'Maksudmu tentang Alana?' tanya Riyan.
Aku mengangguk. Kami masih duduk di tempat istirahat, botol minum berada di antara kami. Aku tidak ingin memulai percakapan ini saat ia sedang harus memperhatikan jalan.
'Aku tidak takut Mama memelukku,' kataku. 'Aku cuma takut setelah itu aku merasa harus membuat semua orang senang lagi.'
Riyan menutup botolnya.
'Om tidak bisa menjanjikan Mama tidak akan pernah teringat Alana ketika melihatmu.'
'Aku tidak minta ingatannya dihapus.'
'Iya. Tapi kalau Om melakukan sesuatu yang membuatmu merasa dibandingkan, bilang. Om perlu mendengar bagian yang benar-benar terjadi, bukan hanya merasa sudah lebih baik.'
Aku memandangnya. Jawabannya tidak sepenuhnya menenangkan, tetapi setidaknya ia tidak menjamin sesuatu yang bukan miliknya untuk dijamin.
'Kadang aku juga bingung,' kataku. 'Mana yang perhatian biasa, mana yang karena wajahku.'
'Kalau bingung, tanyakan.'
'Jangan kesal kalau aku bertanya lagi.'
Riyan mengangguk. Aku mengambil botolku, minum, lalu berdiri. Percakapan itu belum menjawab semua hal, tetapi aku tidak ingin duduk di tempat istirahat sampai harus membuktikan bahwa aku sudah tenang.
Kami kembali ke mobil. Riyan memastikan tidak ada barang tertinggal sebelum melanjutkan perjalanan. Aku menatap jalan sambil membiarkan pikiranku bergerak lebih lambat.
Beberapa saat kemudian Ayah membalas pesanku. Ia mengatakan sudah menerima kabar dan meminta kami tidak terburu-buru. Aku membacakannya kepada Riyan, lalu menyimpan ponsel.
'Ayah tidak bilang rumahnya kosong,' gumamku.
'Memang harus?'
'Tidak. Itu kepalaku saja.'
Riyan tersenyum tipis. Aku bersandar, mendengarkan suara kendaraan. Sesekali kami berbicara tentang hal kecil, termasuk tas yang ternyata lebih mudah ditutup ketika pakaian dilipat dengan benar.
'Itu bukan keajaiban, Kay.'
'Aku tidak bilang keajaiban.'
'Wajahmu seperti baru menemukan rahasia.'
'Memangnya tidak boleh bahagia karena tas?'
'Boleh. Asal jangan dibuka lagi sekarang.'
Aku tertawa. Perlahan jalan di depan tidak lagi terasa seperti jarak yang memisahkan aku dari Ayah saja. Jalan itu juga membawa kami menuju sesuatu yang sedang kami coba jalani.
Setelah beberapa jam, kami berhenti lagi untuk makan dan menunaikan salat. Aku makan lebih lahap daripada yang kuduga. Riyan meminta tambahan waktu duduk sebelum kembali menyetir, dan aku tidak mendesaknya.
Kami mengabari Mama dari tempat berhenti. Aku menjelaskan bahwa perjalanan baik, tetapi kami tidak menghitung waktu tiba sampai menit terakhir. Mama menjawab bahwa ia ada di rumah.
Sesudah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Aku sempat mengantuk, lalu terlelap sebentar dengan kepala bersandar. Ketika terbangun, tengkukku terasa kurang nyaman karena posisi dudukku sendiri.
Aku menggerakkan bahu.
'Jangan bilang aku mendengkur.'
'Om belum mengatakan apa-apa.'
'Itu pencegahan.'
Riyan tertawa pelan. Aku menegakkan duduk dan memperhatikan jalan. Pemandangan mulai kukenal. Tidak lama kemudian kami memasuki bagian perjalanan terakhir menuju rumah Mama.
Kurang lebih enam jam sejak berangkat, dengan jeda yang kami perlukan, mobil berhenti di depan rumah. Aku melihat Mama keluar sebelum sempat mengambil tas kecil.
Riyan mematikan mesin. Aku melepaskan sabuk pengaman, turun, lalu berjalan menghampiri Mama.
