Aku tidak langsung tertidur. Beberapa kali suara kecil dari luar kamar membuatku membuka mata, tetapi tidak ada yang perlu kuperiksa. Ayah sudah beristirahat. Riyan pun mulai tenang di alas tidurnya. Akhirnya aku menarik selimut sampai nyaman dan membiarkan malam keempat itu berlalu.
Ketika pengingat berbunyi pagi harinya, tanganku bergerak mencari ponsel. Aku duduk sebelum tergoda mematikannya lalu kembali tidur.
Dari bawah, Riyan menoleh.
'Sudah pagi?'
'Kalau ponselku tidak berbohong.'
Ia mengusap wajah, lalu bangkit. Kami bergantian bersiap dan menunaikan salat. Setelahnya, Riyan merapikan alas tidur sementara aku memasukkan keperluan terakhir ke tas. Aku menahan satu sisi alas agar ia bisa melipatnya dengan rapi, kemudian kami mengembalikannya ke tempat yang ditunjukkan Ayah.
Tidak ada barang yang kuselipkan sembarangan supaya terlihat cepat beres. Aku memeriksa bagian bawah tempat tidur, lalu berdiri sambil menepuk lutut.
'Ada yang tertinggal?' tanya Riyan.
'Debu. Tapi bukan milikku.'
Ia tertawa. Aku menyisir rambut, mengikatnya seperti yang kuinginkan, lalu mengambil tas kecil. Dompet dan ponsel berada di dalamnya. Setelah memastikan semuanya, kami keluar.
Ayah sedang menyiapkan sarapan. Aku mengambil piring, sementara Riyan membawa barang kami ke dekat pintu lebih dulu. Ketika melihat hidangan di meja, aku mendadak merasa ingin makan sangat lambat.
Ayah menunjuk tempat dudukku.
'Jangan malah berdiri sampai makanannya dingin.'
Aku duduk. 'Aku sedang melihat.'
'Sudah melihatnya empat hari.'
'Tidak dilarang melihat lagi, kan?'
Ayah tersenyum, lalu duduk bersama kami. Riyan kembali setelah memastikan barang tidak menghalangi jalan. Kami makan tanpa membahas betapa cepat waktu berlalu setiap beberapa suap. Ayah menanyakan air minum untuk perjalanan, Riyan menjawab sudah disiapkan.
Aku hampir meminta Ayah menambah makan karena takut ia akan malas makan setelah kami pergi. Namun piringnya belum kosong. Aku menahan ucapan itu dan melanjutkan sarapanku sendiri.
Sesudah makan, aku membantu mencuci peralatan yang dipakai. Riyan membawa tas ke mobil, kemudian kembali untuk memeriksa barang terakhir. Ayah berdiri di dekat dapur, melihatku mengembalikan piring.
'Letaknya benar,' katanya.
'Aku sudah lulus bagian itu.'
'Jangan pakai kata lulus. Nanti kalau salah sedikit, kamu merasa harus mengulang semua.'
Aku menoleh, lalu tersenyum. Ayah mengatakan itu sambil mengambil lap, tidak seperti sedang membacakan nasihat. Aku mengeringkan tangan dan membiarkannya menaruh lap di tempat yang biasa.
Riyan muncul untuk memastikan tas kecilku sudah kubawa. Aku meraba saku, lalu teringat tas itu masih di kursi dekat pintu.
'Ada, Om. Bukan tertinggal.'
'Om belum bilang tertinggal.'
Ayah tertawa. Ia hendak mengambilkannya, tetapi aku lebih dulu berjalan ke depan. Bukan untuk menolak bantuannya, hanya karena kakiku sudah menuju ke sana. Ketika kembali, Ayah sedang merapikan kursi yang tadi kami pakai.
Aku tidak merebut pekerjaan kecil itu. Kami bisa berada dalam satu rumah tanpa harus berebut kesempatan membuktikan siapa yang paling berguna. Aku meletakkan tas di bahu, lalu melihat sekali lagi ke arah kamar yang sudah kami rapikan.
Ketika tidak ada lagi yang perlu dibereskan, aku berdiri terlalu lama di dapur.
Ayah melihatku.
'Sudah?'
Aku mengangguk.
'Kalau begitu, kita ke depan.'
