'Kesempatan untuk bicara dengannya lagi,' jawab Riyan.
Aku menatap foto di tanganku. Jawabannya tidak segera mengarah pada rambut, kacamata, atau pakaian yang pernah kucoba tiru.
'Kadang ada hal kecil yang ingin Om ceritakan,' lanjutnya. 'Lalu baru ingat tidak bisa.'
Ia berhenti. Aku membiarkannya mencari kata tanpa menambahkan pertanyaan.
'Om rindu bisa menjadi kakaknya. Bukan cuma orang yang menyimpan fotonya.'
Dadaku terasa penuh. Aku menurunkan foto ke pangkuan, memegangnya di bagian tepi.
'Aku tidak bisa jadi adik Om.'
'Tidak. Dan Om salah waktu membiarkan kamu berpikir mungkin itu yang harus kamu lakukan.'
Aku mengingat pakaian merah muda, rambut yang kubuat menyerupai foto, dan harapan bodoh bahwa aku bisa membuatnya senang dengan cara yang sangat mudah. Aku juga mengingat pelukan yang berubah menyakitkan ketika kenyataan kembali.
'Waktu itu aku memang ingin mengejutkan Om,' kataku. 'Tapi aku tidak tahu aku sedang masuk ke tempat yang seberat itu.'
Riyan menunduk.
'Om tahu kamu tidak mengerti. Seharusnya Om menjelaskan, bukan membuatmu menanggung kemarahan Om.'
Aku mengangguk pelan. Pengakuan itu tidak baru sepenuhnya, tetapi kali ini ia mengatakannya sambil melihat foto Alana, bukan buru-buru mengalihkan pembicaraan dari adiknya.
'Kalau aku tidak melakukan itu lagi, bukan berarti aku tidak peduli.'
'Om tahu.'
'Dan aku mungkin tetap suka warna yang juga ada di foto ini.'
Riyan mengangkat wajah.
'Kamu tidak perlu menghindari warna untuk membuktikan kamu Kayla.'
Aku menatapnya beberapa saat. Ada sesuatu yang mengendur di dadaku. Selama ini aku terlalu mudah membuat aturan sendiri: jangan memakai ini, jangan tertawa begitu, jangan sampai kemiripan itu terlihat. Padahal wajahku bukan kesalahan yang harus kusamarkan.
Aku menyentuh ujung rambutku, lalu menurunkan tangan.
'Aku capek kalau harus terus memeriksa diriku.'
'Om tidak ingin kamu hidup begitu.'
'Tapi awalnya Om datang karena kemiripan itu.'
'Iya.'
Jawabannya tidak cepat, tetapi jelas. Ia tidak mencoba mengganti awal pernikahan kami menjadi kisah yang lebih indah hanya karena sekarang kami sudah bisa duduk berdekatan.
Aku menatap fotonya lagi.
'Bagaimana aku tahu sekarang berbeda?'
Riyan menarik napas. 'Bukan dengan Om menyuruhmu percaya malam ini.'
Aku menunggu.
'Kalau kamu bilang tidak ingin mendengar, Om berhenti. Kalau kamu punya pilihan yang tidak sama dengan keinginan Om, Om mendengarkan. Dan kalau Om keliru, kamu tidak harus menghibur Om setelahnya.'
'Itu memang harus dilakukan seorang suami.'
'Iya. Bukan hadiah khusus untukmu karena sedang bertanya.'
Aku menunduk sambil tersenyum pahit. Setidaknya ia tidak sedang menawarkan hal paling dasar sebagai bukti cinta yang luar biasa.
Riyan menggeser tangannya, tetapi tidak mengambil foto dari pangkuanku.
'Om juga ingin mengenal hal yang belum kamu ceritakan. Bukan hanya mengingat hal yang mirip.'
Aku mengangkat mata.
'Misalnya?'
'Misalnya kapan kamu diam karena nyaman, dan kapan karena takut.'
Aku tidak langsung menjawab. Malam ini aku sudah cukup lama diam, tetapi bukan karena takut dimarahi. Aku sedang mencoba mempercayai bahwa percakapan tidak akan ditutup hanya karena pertanyaanku membuatnya tidak nyaman.
'Kalau nyaman, aku mungkin bersandar,' kataku.
Riyan tersenyum sedikit. 'Kalau takut?'
'Aku bisa tertawa juga. Itu yang sulit.'
