam, Kayla.'
Aku membalas. Tidak ada panggilan lain yang harus kutebak artinya.
Setelah Mama pergi, Riyan mengumpulkan gelas. Aku ikut membawa satu ke dapur, lalu kami mencucinya bersama. Air mengalir, piring yang sudah bersih tetap di tempatnya, dan rumah kembali punya suara biasa.
'Aku masih bisa sedih kalau mengingat awal kita,' kataku.
Riyan menoleh. 'Om tahu.'
'Aku tidak ingin percakapan tadi dipakai untuk menyuruhku cepat percaya.'
'Tidak.'
Aku memeriksa wajahnya sebelum mengangguk. Masih ada Tiara dalam bagian masa lalu yang pernah disembunyikannya. Masih ada pertanyaan tentang kedekatan kami dan masa depan yang belum siap kubicarakan seluruhnya. Malam ini tidak menghapus semua itu.
Tetapi ketika Riyan mengulurkan tangan setelah kami mengeringkan tangan masing-masing, aku menyambutnya.
Kami berjalan kembali ke kamar. Foto Alana tetap berada dalam dompetku. Aku tidak perlu menjadi foto itu agar boleh berjalan di samping suamiku.