'Boleh sedikit, Ma,' jawabku. 'Kalau aku belum sanggup, aku bilang.'
Mama mengangguk. Aku meletakkan gelas di meja agar tidak terus menggenggamnya. Kami duduk berhadapan, tidak sedekat ketika berpelukan tadi.
'Mama ingat rasanya senang mendengar suara anak pulang,' katanya. 'Tadi kamu mengucapkan salam, lalu rumah terasa ramai lagi.'
Aku menatap Mama. Ia tidak mengatakan bahwa suaraku sama dengan suara Alana. Namun aku masih perlu mendengarkan beberapa saat sebelum bahuku bisa turun.
'Mama senang karena kamu pulang,' lanjutnya. 'Tapi ingatan yang lain ikut muncul. Mama ingin mengatakan itu dengan benar.'
'Yang Mama ingat Alana. Yang datang aku.'
'Iya.'
Jawabannya pelan. Mama menyeka sudut matanya, lalu tersenyum sedikit tanpa memaksaku membalas.
Aku ingin langsung mengatakan tidak apa-apa. Kalimat itu sudah hampir keluar karena aku tidak tahan melihatnya sedih. Tetapi aku berhenti. Ada yang tidak apa-apa, ada pula yang masih membuatku takut.
'Kalau Mama sedih setelah melihatku, aku kadang merasa harus melakukan sesuatu,' kataku.
'Misalnya?'
'Bikin Mama tertawa. Pakai sesuatu yang Mama suka. Jangan menolak kalau ingin ditemani.'
Mama menatap tangannya.
'Dulu Mama terlalu cepat merasa yang hilang bisa kembali.'
Aku terdiam. Aku pernah merasakan kehangatan dari harapan itu, lalu merasa sesak ketika menyadari tempat yang sedang kucoba isi bukan benar-benar milikku.
'Mama tahu Alana tidak kembali,' katanya lagi. 'Tapi mengetahui dan bisa menahan kebiasaan berharap ternyata berbeda.'
Aku mengangguk, meski tidak berani mengaku memahami seluruhnya. Aku tidak kehilangan orang yang sama dengan cara yang sama. Aku juga tidak ingin berpura-pura paling mengerti hanya supaya terdengar baik.
'Aku boleh sayang Mama tanpa bisa membuat sedihnya hilang?'
Mama mengangkat wajah.
'Boleh, Kayla.'
Namaku diucapkan utuh, tidak sebagai pengingat yang dibuat-buat. Aku menarik napas, lalu menyandarkan punggung.
'Dan kalau Mama ingin menangis, aku tidak selalu harus mencari cara supaya Mama berhenti?'
Mama menggeleng.
'Kadang ditemani sudah cukup. Kadang Mama juga perlu sendiri.'
Aku tersenyum kecil. 'Kalau sendiri, bilang. Nanti aku malah duduk terus karena takut salah pergi.'
Mama tertawa lirih di antara sisa air matanya. Tawa itu bukan hadiah karena aku berhasil mengusir Alana dari percakapan. Ia masih sedih, dan kami masih bisa tersenyum.
Kami diam beberapa saat. Mama tidak menambahkan cerita panjang tentang hari kehilangan itu. Aku bersyukur. Mendengar namanya saja sudah membuat pikiranku bekerja keras.
Akhirnya aku mengangkat gelas, minum, lalu meletakkannya kembali.
'Ma, untuk sekarang sampai sini dulu, ya?'
Mama langsung mengangguk.
'Iya. Terima kasih sudah mendengar.'
Aku menunggu rasa kecewa muncul di wajahnya. Mungkin ada sedikit kelelahan, tetapi ia tidak mengatakan bahwa aku kurang sabar. Ia juga tidak mengingatkan semua yang telah dilakukannya untukku.
Aku berdiri hendak membawa gelas. Mama menunjuk gelasnya sendiri.
'Kalau ke dapur, sekalian ini boleh?'
'Boleh.'
Permintaan kecil itu membuatku lega dengan cara yang aneh. Kami masih bisa melakukan hal biasa setelah percakapan sulit. Tidak semua harus ditutup dengan pelukan panjang atau janji yang terlalu besar.
Sebelum aku melangkah, Mama memanggil lagi.
'Nanti malam makan seperti biasa saja, ya. Tidak perlu menyiapkan sesuatu khusus karena baru pulang.'
