Aku meletakkan tanganku di atas tangan Riyan yang berada di tas.
'Terima kasih sudah mendengar.'
Ia membalik telapak tangannya perlahan. Aku membiarkan jemariku berada di sana beberapa saat, lalu melepaskannya untuk merapikan pakaian. Percakapan kami tidak harus diteruskan sampai seluruh perasaan punya jawaban pagi itu.
Riyan kembali melipat miliknya. Aku memasukkan dompet ke tas kecil yang akan kubawa dekat tempat duduk mobil. Foto di dalamnya tetap kusimpan. Aku tidak ingin membuangnya untuk membuktikan bahwa aku punya nama sendiri, tetapi aku juga tidak ingin keberadaannya menjadi alasan agar aku terus menyerupai orang lain.
Untuk sekarang, cukup bahwa aku tahu benda itu ada dan tidak harus membukanya.
Menjelang siang, tas kami sudah lebih rapi. Ada pakaian yang sengaja belum dimasukkan, ada keperluan mandi yang masih akan dipakai. Aku menaruh semuanya di sisi yang tidak menghalangi jalan.
Riyan memeriksa barang miliknya, lalu menutup tas.
'Kalau kamu membongkar lagi nanti, ingat letaknya.'
'Om seperti sudah melihat masa depan.'
'Om melihat kamu mencari baju yang baru dilipat sendiri.'
Aku mengambil pakaian yang kumaksud dari tumpukan terpisah dan menunjukkannya dengan bangga.
'Nah. Kali ini ketemu.'
Riyan mengangguk seolah aku baru memenangkan sesuatu. Aku tahu ia sedang menggoda, tetapi tetap saja aku tersenyum.
Kami makan siang, salat, lalu beristirahat. Aku tidak memakai setiap jam untuk mengejar pekerjaan rumah. Sebagian waktu kuhabiskan duduk di ruang depan, memperhatikan tempat yang dulu selalu kulihat tanpa merasa perlu mengingatnya.
Sesekali aku merasa ingin memotret semuanya. Namun aku tahu foto tidak akan menyimpan suara Ayah yang bertanya apakah aku sudah makan, atau rasa nyaman ketika duduk tanpa harus bercerita. Jadi aku meletakkan ponsel dan membiarkan diriku berada di sana.
Sore harinya Ayah pulang. Aku menyambutnya seperti kemarin, memberinya waktu berganti pakaian, lalu bertanya apakah kami bisa menyiapkan makan bersama.
'Boleh,' jawabnya. 'Tapi jangan banyak-banyak. Besok kalian berangkat.'
Aku mengangguk. Kami memilih cukup untuk makan malam dan kebutuhan yang sudah diperhitungkan Ayah, bukan membuat persediaan seolah aku akan pergi bertahun-tahun.
Di dapur, aku sempat hendak mengerjakan bagian yang sedang ditangani Ayah. Ia menoleh, lalu aku menarik tanganku.
'Maaf. Aku kira belum.'
'Yang itu saja, Kay.'
Aku berpindah ke pekerjaan yang ditunjukkannya. Riyan membawa peralatan makan ke meja. Sesekali kami saling bertanya letak barang, dan kali ini aku bisa menjawab sebagian tanpa merasa harus mengetahui semuanya.
Ketika makan, Ayah mengambil lauknya sendiri. Aku tidak memindai wajahnya setiap kali ia mengunyah. Rasanya menyenangkan makan bersama tanpa menjadikan piring sebagai rapor.
'Besok berangkat setelah sarapan?' tanyanya.
'Iya, Yah,' jawab Riyan. 'Kami tetap berhenti kalau perlu. Nanti sampai rumah kami kabari.'
'Ayah tidak usah menunggu ponsel terus,' kataku.
Ayah memandangku. 'Itu nasihat untuk Ayah atau untuk dirimu sendiri?'
'Dipakai bersama saja.'
Riyan tertawa. Aku mendorong air minum sedikit lebih dekat kepada Ayah, lalu kembali makan.
Setelah meja dibereskan, kami menelepon Mama. Aku bertanya dulu apakah Ayah mau ikut menyapa, dan ia mengangguk. Panggilan dilakukan dari ruang depan, tanpa menyembunyikan siapa yang mendengar.