Langkahku terasa lebih berat daripada saat datang. Riyan menunggu di dekat pintu dengan kunci mobil. Ia tidak mengingatkan waktu atau menyalakan mesin supaya aku buru-buru. Aku meletakkan tas kecil sebentar, lalu meraih tangan Ayah.
'Aku pulang dulu, Yah.'
'Iya. Hati-hati.'
Aku mencium tangannya, kemudian memeluknya. Air mata datang juga, tidak peduli betapa masuk akalnya semua percakapan kami beberapa malam terakhir.
Ayah mengusap punggungku. Ia tidak menawarkan tambahan hari. Aku bersyukur sekaligus kesal sedikit karena bagian kecil dalam diriku masih ingin ditahan.
'Aku pasti kangen,' gumamku.
'Ayah juga.'
'Kalau aku kirim pesan, tidak usah buru-buru jawab waktu kerja.'
'Iya. Kamu juga jangan terus memandangi ponsel di mobil.'
Aku tertawa sambil mengusap pipi. Nasihat sendiri ternyata lebih menyebalkan ketika dikembalikan.
Aku mengendurkan pelukan. Riyan mendekat untuk berpamitan. Ayah menyalaminya dengan kedua tangan, lalu mengucapkan terima kasih sudah datang dan tinggal beberapa hari.
'Saya juga senang bisa di sini, Yah,' jawab Riyan.
Ayah tidak mengulang pesan titipan. Ia menatap kami bergantian, kemudian mengingatkan agar beristirahat jika lelah. Aku mengangguk meski ia tidak sedang bicara hanya kepadaku.
Sebelum masuk mobil, aku menoleh lagi. Pintu rumah masih terbuka. Ada bagian diriku yang ingin kembali memeriksa apakah semua benar-benar baik, tetapi Ayah berdiri tegak di sana, menunggu kami berangkat, bukan meminta diselamatkan.
Aku duduk dan memasang sabuk pengaman. Riyan memastikan aku siap sebelum mulai bergerak. Kami melambaikan tangan. Rumah perlahan menjauh, lalu hilang setelah belokan.
Aku menatap kaca depan, berusaha bernapas tanpa suara yang aneh.
Riyan mengambil tisu dari tempat yang bisa dijangkaunya dan memberikannya sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.
'Terima kasih,' kataku.
Ia mengangguk.
Aku mengirim kabar keberangkatan kepada Mama. Setelah ponsel disimpan, aku membiarkan diri diam. Riyan tidak mengisi seluruh perjalanan dengan pertanyaan apakah aku sudah tidak sedih.
Beberapa lama kemudian, aku meliriknya.
'Om tidak bosan kalau aku diam?'
'Tidak.'
'Kalau aku menangis lagi?'
'Tisu masih ada.'
Aku tertawa kecil, lalu menyeka hidung. Ia tidak membuat tangisku terasa seperti masalah yang harus segera diperbaiki. Aku mulai bisa melihat jalan tanpa terus membayangkan pintu rumah Ayah.
Hampir dua jam berlalu sebelum Riyan mengajak berhenti. Kami turun di tempat yang memungkinkan beristirahat dengan aman. Aku meluruskan kaki, sementara ia memeriksa air minum dan duduk sejenak.
Kukirim pesan singkat kepada Ayah bahwa perjalanan lancar dan kami sedang berhenti. Kali ini aku tidak menambahkan pertanyaan tentang rumah yang kutinggalkan. Ayah pasti tahu cara melewati paginya sendiri.
Riyan meminum air, lalu menatapku.
'Masih ingin duduk?'
'Sebentar lagi.'
Ia mengangguk. Aku menatap tangannya yang memegang botol. Tangan yang sama tadi menunggu aku berpamitan tanpa berusaha menarikku pergi.
'Om,' panggilku.
'Hm?'
'Terima kasih karena tadi tidak bilang aku sudah punya suami jadi tidak perlu menangis.'
Wajahnya berubah lebih serius.
'Om tidak ingin kamu berhenti jadi anak Ayah.'
Aku mengangguk, lalu menatap jalan yang masih harus ditempuh. Rasa sedih belum hilang, tetapi ada pertanyaan lain yang mulai mendekat bersama bayangan rumah Mama.
'Kalau nanti kita sudah di rumah, aku juga tidak ingin diminta jadi seseorang yang lain.'