Aku mengangguk, lalu bertanya apakah beliau ingin ditemani dulu.
'Sebentar sendiri boleh?'
'Boleh, Ma.'
Aku membawa gelas tanpa merasa harus menoleh setiap dua langkah. Tetapi saat sampai di pintu dapur, aku tetap menoleh sekali. Mama sedang menyeka wajah, tidak memanggilku kembali. Aku melanjutkan langkah. Membiarkannya sendiri terasa lebih sulit daripada menyibukkan diri mencari hiburan, tetapi tadi aku sendiri meminta agar keinginannya disebutkan dengan jelas. Sekarang giliranku mendengarkan jawaban yang sudah ia berikan.
Di dapur aku mencuci kedua gelas, kemudian melihat kertas pengingat memasak yang masih berada di tempat kering. Tidak berpindah ke tas, tidak ikut melakukan perjalanan enam jam. Aku menyentuh tepinya sebentar sambil tersenyum.
Aku kembali ke kamar dan menemukan Riyan sudah bangun. Ia duduk sambil mengusap wajah.
'Kamu dari mana?'
'Minum. Terus ngobrol dengan Mama.'
Ia mengangguk, lalu bergeser agar aku bisa duduk di tepi tempat tidur. Aku tidak langsung menceritakan semuanya. Mama berbicara kepadaku, bukan sedang mengirim laporan lewat aku.
'Om sudah lebih segar?'
'Lumayan. Kamu?'
Aku menimbang jawabannya. 'Badan iya. Kepala masih ramai.'
Riyan tidak segera bertanya ada apa dengan Mama. Ia mengambil air minumnya, lalu menunggu. Aku menyukai bahwa menunggu bisa benar-benar berarti menunggu, bukan menyiapkan pertanyaan berikutnya.
'Tadi Mama bertanya boleh cerita sedikit tentang Alana,' kataku akhirnya. 'Aku bilang boleh, lalu aku minta berhenti ketika sudah cukup.'
'Dan Mama berhenti?'
Aku mengangguk.
Riyan mengembuskan napas. Aku tidak tahu apakah ia lega untuk Mama atau untukku. Jadi aku bertanya.
'Dua-duanya,' jawabnya. 'Tapi Om tidak perlu tahu semua yang dibicarakan kalau kamu tidak ingin menceritakan.'
Aku tersenyum tipis, lalu bangkit mengambil pakaian yang belum dibereskan. Sebagian kusimpan, sebagian kusiapkan untuk dicuci nanti. Riyan ikut merapikan barangnya.
Menjelang makan malam, kami keluar bersama. Mama sedang di dapur. Aku bertanya apakah ada yang bisa dibawa ke meja, lalu melakukan bagian itu tanpa mengubah seluruh rencananya.
Saat duduk makan, Mama menanyakan perjalanan sekali lagi, kali ini tentang bagian yang paling membuat kami lelah. Riyan menjawab soal lama duduk dan perlu beristirahat. Aku menambahkan bahwa tidur di mobil tidak menjamin bangun dengan wajah bagus.
'Memang siapa yang menilai?' tanyanya.
'Aku sendiri. Penilainya keras.'
Mama tertawa. Aku melihat matanya masih sedikit sembap, tetapi tidak menganggapnya tanda bahwa percakapan kami tadi gagal.
Sesudah makan dan membereskan meja, Mama mengatakan ingin beristirahat. Aku tidak menahannya. Sebelum ia pergi, aku menyentuh lengannya.
'Terima kasih karena tadi berhenti waktu aku minta.'
Mama menepuk tanganku.
'Terima kasih sudah bilang.'
Malam itu aku kembali ke kamar bersama Riyan. Dompetku masih di atas meja, di tempat kutaruh setelah tiba. Aku mengambilnya, duduk, lalu membuka bagian tempat foto Alana tersimpan.
Riyan berhenti merapikan barang.
Aku tidak langsung mengeluarkan foto itu. Kulihat ujungnya, lalu menatap suamiku.
'Aku ingin bertanya tentang ini. Bukan tentang kejadian yang membuat Alana meninggal.'
Riyan duduk setelah meminta tempat di dekatku.
'Tentang apa?'
Aku menarik foto itu perlahan, menjaga agar tidak terlipat.
'Kalau Om melihat foto ini sekarang, apa yang Om rindukan dari Alana—yang bukan tentang wajahku?'