'Sudah pulang, Kayla.'
'Iya, Ma.'
Aku mencium tangannya. Ketika ia membuka lengan, aku mendekat dan memeluknya. Pelukannya hangat. Aku menunggu rasa takut yang sejak tadi kubayangkan, tetapi yang kurasakan lebih dulu justru lega karena akhirnya boleh berhenti duduk di mobil.
Mama melepaskan pelukan, memandang wajahku, lalu bertanya apakah aku lelah.
'Lumayan. Om yang lebih capek.'
Riyan sedang mengambil barang. Mama menegurnya agar tidak membawa semuanya sekaligus. Aku mengambil tas kecilku sendiri, sementara ia membawa barang lain bertahap.
Kami masuk. Aku meletakkan tas di tempat yang tidak menghalangi jalan, kemudian duduk. Mama membawakan minum, dan aku mengucapkan terima kasih tanpa langsung berdiri untuk membuktikan bahwa kunjungan ke desa telah menjadikanku rajin.
Riyan duduk di dekatku setelah barang terakhir masuk.
'Ayah sehat?' tanya Mama.
'Sehat. Masih bekerja seperti biasa,' jawabku. 'Kami sempat masak bersama juga.'
Aku bercerita tentang sarapan tempe dan bayam, lalu tentang piring yang kupindahkan tanpa bertanya. Mama tertawa, tetapi tidak mengatakan bahwa di rumah ini aku harus menata semuanya seperti dirinya.
'Berarti sekarang sudah tahu letak piring Ayah,' katanya.
'Sudah, Ma. Sulit dilupakan.'
Riyan tersenyum sambil minum. Aku melihat matanya mulai berat dan menghentikan cerita sebelum berubah menjadi laporan empat hari lengkap.
Kami menelepon Ayah untuk memberi tahu sudah tiba. Setelah meminta persetujuan, aku menyalakan pengeras suara agar Mama dan Riyan bisa ikut menyapa. Ayah terdengar lega, lalu menyuruh kami beristirahat.
Aku tidak bertanya apakah ia sudah kesepian.
Sesudah panggilan ditutup, Riyan membawa barang ke kamar. Aku menyusul dengan tas kecil. Kamar itu terasa akrab sekaligus sedikit berbeda setelah beberapa malam tidak kutempati.
Riyan meletakkan tas, lalu duduk sebentar.
'Mau bersih-bersih dulu?' tanyanya.
'Om dulu saja. Aku mau ambil pakaian.'
Ia mengangguk. Aku membuka tas secukupnya, memisahkan pakaian yang masih bersih. Ketika dompet terlihat, aku berhenti. Foto itu tetap ada, meskipun belum kulihat lagi.
Aku meletakkan dompet di atas meja, tidak membukanya.
Setelah bergantian membersihkan diri, kami beristirahat. Riyan memejamkan mata lebih dulu. Aku sempat berbaring, tetapi belum mengantuk. Beberapa saat kemudian aku keluar untuk mengambil air, memastikan langkahku tidak mengganggunya.
Mama sedang duduk sendiri. Ia menoleh ketika melihatku.
'Belum tidur?'
'Belum bisa. Aku tadi sempat tidur di jalan.'
Aku duduk setelah mengambil minum. Mama bertanya apakah aku sudah mendengar kabar Ayah lagi, lalu segera meralat bahwa kami baru saja menelepon.
Aku tersenyum. 'Aku juga suka lupa karena kebiasaan ingin memastikan.'
Mama mengangguk. Kami diam sebentar. Pandangannya tertahan di wajahku, tetapi ketika aku menyadarinya, ia tidak buru-buru mengalihkan mata.
'Ada apa, Ma?'
Mama mengusap tangannya sendiri.
'Tadi waktu kamu masuk, Mama senang sekali. Lalu Mama teringat Alana.'
Dadaku mengencang sedikit. Mama belum meminta apa pun, tetapi aku menunggu kelanjutannya dengan gelas berhenti di tangan.
Ia menatapku.
'Boleh Mama ceritakan sedikit, atau kamu ingin istirahat dulu?'