Senyumnya mereda. Ia mengangguk, kali ini lebih lambat.
Aku menyimpan foto kembali ke dompet. Tidak kusodorkan kepada Riyan sebagai tuntutan agar ia memilih siapa yang boleh ada di hidupnya. Foto itu bukan orang ketiga yang bisa dikalahkan, tetapi aku juga bukan tempat adiknya dipindahkan.
Dompetnya sempat sulit ditutup karena ada bagian yang kurang rapi. Aku membuka kembali, membenahinya, lalu meletakkannya di sampingku.
'Aku tidak mau foto ini harus dibuang supaya kita bisa bicara baik-baik,' kataku.
'Om tidak memintamu membuangnya.'
'Aku tahu. Aku yang sempat berpikir begitu. Seolah kalau benda ini tidak terlihat, kepalaku juga akan lebih tenang.'
Riyan menggeleng pelan. 'Yang harus berubah cara Om memperlakukanmu, bukan cuma tempat fotonya.'
Aku menatapnya, lalu mengangguk. Ucapan itu belum menjadi bukti untuk hari-hari berikutnya. Tetapi setidaknya malam ini tidak berakhir dengan keputusan menyalahkan selembar kertas atas sesuatu yang dilakukan manusia.
'Untuk malam ini cukup, Om.'
'Baik.'
Ia berdiri mengambil air, lalu memberiku gelas setelah bertanya apakah aku ingin. Kami tidak melanjutkan pembicaraan sambil berpura-pura hanya mengobrol ringan. Aku minum, menyimpan dompet dalam tas kecil, kemudian bersiap tidur.
Riyan menempati sofa, sedangkan aku di tempat tidur. Sebelum lampu diredupkan, aku memanggilnya.
'Terima kasih karena tidak bilang aku terlalu banyak berpikir.'
Riyan menoleh.
'Selamat istirahat, Kay.'
Aku membalas, lalu memejamkan mata. Foto itu tetap tersimpan. Pertanyaanku juga belum habis, tetapi malam tidak harus menampung semuanya.
Pagi berikutnya kami bangun, salat, dan bersiap menjalani hari di rumah lagi. Riyan memeriksa jadwal pekerjaannya setelah memberi tahu aku, kemudian berpakaian. Aku turun lebih dulu untuk membantu sarapan.
Mama menoleh ketika aku masuk dapur.
'Tidur nyenyak?'
'Lumayan, Ma.'
Ia menunjukkan apa yang bisa kubawa ke meja. Aku mengambilnya, lalu kembali untuk membantu bagian lain. Kertas pengingatku masih berada di tempat yang sama. Kali ini aku membacanya sekilas dan tersenyum, bukan merasa semua keterampilanku tertinggal di desa.
Saat Riyan turun, meja sudah hampir siap. Ia mengambil minuman sendiri lalu duduk. Sarapan berlangsung biasa sampai Mama memperhatikan ikatan rambutku yang agak longgar.
Aku melihat tangannya bergerak sedikit, lalu berhenti.
'Ada yang jatuh ke pipimu,' katanya sambil menunjuk rambutku sendiri, tidak meraih kepalaku.
Aku merapikannya dengan jari.
'Begini?'
Mama mengangguk. Tidak ada perbandingan. Hanya sehelai rambut yang mengganggu makan.
Setelah sarapan, Riyan bersiap berangkat bekerja. Ia menyampaikan perkiraan waktunya dan akan memberi kabar bila berubah. Aku mengantarnya ke pintu, masih memikirkan percakapan semalam.
'Aku mungkin ngobrol lagi sama Mama nanti,' kataku.
'Kalau kamu ingin.'
'Iya. Bukan karena Om menyuruh.'
Ia mengangguk, lalu berpamitan. Setelah mobil pergi, aku kembali ke dapur. Mama sedang mengumpulkan peralatan makan.
Aku mengambil sebagian, dan kami membereskannya bersama. Ketika pekerjaan berkurang, aku menoleh kepadanya.
'Ma, semalam aku melihat foto Alana.'
Gerakan Mama melambat, tetapi ia tidak segera meminta melihatnya.
'Aku ngobrol sama Om,' lanjutku. 'Nanti, kalau kami berdua sudah sama-sama senggang, boleh kita bicara bertiga? Aku ingin mendengar Mama dan Om tanpa harus menebak-nebak bagianku.'