Mama menanyakan kabar kami. Riyan menjelaskan rencana berangkat besok pagi, kemudian menyerahkan percakapan kepadaku. Aku menceritakan bahwa tas hampir rapi dan tidak ada piring yang berpindah lagi.
Mama tertawa setelah mendengar penjelasan singkatku. Ayah ikut tertawa, tidak menambahkan cerita memalukan lain untuk meramaikan suasana.
'Nanti kalau sudah sampai, istirahat dulu,' kata Mama.
'Iya, Ma.'
'Kamu kangen rumah?'
Aku melirik Ayah sebelum menjawab. Ia sedang memegang gelas, tidak memberi tanda agar aku memilih jawaban tertentu.
'Kangen, Ma. Tapi nanti juga kangen di sini.'
'Ya, tidak apa-apa.'
Jawaban Mama sederhana sekali. Aku sempat menunduk, merasa sedikit bodoh karena sudah menyiapkan pembelaan panjang di kepala.
Kami menutup panggilan setelah bertukar salam. Ayah meletakkan gelasnya, lalu bersandar dengan lebih santai. Riyan menanyakan apakah masih ada barang kami yang mengganggu. Ayah menggeleng.
'Yang penting jangan ada yang tertinggal. Nanti Kayla menyuruh balik.'
'Aku tidak separah itu, Yah.'
Ayah dan Riyan menatapku bersamaan.
'Baik. Kalau yang tertinggal penting, kita bicarakan,' ralatku.
Tawa mereka membuatku ikut tertawa. Malam terakhir tidak berubah menjadi sesuatu yang seluruhnya muram. Ada bagian sedih, tentu saja, tetapi ada juga gelas yang harus dibereskan dan pakaian besok yang belum disiapkan.
Ketika Riyan masuk ke kamar untuk memeriksa barang terakhir, aku duduk lebih dekat kepada Ayah.
'Besok kalau aku menangis, Ayah jangan langsung menyuruh tambah hari.'
Ayah menatapku, lalu mengangguk.
'Kalau kamu memang ingin tambah, bilang. Jangan berharap Ayah menebak dari air mata.'
'Aku mau tetap sesuai rencana.'
'Iya.'
Aku menyandarkan kepala ke bahunya sebentar. Tangannya mengusap lenganku dengan gerakan yang kukenal sejak lama. Aku tidak berjanji akan menelepon setiap kali memikirkan Ayah; itu mungkin membuat kami berdua tidak sempat melakukan apa pun. Aku hanya mengingatkan kabar yang sudah kami sepakati.
'Nanti kalau aku rindu sekali, aku bilang.'
'Ayah juga.'
Aku duduk tegak dan mencium tangannya sebelum mengucapkan selamat istirahat. Tidak ada janji bahwa aku tidak akan berubah lagi setelah pulang. Aku justru berharap ada beberapa kebiasaan yang tidak perlu kubawa kembali.
Di kamar, Riyan sedang meletakkan kunci mobil dekat barang yang akan dibawanya pagi hari. Aku memeriksa ponsel dan memasang pengingat, lalu menaruh pakaian besok di tempat yang mudah dijangkau.
'Kamu sudah siap?' tanyanya.
'Barangnya hampir. Perasaannya masih berantakan sedikit.'
Riyan mengangguk. 'Tidak harus dimasukkan ke tas semua.'
Aku tertawa, lalu membantunya memastikan jalan ke pintu tidak terhalang. Alas tidurnya masih di lantai. Besok pagi kami akan merapikannya sebelum berangkat, bukan meninggalkan pekerjaan itu untuk Ayah.
Setelah berbaring, aku mendengar suara Riyan mengucapkan selamat tidur. Aku menjawab, kemudian menatap langit-langit dalam cahaya yang redup.
Empat malam tidak membuatku berhenti merindukan Ayah. Empat malam juga tidak menghapus pertanyaan tentang diriku di dalam pernikahan ini. Tetapi ketika memejamkan mata, aku tidak lagi merencanakan cara membuat salah satu rumah kehilangan hak untuk kurindukan.
Tas kami menunggu pagi. Aku membiarkannya tetap tertutup.